Elektronik Jadul

FILE STORAGE

Jamanku dulu, dikenal yang namanya floppy disc. Bentuknya selebar buku separo. Tebalnya sekitar 1cm. Bisa ditekuk dan tentu gampang patah. Itu sekitar tahun delapan puluhan. Lalu beberapa tahun kemudian muncul dengan nama yang masih sama tapi bentuk yang lebih kecil (lih. Gambar. Sebelah kiri floppy 5.25” dan sebelah kanan floppy 3.5”). Saat itu computer juga mulai menyesuaikan drive-nya dengan tetap mempertahankan drive floppy ukuran besar.

Masa berganti lalu munculah apa yang kita kenal sekarang sebagai CD. Saat itu terkesan mewah dan belum ada pembagian VCD atau DVD, CD-R, DVD-RW dan lain sebagainya seperti sekarang. Waktu itu just CD ajah. Dan computer desktop tetap mempertahankan drive floppy yang ukuran kecil. Jadi bahkan ada desktop dengan 4 susun drive yaitu floppy 2 (kuran 3.5”) dan CD 2. Njlimet khan..

Kini jenis-jenis CD telah mengalahkan floppy yang rasanya cenderung punah sudah. Berbagai tipe CD juga belum cukup rasanya, maka muncul berbagai media penyimpan. Sebut saja flash disk dengan berbagai ukuran ruang simpan, memory card yang berbagai bentuk, juga portable harddisk dan entah apa lagi.

Jika dulu 1 floppy model 5 ¼” hanya berkapasitas maksimal 1.2MB dan floppy 3.5” berkapasitas maks. 1.44MB, maka kini sebuah flashdisk mungil saja sudah bisa mencapai 64GB dan portable hardisk yang hanya seukuran separo tebal kotak pinsil anakku bisa memiliki ruang simpan hingga 1-2 terra byte.

Dan semua itu berevolusi hanya dalam tempo sekitar 15 saja..

Floppy3.5Floppy5.25

keterangan gambar : floppy 3.5″ dan floppy 5.25″

HANDYCAM

Hingga tahun 2014, aku masih punya handycam sony yang menggunakan cassette minidv. Aku membelinya pada tahun 2005. Ditahun 2014 gadget itu sudah dianggap jadul karena dipasaran sudah banyak beredar handycam berbagai model. Ada yang kecil sebesar kotak rokok, pun ada yg stylish dengan feature komplit bisa langsung ditampilkan ke dinding.

Aku bahkan tidak bisa bayangkan saat handycam generasi awal yang bentuknya masih sebesar camera video yang biasa dipakai para cameraman TV itu. Mungkin masih mengunakan cassette VCR yang sebesar box amplop ukuran jumbo itu.

Dulu, sekitar tahun 1998-2000, penggunaan kaset mini dv, berarti kita mesti memiliki computer yang canggih untuk ukuran masa itu, lengkap dengan port dan kabel firewire agar kita bisa memindahkan isi kaset ke dalam computer. Proses pemindahan butuh waktu lama, secanggih apapun computer kita. Lalu masuklah proses editing dan rendering yang semuanya bisa menghabiskan waktu berhari-hari.

Sekarang, cukup ambil memory card dari handycam, masukkan ke laptop, download dan beres sudah. Itu mengapa aku sekarang jadi malas untuk editing dan membuatnya menjadi DVD.

sony jadul-1

Keterangan foto : handycam model kaset minidv

 

CAMERA

Era tahun 70-80 an, belum ada dikenal laptop, HP, CD, flashdisk, memory card, DLSR, LCD-LED,dll.

Maka kamera di era tersebut adalah kamera dengan negative film yang isinya terbatas. Jika kita ke toko fuji film (dari sejak aku kecil toko itu sudah ada), maka pilihannya adalah negative isi 24 atau 36, asa-100, 200 atau 400. Itu saja… Artinya, jika kita beli yang isi 24, maka setelah 24 kali jepret maka habislah dia. Adapun ASA, tergantung kita mau foto untuk nikahan atau pemandangan atau hal lain. Masalahnya, sekali kita beli, kita gak bisa mengganti film ditengah-tengah (misalnya beli film isi 24 asa 100, trus pas sudah 5 kali jepret pingin ganti ke asa 400, gak bisa. Kudu habisin dulu itu sampe 24 kali jepret).

Pernah aku saat SD dulu (sekitar tahun 80 an) pinjem kamera paman tipe ricoh manual untuk plesir ke safari garden bogor. Bentuknya seperti kamera DLSR bongsor saat ini, hanya saja itu segalanya manual, termasuk muter zoomnya. Karena modal gaya doank, walhasil 36 jepretan itu hanya 2-3 saja yg hasilnya jelas. Selebihnya blur abiz….

Kamera pocket milik ayahku adalah Minolta dibeli langsung dari Australia (kini entah dimana). Modelnya datar seperti foto dibawah. Itu blitz bsa dilepas dan tipe negative film-nya beda.

Aku sendiri pernah memiliki kamera pocket dengan automatic zoom merk canon yang sayangnya habis terbakar. Sekarang ini, rasanya sangat tidak menarik memiliki kamera dengan isi film pita negative. Ini jaman DLSR yang begitu beragam model, bentuk harga dan feature-nya. Ini jaman storage yang Cuma pake SDcard super mungil.

kamera jadul negative film

Keterangan gambar : kamera pocket seperti punya ayahku yg bisa dilepas blitz-nya itu. Lalu negative filmnya yg isi 24 atau 36.

HANDPHONE

Yang kutahu, handphone mulai marak di Jakarta sekitar tahun 1997-1998. Aku termasuk beruntung memiliki handphone jenis cdma berlabel Ericson yang bentuknya imut dan lengkap dengan “tatakan iler”. Saat itu yang namanya GSM masih diejek dengan kepanjangan Geser Sedikit Mati. Sementara cdma kita mesti bayar tiap bulan ke kantor entah di rasuna said atau mana aku sudah lupa. Para bosku memiliki GSM dengan label motorolla dan atau Ericson yang bentuknya masih sebesar HT (Handy talkie). Jadi aku tampil gaya dengan handphone cdma sony Ericson yg mungil. Tapi jaman dulu punya HP hanyalah kesengsaraan demi gaya. Pernah aku travel Surabaya Jakarta dimasa itu. Sang handphone ternyata hanya nangkep sinyal di 3 tempat. Bayangkan, 3 tempat sajah..! yaitu Surabaya, yogya, Jakarta. Selebihnya cuma buat buat maen game sambil bergaya (hallah..).

Oya satu lagi, HP lebih digunakan untuk nelpon kantor dan nelpon ke telepon kabel. Maklum, yg punya HP msh sangat jarang dan sejak kapan telepon kabel masa itu bisa terima sms?

Lalu seiring waktu berjalan, muncullah nokia yang langsung saja merajai pasar ponsel. Yang paling kuingat – karena aku juga punya saat itu – adalah handphone “sejuta umat” kalo gak salah nokia 3210i (pake huruf “i” apa enggak ya?)

Setelahnya mulailah bermunculan berbagai handphone, peningkatan feature dan variasi merek. Awalnya aku masih coba ikuti trend, karena paling cuma nada dering yang makin variatif. Namun lama kelamaan terasa semakin ribet. Muncul istilah baru semacam iphone, tablet, ponsel cerdas, galaxy note, dan banyak lagi. Nokia meredup (dan hilang), Ericson menjadi sony Ericson lalu jadi sony doank (experia), motorolla entah dimana, Samsung yang menyeruak masuk seperti juga berbagai handphone cina, dan LG yang tadinya kukenal sebatas tv kini malah termasuk jajaran handphone papan atas. Itu hanya butuh waktu singkat sekitar 15 tahun saja.

HP yang dulunya Cuma sekedar utk nelpon, lantas bisa sms, lantas bisa mms, bisa untuk medsos, dll. Mungkin bentar lagi bisa untuk remote, jadi kunci mobil, jadi sendok, dll (mungkin aja lagee…)

ericson jadul Nokia 3210

Keterangan gambar : Sony Ericson plus tatakan iler, dan nokia “sejuta umat”

GAME CONSOLE

Waktu SD aku punya teman bawa gamewatch yang model “chef”. Maksutnya game-nya itu tentang nangkep makanan pake wajan kecil. Kita sekedar geser kiri atau kanan. Game watch itu segede kotak pinsil separo. Karena main pas jam belajar dikelas, ya kami ketangkep guru dan kena human. Yang punya gamewatch Cuma dia seorang karena ortunya bolak-balik ke luar negeri (entah kerja sebagai apa). Tapi tahun berikutnya, diluar pager sekolah SD sudah ada sewaan game watch yang bisa kita sewa ketika jam istirahat atau sepulang sekolah. Game-nya juga mulai variasi seperti lompat diatas kura-kura supaya gak kecebur, popeye nolongin olive, dll.

gwatch-1

Keterangan gambar : gamewatch nolongin penerjun yg lompat dari helicopter,

Audio system

Era 70-80 an, adanya Cuma radio, kaset dan piringan hitam dan tivi. Satu-satu kita bahas ya.

Radio itu gadget umum tiap rumah tangga. Lebih dikenal sebagai radio transistor. Versi lengkap ada AM, FM dan SW (itu nama gelombang radio) plus kaset. Kalo AM itu suaranya mono, kalo FM sudah stereo dan SW cenderung siaran jarak jauh (BBC, dll tapi susah nangkepnya).

Biasanya juga pake antenna yg bisa ditarik seperti pancing (ya gak sepanjang itu juga kale..). Nyuci baju, nyetrika, ngepel, masak sampe mau tidur biasanya ndengerin radio. Itu mengapa siaran prambors atau saur sepuh versi radio bisa booming dimasa dulu.

Kaset, yang ngetop itu tokonya namanya Aquarius. Dulu ada di jl. Mahakam Jak-sel (entah sekarang). Hanya yang berduit yang sering beli kaset. Sebulan sekali sudah top. Maklum harganya waktu itu terhitung mahal. Satu kaset isinya cuma sekitar 12 lagu. Seingetku terakhir lagu-lagu kompilasi beatles sempat sampe 36 lagu di satu kaset.

Penyakit kaset adalah kadang suaranya agak “sengau” atau malah pita kelipet. Solusinya sederhana, buka aja baut kaset, lepas plastic hitam didalamnya trus pasang lagi. Hasilnya Cuma ada 2, jadi bagus lagi atau gak bagus. Kaset yg kusut memerlukan pinsil untuk digulung ulang plus waktu luang yang cukup. Pita putus juga sering dilem ake aica aibon. Ingetku, semua supir angkot ahli urusan kaset ribed kayak gini. Kadang sibuk dg kasetnya ketimbang nyari penumpang. Hehehe..

Piringan hitam beda lagi. Ini barang mewah yang gak semua punya. Aku kebetulan punya karena ayah bawa dari ostrali. Mengingat kami bukan orang kaya, jadi kemungkinan piringan hitam harganya lebih murah di luar negeri sono, entahlah..

Merk-nya Sony. Komplit dengan piringan hitam lagunya elvis Presley dan nat king cole (sama, aku juga gak terlalu akrab dengan artis jadul kok). Bentuknya udah lumayan modern (gak seperti gramafone jamannya kubilai khan. Hehe..). Ada 2 speaker besar setinggi sekitar 80 cm.

Caranya simple. Buka tutup piringan hitam sony, masukin piringan hitam dengan gently, trus langsung pencet play dan tutup dengan gently (pencetannya di dalem soalnya). Nanti alat player yang bentuknya seperti jangka panjang itu akan gerak dan turun diatas piringan. Langsung deh keluar suaranya. Kita juga bisa pilih langsung lagu ke berapa. Itu jangka panjang cukup hbat utk bisa langsung ke lagu yg dituju. Piringan hitam-nya sendiri agak susah dicari, selain juga harganya yang jauh lebih mahal ketimbang kaset. Bentuknya? Bener bener segede piring cuma tipis. Pantes aja gak ada sopir angkot yang sibuk dengan piringan htam. Hehehe..

Walkman adalah audio yang lebih maju setelah era radio transistor dan piringan hitam. Aku sampe sekarang masih simpan walkman aiwa meski sudah tidak berfungsi lagi. Tapi dulu, kalo lari pagi sambil pasang walkman di pinggang kanan (kiri juga boleh, yang penting keliatan. Namanya juga pamer), sambil pura-pura goyang kepala asyik, kesannya udah nge-boys gituh.

Beralih ke sistem audio video, yang kuingat adalah player yang namanya betamax. Ini adalah VCR (Video Cassete Recorder) atau VHS (Video Home System) jaman dulu. Saat itu menjamur cukup banyak tempat sewa kaset betamax ini. Filmnya buanyak dan sebagian besar gak jelas. Mulai dari horror serem, lucu, silat, dll. Meski masih mengginakan pita, tapi kasetnya gak gam[ang rusak.

Terakhir adalah tivi jaman dulu. Bentuknya unik. Segeda meja, malah lebih gede, lengkap dengan kaki dan tutup. Tutupnya saja juga unik, bisa digeser. Jadi kalau mau nonton, geser dulu tutupnya utk membuka, trus baru deh nyalain tivi-nya. Jangan harap bisa langsung nonton, kita musti setting channel-nya dulu dengan cara muter-muterin knob besar sebelah atas. Ada tunning kasar dan dilanjut dengan tunning halus. Maaf, tidak ada yang namanya saving channel dimasa itu. Jika kita sulit mendapat channel, itu juga bisa berarti antenna yang kurang pas diatas genteng. Untunglah dulu Cuma ada TVRI satu channel untuk seluruh Indonesia yang luas ini. Bayangin kalo kita harus setting untuk channel tivi yang seabreg seperti sekarang. Jangan lupa, habis nonton kudu dimatiin plus ditutup lagi “pintu”nya. Satu hal yang sampe sekarang mengganjal, tivinya itu mengandung 2 speaker di kiri dan kanan. Padahal siaran jaman itu gak ada yang stereo (tapi mungkin diluar negeri ada kali ye).

Begitulah wahai anak muda, beberapa gadget dan teknologi jadul. Orang bilang segalanya cenderung berubah. Memang benar sih untuk urusan yang satu ini. Tapi ada lho yang dari dulu cenderung gitu-gitu aja atau nyaris gak berubah. Misalnya gitar, payung, handuk, dll. Ya khan??

avi jadul-2 avi jadul-3 avi jadul-5 avi jadul-1 avi jadul-9 avi jadul-6

Keterangan gambar : walkman aiwa, tivi plus tutup geser, piringan hitam, Radio transistor, betamax VCR, tape compo (buat breakdance)

Salam,

Penulis

Iklan

Home Theater in Box (HTiB) : Perlu atau tidak ?

Sayangnya, penulis baru bisa mencapai kesimpulan setelah memiliki 1 set Htib. Kesimpulan tersebut adalah bahwa membeli HtiB sebenarnya masih berupa pemborosan terutama bagi yang masih bisa menikmati arena bajakan (maksudnya vcd atau dvd bajakan). Ya sudah tidak apa. Setidaknya dengan memiliki HtiB tersebut penulis bisa sedikit sharing agar ini bisa menjadi pembelajaran berguna bagi semua.

Kenapa belum perlu ?

Perhatikan bahwa Htib memiliki satu unit utama (main unit), satu subwoofer dan beberapa speaker satelite (bisa 5 atau 7). Speaker satelite ada yang kotak kecil begitu saja dan ada pula yang bentuknya tinggi langsing dan ellegant. Fungsinya sama hanya kemampuannya pasti berbeda (harganya juga beda boo).

Masalahnya adalah, seluruh HtiB barulah berfungsi optimal ketika DVD (bukan vcd lho) yang dimainkan itu asli dan sudah memiliki kemampuan Dolby dan atau DTS 5.1 channel (minimum) . Jika tidak, ini sama saja dengan mendengar audio stereo biasa seperti juga kita mendengar MP3 atau CD Audio biasa. Maka ini sama saja dengan menggunakan gitar listrik ibanez untuk ngamen (nah lho !).

Apa kelebihan HtiB ?

Kelebihannya Cuma satu : bisa menampilkan suara di belakang dan di samping audience (pendengar). Istilahnya surround gitu loh. Tapi pertanyaan penting bagi calon pembeli HtiB adalah : Apakah menikmati suara surround itu merupakan suatu hal yang diinginkan sekali atau tidak?  (jangan lupa duit-nya bukan hanya untuk HtiB, tapi juga musti ada duit untuk sewa atau beli DVD original yang notabene harganya tus-tus ribu lho). Kenapa VCD original tidak bisa ? Ya karena tidak memiliki feature Dolby dan atau DTS tadi itu. Kenapa ? mungkin karena kapasitas keping vcd kalah jauh dengan dvd. Kok bisa ? ya udah terima aja, daripada nanya mulu…Tapi ada tambahan penting. Saya alami sendiri, untuk DVD rental ternyata tidak ada masalah. Semua DVD rental yang original yang saya pinjam selalu oke. Tapi tidak demikian dengan DVD original yang saya beli. Beberapa DVD original (seharga sekitar 80 rebu) sama sekali tidak menjalankan fungsi HtiB alias hanya bisa sekedar suara stereo kiri kanan depan doank.

Walhasil, HtiB hanya berlaku untuk DVD yang asli plus original sajah…

Apa sih Surround, Dolby, DTS ?

Sebenarnya ngga’ usah njlimet banget sih. Penjelasan komplet bisa dicari via google atau langsung ke web mereka. Tapi, secara sederhana mungkin begini : kalo kita nonton film perang (misalnya), maka suara tembakan akan bisa terdengar di mana mana. Bisa di depan tengah, samping kiri, depan kanan, tergantung penempatan speaker satelite. So pasti kalo itu speaker dijajar seperti yang kita lihat di rak penjual Htib, maka efek surround tidak akan terasa.

Dolby (digital, pro logic, pro logic II, EX, dll) maupun DTS (ES) sebenarnya sama saja. Itu seperti sepatu adidas dengan puma atau amd dengan intel. Katanya sih masih perdebatan mana yang lebih baik. Tapi buat pemilik kuping dengan selera “Low-end” seperti saya gini mah pasti rasanya sama saja.

Dolby Digital and DTS are similar systems. Both use a lossy compression system and in their 5.1 varieties, each offers the DVD producer two bit rates. Most Dolby Digital DVDs use 384kb/s but some use 448kb/s, which Dolby says is the maximum possible on a DVD. DTS can come at the original rate of 1536kb/s or the half-rate of 768kb/s (eg. Gladiator, Santana: Supernatural Live and all of
Columbia TriStar Superbit DVDs).
Begitu menurut pakar yang kubaca. 

Nah, sudah pasti gendang telinga ini masih belum faham membedakan kbps begituan. Paling banter saya kagum, senang, asyik mendengar suara-suara datang dari sekeliling kita. Tapi coba suruh merem matanya dan membedakan ini DTS ES atau Dolby EX, pasti deh ga’ tau.

Penutup

Jadi, jangan buru-buru menentukan merk (sony, LG, samsung, panasonic, whatever). Tapi pastikan dulu memang itu dibutuhkan. Ini belum lagi membahas ruangannya yang katanya mesti khusus, kabel yang menyusahkan, dan levelling speaker. Sementara kocek untuk rental dvd, jika 1 kaset 10 ribu, jika seminggu pinjam 1 kaset, maka sebulan paling tidak 40 ribu. Kenyataannya, angka itu selalu terlampaui.

Satu lagi yang penting juga, dari dulu telinga manusia itu cuma dua, kiri dan kanan. Itu awal kisah perubahan mono ke stereo. Dengan dua telinga kita bisa deteksi apakah sumber suara berasal dari kanan belakang agak atas atau samping kiri agak belakang bawah.

Sementara, trend kedepan sudah mulai banyak bermunculan model 7.1 channel. Entah sampai berapa speaker dibutuhkan untuk yang namanya sebuah indera bernama pendengaran.

Salam,

Penulis