Namanya bu Solikhin

(Sebuah kisah nyata tentang kebaikan hati)

Ditulis tgl 22 Oktober 2016

 

ka bandung

Pertengahan Juli 2016. Libur hampir usai. Bandung baru saja kami tinggalkan. Kami berempat – aku, isteriku dan kedua anak kami – berada dalam kereta Parahyangan dari Bandung menuju Jakarta. Kereta ini sungguh tepat waktu. Jam delapan tepat ia bergerak dari stasiun Bandung. Wajah-wajah eksekutif yang super sibuk jelas terlihat diselingi wajah para pelajar kelas menengah atas. Maklum, tiket kereta Parahyangan ini memang tergolong mahal.

Ini hari bersejarah bagi kami. Anak sulung kami akan memulai sekolah di sebuah SMA boarding di Tangerang. Meski ada keluargaku dan juga keluarga isteriku yang berdomisili di Jakarta, tetap saja rasa bahwa anak akan jauh dari kami menjadi rasa yang mengharu biru.

Kereta bergerak konstan demi ketepatan waktu. Satu persatu stasiun dilewati dan akhirnya kami sampai di stasiun terakhir Gambir. Memesan 2 potter untuk membantu mengangkat koper dan kami tergopoh-gopoh turun dari kereta. Suasana metropolitan yang penuh ketergesaan sangat terasa. Akhirnya aku dan isteriku memutuskan makan saja dulu di satu restaurant cepat saji yang ada di stasiun ini.

Suasana restauran tidak ada yang istimewa hingga aku menyadari saat isteriku berbisik kecil, “Mas, Rangga kehilangan dompetnya”. Aku terkejut dan menoleh kepada anakku yang sulung. “Rangga kehilangan dompet ?” aku bertanya. Rangga tidak menjawab. Aku sadari bahwa itulah mengapa dia tetap menggunakan kacamata hitamnya. Rangga sedang menangis.

Jarang anakku menangis. Dia setegar karang, namun hatinya selembut salju. Maka aku tahu bagaimana menangani suasana semacam ini.

“Sudah gak papa. Sini, duduk dekat ayah” aku meraihnya untuk duduk dekat denganku. “Yang namanya hilang ya sudah, ndak usah dipikirin. Nanti kita ganti dompetmu plus isinya. Lagipula, toh tidak ada kartu penting seperti ktp, sim dan semacamnya.” Aku mencoba menenangkannya namun tampaknya Rangga masih galau.

“Mama mau ke toilet sama adik. Rangga ikut ?” Isteriku mengajak dan Rangga membalas mengangguk. Mereka bertiga pergi menuju toilet. Itu cara yang cukup jitu untuk menenangkan Rangga.

Tak lama mereka sudah hadir kembali, bersamaan dengan pesanan makan yang datang. Selama sesi makan aku coba ngobrol ringan dengannya. Fakta cukup mengagetkan bahwa ternyata Rangga khawatir diriku akan gusar karena keteledorannya. Sama sekali tak kusangka bahwa anakku sangat perasa. Padahal rasanya aku tidak pernah sekalipun membentak atau bahkan memukul anak-anakku.

Aku tegaskan bahwa aku tidak gusar maupun marah. Nantilah kita beli lagi dompet baru dan diisi lagi. Adapun kartu pelajar, mudah saja kita mintakan lagi ke sekolah SMP-nya.

Dalam taksi Rangga sudah tidak terlalu galau. Kami mampir ke bank terdekat untuk memblokir ATM-nya. Ternyata, pihak bank dengan mudah memblokir dan bahkan memberikan ATM baru. Satu hal yang cukup mengurangi galau anakku.

Dompet itu sendiri entah jatuh di kereta atau di stasiun. Yang pasti memang hilang karena sudah dicek tidak ada di tas maupun koper. Hari berikutnya kami sempat ke toko dan dompet baru telah mengisi saku celana Rangga kembali. Lengkap dengan ATM baru dan uang pengganti dari kami. Hari berikutnya diisi dengan kesibukan memasuki sekolah baru.

Akhirnya kami bertiga kembali pulang ke Samarinda. Rangga tinggal di asrama sekolah. Beberapa bulan lagi kami akan kesana atau Rangga yang akan berlibur pulang.

Namun, tiba-tiba saja tiga hari sejak kami tiba di Samarinda, isteriku menerima telepon dari bekas sekolah SMP Rangga di samarinda. Pihak sekolah menanyakan adakah Rangga kehilangan dompet? Soalnya ada yang menghubungi sekolah dan mengatakan menemukan dompet Rangga. Isteriku mengiyakan. Namun sayangnya, pihak sekolah lupa menanyakan nomer si penelpon. Pihak sekolah cukup berhati-hati karena mengkhawatirkan banyaknya kasus penipuan belakangan ini. Walhasil, kami tidak bisa mengontak balik si penelpon yang menemukan dompet Rangga.

Saat aku diceritakan, diriku cukup jengkel. Bagaimana mungkin pihak sekolah lupa tidak menanyakan identitas si penelpon? Tapi isteriku mengatakan dengan sabar, kalau toh memang berniat mengembalikan maka tentu si penelpon akan menghubungi kembali. Tapi aku tidak yakin. Dompet itu tertinggal di kereta Parahyangan. Pasti tidak pernah bakal kembali. Sama halnya jika dompet itu terjatuh di stasiun, sudah sebaiknya memang dilupakan saja. Aku ingat pernah mengatakan kepada Rangga, jika dompet itu milikmu, tentulah akan kembali. Jika tidak kembali, ikhlaskan saja. Ambil hikmahnya. Mungkin kita kurang bersedekah.

Seminggu kemudian, ketika kami sudah benar-benar melupakan (dan mengikhlaskan), datanglah sepucuk surat diterima dan langsung dibaca oleh isteriku. Ia lalu menunjukkan surat itu padaku saat aku pulang dari kantor. Sepucuk surat yang ditujukan kepada orang tua Rangga, berasal dari seorang ibu bernama ibu Solikhin (mungkin nama suaminya).

Surat yang sederhana ditulis dalam huruf latin bersambung khas orang jaman dulu. Kalimatnya sangat bersahaja. Surat yang bercerita bahwa anaknya yang bekerja di Kereta Api telah menemukan dompet. Dari kartu pelajar diperoleh nomer telepon sekolah asal. Namun tampaknya pihak sekolah tidak tahu perihal dompet ini sehingga dibuatlah surat. Pada baris terakhir beliau menulis, “tolong bisa diambil ke rumah saya ya. Kasihan Rangga”.

“Kasihan Rangga..” betapa mulia dan bersahaja ibu Solikhin ini.

Beliau mencantumkan alamat rumah dan nomer telepon. Isteriku segera menghubungi kakaknya yang tinggal di Bandung. Juga menelpon ibu Solikhin. “Ibu, dompetnya nanti akan diambil kakak saya. Terima kasih banyak ibu sudah mengirim surat”.

Satu-dua hari kemudian, kakak iparku (kakak dari isteriku) ke rumah ibu Solikhin. Ia disambut oleh sepasang orang tua yang sungguh sangat baik. Bapak Solikhin bahkan menawarkan memijat kakak iparku. “Saya ini sering diminta memijat orang. Tampaknya mas sedang kecapekan. Bagaimana kalau saya pijat?”

Kakak iparku menolak dengan halus tawaran pijat itu. Ia kemudian menyampaikan bahwa isi dompet kiranya silahkan diambil saja. Ia cukup menerima dompet, ATM serta kartu pelajar. Namun ternyata bu Solikhin menolak tegas. Sepersenpun ia tidak mau. Demikian juga pak Solikhin. “Kasihan Rangga, jumlah uang ini sangat banyak. Tentu diperlukan untuk sekolah”, demikian jawaban mereka.

Uang di dompet sekitar 1-2 juta. Uang tabungan Rangga serta tambahan dari kami untuk bulan pertama di asrama. Sungguh mulia hati kedua orang tua itu. Saat kakak iparku bercerita kepada isteriku lewat telepon, ia menyarankan kami untuk membelikan sarung atau oleh-oleh lain yang kiranya dapat diterima oleh keluarga itu. Masalahnya, kapan kami berkesempatan kesana? Paling cepat setahun lagi. Itupun jika kami ada rencana ke Bandung lagi.

Tapi kami berjanji, kami akan luangkan waktu menemui mereka, para malaikat Rangga..

 

 

 

Iklan

Pendidikan Agama di Sekolah dan di Rumah : Seberapa penting ?

Agama disini lebih dimaksudkan tentang moral, akhlak, etika, kesantunan, dan hal semacam itu.
Menjawab penting atau tidaknya peran pendidikan agama– dikaitkan dengan moral, akhlak dan etika – maka jawabannya tergantung dari dampak yang muncul di masyarakat.
Lihatlah misalnya, berapa banyak (quantity) dan berapa parah (quality) kasus tawuran, seks bebas, narkoba, penganiayaan dan hal semacam itu yang sudah terjadi di masyarakat.
Bila itu banyak (quantity maupun quality) dilakukan oleh orang dewasa, maka itulah hasil pendidikan agama mereka dahulu. Itulah hasil “pemahaman” mereka atas agama.
Jika ini juga banyak (quantity maupun quality) terjadi pada para pelajar, maka itulah juga hasil “pemahaman” mereka atas agama.
Pemahaman atas agama yang menyangkut akhlak, moral dan etika apabila dipahami secara utuh dan benar, secara logika sederhana, tentu paling tidak dapat mengeliminir perilaku buruk tadi.
Sekarang kita melihat, atas nama demokrasi mereka berkelahi di ruang sidang, menjelek-jelekkan seseorang di ‘mimbar bebas’ yang dapat berupa aula kampus, jalan-jalan protokol atau pojok warung kopi. Adakah pemahaman ‘ghibah’ telah sampai hingga mampu berlaku santun ?
Lima atau delapan tahun lalu beberapa SMU sudah saling menjadi musuh bebuyutan di meetropolitan sana. Beberapa tahun kemarin kasus perploncoan nyata sudah begitu mengenaskan. Lalu tawuran itu merambah ke dunia para mahasiswa/i. Atas nama gengsi, demokrasi, atau apapun namanya.
Dilingkungan lebih rendah dari alam pendidikan, kini marak kasus smack down.
Ini miris. Belum lagi ditambah kelakuan bejat anggota dpr yang selingkuh atau tingkah “nyleneh” poligami-nya sang publik figur.
Lalu bagaimana?
Solusinya ada di pendidikan agama, entah dirumah, di sekolah, dikantor, di warnet, dimanapun itu. Janganlah jika ada anak yang kena korban smackdown lalu yang lain meradang dan minta agar stasiun tv berhenti menayangkan itu. Bukannya tidak boleh, tapi itu saja belum cukup. Perlu ada yang lebih mendasar. Kita toch tidak bisa menyalahkan anak, guru atau institusi apapun atau bahkan diri sendiri ketika anak kita menjadi korban narkoba. Itu mesti dikendalikan dari awal, dari hulu dan konsisten.
Caranya?
Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang, dan – satu lagi jangan lupa – mulai dari keluarga terdekat.

Agama dalam Keluarga
Dulu ketika kecil, alhamdulillah saya dibiasakan shalat maghrib berjamaah dengan ayah dan bunda. Setiap malam jumat, habis shalat maghrib kita sama-sama baca Yasin dipimpin Ayah.
Hasilnya terasa hingga sekarang sudah memiliki momongan. Ternyata, ini adalah hal-hal kecil sangat jitu bila diterapkan dengan konsisten.
Setiap minum susu “Allahumma Bariklana” dulu, setiap mau jalan-jalan, ketika start mobil atau motor, “Bismillahi majrooha” dulu, setiap mau bobok “bismikallaahumma ahya” dulu, dan sebagainya.
Makan bersama, main PS bersama, nonoton TV bersama, baca koran bersama, dan kebersamaan lainnya (termasuk shalat bersama)
Memberi penjelasan sederhana atas hal-hal etika moral.
Semua hal kecil yang dilakukan konsisten, ternyata (berdasarkan pengalaman pribadi lho) mampu meresap ke diri anak hingga dewasanya. Maka kemudian, ketika si anak sampai ditahap mesti memutuskan sendiri, hal-hal kecil tadi akan setidaknya menjadi filter yang baik bagi keputusan yang diambilnya.
Ada cerita menarik dari seorang teman yang masih bujang :
Alkisah dia (sebutlah si A) diajak bos-nya nginap disuatu hotel (tempat dan nama hotel tidak usah disebut ya). Lalu ketika malam tiba, telpon dikamarnya berdering. Rupanya dari si Bos yang katanya nanti sekitar jam 1 malam akan ada yang datang utk “nemani”. Si A ini mengerti tapi masalahnya dia ‘baru’ dalam hal seperti ini.
Maka jam satu malem, pintunya diketok. Masuklah seorang yang ‘semlohay’. Si A tergiur dan mulailah acara ‘buka-buka-an’. Tapi ujug-ujug (tiba-tiba) si A inget dia belum shalat isya. Ujug-ujug juga dia inget mamahnya yang biasanya mengingatkan bila ia belum shalat isya.
Ujung cerita, si A ngga’ berani melakukannya. Ia usir si ‘semlohay’ dengan cara baik-baik. Ia keringat dingin (katanya) dan semalem itu ngga’ bisa tidur…

Agama di Sekolah
Kasus Smack down adalah contoh paling gampang dan paling update atas perlunya pendidikan etika agama di sekolah. Menyalahkan tayangan TV? Sah saja, tapi andai pendidikan moral agama tadi berhasil terpahami di sekolah, tentulah hal semacam ini mapu tereliminasi cukup signifikan (paling tidak dari segi jumlah dan kulaitas keparahan).
Ini bukan berarti memojokkan pendidikan agama yang sekarang diterapkan. Tapi mungkin bisa menjadi masukan bagi sistem pendidikan moral agama di sekolah.
Mulai dari playgroupnya, TK hingga perguruan tinggi nantinya. Logika sederhananya bila seorang anak sudah “tidak bermutu” pendidikan etika moralnya, maka ketika SD dia bersmack down ria, di SMP mulai ‘nggerogoti’, di SMA belajar tawuran atau narkoba, di kuliah sama saja dan ketika jadi ‘orang’ maka ter-ejawantah semua deh. Bila jadi anggota dewan ia gampang bikin keributan yang ngga’ jelas. Jadi polisi akan menyiksa pesakitan. Jadi guru (wah, kasian muridnya deh), jadi hakim atau pengacara…entahlah
 

Resume
Dari itu semua, maka wajar jika pendidikan moral etika agama dimulai dari kedua orang tua. Bagaimana kita membimbing dan mengawasi serta memberi tauladan.
Kemudian di sekolah (karena nyaris ½ waktu hidupnya disekolah). Bagaimana sistem dan pengguna sistem tsb berhasil memberikan pemahaman etika moral yang teresapi oleh si anak.
Barulah faktor lain berperan kemudian

Wassalam,
Penulis

Pendidikan Agama di Sekolah dan di Rumah : Seberapa penting ?

Agama disini lebih dimaksudkan tentang moral, akhlak, etika, kesantunan, dan hal semacam itu.

Menjawab penting atau tidaknya peran pendidikan agama– dikaitkan dengan moral, akhlak dan etika – maka jawabannya tergantung dari dampak yang muncul di masyarakat.

Lihatlah misalnya, berapa banyak (quantity) dan berapa parah (quality) kasus tawuran, seks bebas, narkoba, penganiayaan dan hal semacam itu yang sudah terjadi di masyarakat. Bila itu banyak (quantity maupun quality) dilakukan oleh orang dewasa, maka itulah hasil pendidikan agama mereka dahulu. Itulah hasil “pemahaman” mereka atas agama. Jika ini juga banyak (quantity maupun quality) terjadi pada para pelajar, maka itulah juga hasil “pemahaman” mereka atas agama.Pemahaman atas agama yang menyangkut akhlak, moral dan etika apabila dipahami secara utuh dan benar, secara logika sederhana, tentu paling tidak dapat mengeliminir perilaku buruk tadi.

Sekarang kita melihat, atas nama demokrasi mereka berkelahi di ruang sidang, menjelek-jelekkan seseorang di ‘mimbar bebas’ yang dapat berupa aula kampus, jalan-jalan protokol atau pojok warung kopi. Adakah pemahaman ‘ghibah’ telah sampai hingga mampu berlaku santun ?Lima atau delapan tahun lalu beberapa SMU sudah saling menjadi musuh bebuyutan di meetropolitan sana. Beberapa tahun kemarin kasus perploncoan nyata sudah begitu mengenaskan. Lalu tawuran itu merambah ke dunia para mahasiswa/i. Atas nama gengsi, demokrasi, atau apapun namanya.

Dilingkungan lebih rendah dari alam pendidikan, kini marak kasus smack down.Ini miris. Belum lagi ditambah kelakuan bejat anggota dpr yang selingkuh atau tingkah “nyleneh” poligami-nya sang publik figur.Lalu bagaimana?

Solusinya ada di pendidikan agama, entah dirumah, di sekolah, dikantor, di warnet, dimanapun itu. Janganlah jika ada anak yang kena korban smackdown lalu yang lain meradang dan minta agar stasiun tv berhenti menayangkan itu. Bukannya tidak boleh, tapi itu saja belum cukup. Perlu ada yang lebih mendasar. Kita toch tidak bisa menyalahkan anak, guru atau institusi apapun atau bahkan diri sendiri ketika anak kita menjadi korban narkoba. Itu mesti dikendalikan dari awal, dari hulu dan konsisten.Caranya?

Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang, dan – satu lagi jangan lupa – mulai dari keluarga terdekat. 

Agama dalam Keluarga

Dulu ketika kecil, alhamdulillah saya dibiasakan shalat maghrib berjamaah dengan ayah dan bunda. Setiap malam jumat, habis shalat maghrib kita sama-sama baca Yasin dipimpin Ayah.

Hasilnya  terasa hingga sekarang sudah memiliki momongan. Ternyata, ini adalah hal-hal kecil sangat jitu bila diterapkan dengan konsisten.

Setiap minum susu “Allahumma Bariklana” dulu, setiap mau jalan-jalan, ketika start mobil atau motor, “Bismillahi majrooha” dulu, setiap mau bobok “bismikallaahumma ahya” dulu, dan sebagainya.

Makan bersama, main PS bersama, nonoton TV bersama, baca koran bersama, dan kebersamaan lainnya (termasuk shalat bersama)Memberi penjelasan sederhana atas hal-hal etika moral.

Semua hal kecil yang dilakukan konsisten, ternyata (berdasarkan pengalaman pribadi lho) mampu meresap ke diri anak hingga dewasanya. Maka kemudian, ketika si anak sampai ditahap mesti memutuskan sendiri, hal-hal kecil tadi akan setidaknya menjadi filter yang baik bagi keputusan yang diambilnya.
 

Ada cerita menarik dari seorang teman yang masih bujang :Alkisah dia (sebutlah si A) diajak bos-nya nginap disuatu hotel (tempat dan nama hotel tidak usah disebut ya). Lalu ketika malam tiba, telpon dikamarnya berdering. Rupanya dari si Bos yang katanya nanti sekitar jam 1 malam akan ada yang datang utk “nemani”. Si A ini mengerti tapi masalahnya dia ‘baru’ dalam hal seperti ini.

Maka jam satu malem, pintunya diketok. Masuklah seorang yang ‘semlohay’. Si A tergiur dan mulailah acara ‘buka-buka-an’. Tapi ujug-ujug (tiba-tiba) si A inget dia belum shalat isya. Ujug-ujug juga dia inget mamahnya yang biasanya mengingatkan bila ia belum shalat isya.Ujung cerita, si A ngga’ berani melakukannya. Ia usir si ‘semlohay’ dengan cara baik-baik. Ia keringat dingin (katanya) dan semalem itu ngga’ bisa tidur… 

Agama di Sekolah

Kasus Smack down adalah contoh paling gampang dan paling update atas perlunya pendidikan etika agama di sekolah. Menyalahkan tayangan TV? Sah saja, tapi andai pendidikan moral agama tadi berhasil terpahami di sekolah, tentulah hal semacam ini mapu tereliminasi cukup signifikan (paling tidak dari segi jumlah dan kulaitas keparahan).

Ini bukan berarti memojokkan pendidikan agama yang sekarang diterapkan. Tapi mungkin bisa menjadi masukan bagi sistem pendidikan moral agama di sekolah.

Mulai dari playgroupnya, TK hingga perguruan tinggi nantinya. Logika sederhananya bila seorang anak sudah “tidak bermutu” pendidikan etika moralnya, maka ketika SD dia bersmack down ria, di SMP mulai ‘nggerogoti’, di SMA belajar tawuran atau narkoba, di kuliah sama saja dan ketika jadi ‘orang’ maka ter-ejawantah semua deh. Bila jadi anggota dewan ia gampang bikin keributan yang ngga’ jelas. Jadi polisi akan menyiksa pesakitan. Jadi guru (wah, kasian muridnya deh), jadi hakim atau pengacara…entahlah

Resume Dari itu semua, maka wajar jika pendidikan moral etika agama dimulai dari kedua orang tua. Bagaimana kita membimbing dan mengawasi serta memberi tauladan.Kemudian di sekolah (karena nyaris ½ waktu hidupnya disekolah). Bagaimana sistem dan pengguna sistem tsb berhasil memberikan pemahaman etika moral yang teresapi oleh si anak.

Barulah faktor lain berperan kemudian 

Wassalam,

Penulis

Anak adalah …

Anak-ku adalah :

Kahlil Gibran berpendapat bahwa “anakmu bukan anak-anakmu, Mereka anak-anak alam. Engkaulah busur dan mereka anak panahnya”

Tapi bagi saya tidak hanya itu. Anak memiliki banyak peran dan sangat dominan (baca : sangat berarti). Berikut beberapa yang saya rasakan :

  1. Anak sebagai GURU
  2. Anak sebagai PELINDUNG
  3. Anak sebagai SAHABAT
  4. Anak sebagai PARTNER / REKAN SEJAWAT
  5. Anak sebagai PEMIMPIN
  6. Anak sebagai COBAAN
  7. Anak sebagai PERMATA (HATI)
  8. Anak sebagai TITIPAN

Anak sebagai GURU

Suatu saat sempat juga aku ikut training sejenis seven habit atau semacam itu. Intinya kita diajari bagaimana kita bisa kontrol emosi, kontrol perilaku dan lain-lain, dan sebagainya.

Esok paginya seperti biasa bangun pagi, mandi dan bersiap ke kantor. Lha kok sang bayi “kriyep-kriyep” bangun (kriyep-kriyep : bangun dengan mata berat karena masih ngantuk). Dia lihat wajah kami (ayah dan ibunya) dan coba tebak apa reaksinya? Sang bayi itu tersenyum.

Pernahkah kau melihat senyum bayi? Itulah “anugerah terindah” Tuhan kepada para orang tua. Tapi bukan itu masalahnya. Coba sekarang bandingkan dengan si ayah. Begitu bangun tidur sudah repot bersiap-siap. Fikirannya sudah macem-macem (dan biasanya ruwet). Tampangnya juga ngga’ bisa senyum. Coba perhatikan diri kita sendiri. Kapan kita pernah tersenyum saat memulai pagi (baca : bangun tidur) ? seberapa sering ?

Sang bayi kecil mengajarkan saya bagaimana bersikap, berperilaku. Ia tidak hanya menjadi instruktur training, tapi memberi contoh langsung di kehidupan sehari-hari.

Dari situ saya mulai belajar hidup yang benar. Belajar dari guru saya tersayang. Jika ada guru yang paling saya sayangi, dialah orangnya, anak saya sendiri. Karena guru ini memberi contoh-contoh langsung dari banyak hal yang justru sering lepas dari perhatian.

Anak sebagai PELINDUNG

“Bismillahi majrooha wamursahaa inna robbii la ghafuurur rahiim”. Itulah doa yang selalu dibaca anakku ketika motor akan berangkat. Akibatnya aku yang tadinya tidak pernah berdoa mulai ikut-ikutan juga (kalo ngga’ ikut, nanti ngga’ diajak main PS). Dan sejak itu aku selalu merasa aman. Pernah dan sering kejadian “nyaris”. Namun tidak pernah menjadi celaka. Selalu saja aku percaya bahwa andai anakku tidak ikut, maka boleh jadi akupun tidak berdoa dan boleh jadi yang semula “nyaris” tadi malah menjadi “tragis”.

Tinggal diri kita sendiri. Bagaimana mempercai semua itu. Anak sebagai guru, pelatih, pembimbing, dan lain sebagainya. Tanyakan hati kita. Hanya saja, sayangnya hati yang buram kadangkala menampilkan bayangan yang juga buram, membiaskan nilai-nilai kebenaran…(bersambung)

Salam,

Penulis