Film “Sepatu Dahlan”

spatu dahlan

spatu dahlan-4

spatu dahlan-5

Film yang cukup bagus. Setidaknya memberi tambahan inspirasi bagi keluargaku tentang beberapa hal semisal definisi “melarat”, sayang kepada bunda, kerja keras, kasih sayang adik-kakak, dll

Yang menarik, sutradara film ini sama dengan film “Edensor”, dengan hasil yang menurut saya sangat berbeda antara kedua film tersebut.

Ditengah maraknya film nasional bertema perjuangan seseorang dari nol hingga sukses-nya, film ini juga tidak jauh dari hal itu. Sebut saja misalnya film “Ainun Habibie”, “Laskar pelangi”, “Negeri Lima menara” yang semuanya memiliki tema pokok yang sama. Tentu saja ini adalah positif agar penonton Indonesia kiranya bisa memetik banyak hikmah dengan menonton film semacam ini. Juga kenyataan bahwa film-film ini mestinya dapat menjadi tandingan ditengah maraknya telenovela “klasik” semacam sinetron korea yang di TV itu.

Jujur saja, tadinya anak-anak lebih memilih film “Kapten Amerika” yang waktu tayangnya bersamaan. Untungnya kehabisan tiket sementara tiket film “Sepatu Dahlan” masih ada. Menjadi menarik bahwa film “Kapten Amerika” justru bisa lebih menyedot penonton lokal ketimbang film “Sepatu Dahlan” yang nota bene lebih sarat akan hikmah bagi keluarga.

Beberapa tokoh dalam film tersebut memang terasa “belum matang” dalam pendalaman karakter masing-masing. Tapi tentu tidak fair jika sebagai pembandingnya adalah Tom Hanks dalam “Cast away” misalnya. Namun setidaknya, sang sutradara (Beni Setiawan) cukup jeli dengan memperkuat kelucuan pada tokoh “kadir” (Sarono Gayuh Wilujeng) untuk menjaga kesegaran film itu sendiri. Penting dicatat (dan dilacak diinternet jika kurang percaya) bahwa ternyata Gayuh sang tokoh Kadir ini benar-benar dari ndeso (ayahnya adalah seorang buruh tani) yang belum pernah casting.

Sedikit kritik ketika sang guru bercerita tentang bilal yang terasa berkepanjangan dan mampu membuat seisi kelas menangis tersedu. Terasa terlalu berlebihan. Juga setting kamera ketika anak-anak bermain diatas lori tebu yang berjalan. Adegan yang mestinya menarik andai dibuat lebih indah lagi.

Keseluruhan, film ini jelas pantas dan sangat direkomendasikan bagi segenap keluarga Indonesia. Agar seluruh anak menjadi termotivasi untuk bisa menjadi tuff, survive dan berhasil dalam perjalan hidup mereka kelak. Amiin..

 

Review film : “Sepatu Dahlan” adalah trilogy yaitu “Sepatu Dahlan”, “Surat Dahlan” dan “Senyum Dahlan”. Sebagai film pertama, “Sepatu Dahlan” mengisahkan bagaimana seorang anak bernama Dahlan (iskan) memimpikan memiliki sepatu saat akan memasuki SMP. Juga keinginannya yang mesti kandas untuk bisa masuk SMP negeri Magetan dan hanya bisa masuk pesantren saja. Dengan ekonomi kelas bawah yang dimiliki, Dahlan berjuang keras menapak hidup tanpa mengeluh. Wafatnya sang Ibu membuatnya makin kuat menjaga adik tercinta. Dan saat akhirnya Dahlan mendapatkan sepatu dari sumbangan beberapa guru dan siswa, justru ia menangis karena ia tidak menginginkan cara seperti itu. Dan ketika sang ayah akhirnya mampu memberinya sepatu sederhana, maka sepatu miliknya dilimpahkan kepada sang adik tercinta. Sayapun menangis beberapa kali saat menonton film ini. Dan khabarnya, sang Dahlan Iskan juga menangis saat menyaksikan tayang perdana. Sayangnya, film ini khabarnya sempat “hilang” karena diedarkan saat pemilu dan sang tokoh sedang nyapres. Sebenarnya, bagus juga jika musim nyapres diberikan suguhan film based on true story masing-masing calon, khan jadi lebih bisa dikenal oleh para pemilihnya. Tentu sepanjang tidak ada kebohongan dalam filmnya.

Berikut lagu Dahlan saat ia meninabobokkan adiknya : “Wes cep menengo adekku.. Kae bulane ndadari.. Koyo buto nggegilani.. Lagi nggoleki cah nangis” (Sudah diamlah adikku.. Itu bulannya bulat besar.. Seperti raksasa yang menakutkan.. Sedang mencari anak yang menangis)

 

Wassalam,

Penulis

 

Iklan

SIlahkan Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s