Oleh-oleh Jumatan : 21 Februari 2014

6 Perusak Hati

 

mimbar

Siang itu panas, tapi cukup sejuk didalam mesjid luas itu karena jejerang kipas angin besar di plafond menyentorkan banyak aliran udara.

Dan tentu saja, seperti kau juga selalu melihat di banyak belahan mesjid manapun di Indonesia, mayoritas umat yang terkantuk-kantuk dari kombinasi sempurna udara panas diluar, sejuknya air wudhu dan sentran kipas (apalagi andai mesjid ber-AC) hingga bisingnya suara ngaji yang keluar dari pengeras suara tidak mampu meredakan kantuk yang gegap menjelma (menarik juga untuk membahas sound system mesjid yang mudah-mudahan bisa saya ulas dalam artikel terpisah).

Saya termasuk dalam jajaran umat yang ngantuk tadi. Tambah lagi bagi kita yang akhirnya terbiasa dengan sang khotib yang itu-itu juga. Boleh saja khotib berganti, tapi paling-paling idem saja. Tema-nya, intonasi-nya, gaya-nya, semua bagiku hanya menjadi pelengkap syarat ngantuk. Satu lagi alasan para pengantuk saat jumat adalah kepercayaan bahwa sang setan bakalan kembali menggoda (dengan jurus angin kantuk nan lembut). Konon setan tak tahan dengan suara azan sehingga lari menjauh. Namun bila azan selesai katanya mereka akan kembali untuk menggoda. Percaya? Saya termasuk percaya karena bisa dibuktikan dengan sangat sederhana.

Itu ada dalam artikelku yang lalu. Coba kita tanyakan pada umat, setelah beberapa waktu berselang dari selesainya shalat Jumat. Pertama, tanyakan surah apa di rakaat pertama dan surah apa di rakaat kedua. Kedua, tanyakan apa saja isi khutbah yang nempel dikepalanya. Ketiga… ach, rasanya dua saja sudah bisa membuktikan kualitas kita, maaf.. maksud saya kualitas saya sendiri. Karena saya toh tidak boleh men-generalisir. Saya paling tidak, sulit mengingat kembali surah apa yang dibaca di rakaat pertama dan rakaat kedua shalat jumat tadi, ketika ditanyakan pada saya pada saat menjelang ashar. Ada yang sama dengan saya? Namun semoga kita diberi kemudahan oleh Tuhan nan kuasa agar makin hari makin khusyu’ dalam shalat-shalat kita. Aamiin…

Pembaca budiman, ketika saya khutbah akan dimulai, saya sedikit perhatikan ada yang agak aneh bagi saya. Sang Khatib relative muda dan (maaf) menurut saya agak kampungan. Tapi beliau tidak membawa teks atau buku (dimasjid-masjid pelosok, adalah biasa bila khatib sekedar membaca buku “kumpulan kotbah jumat”). Fikir saya, lalu apa yang bakal beliau sampaikan? Apa akan mengandalkan (baca : menyombongkan) kehebatannya berbahasa arab? Karena tampang beliau membuat satu dugaan saya bahwa mungkin beliau jebolan pesantren. Atau lupa bawa kertas? Atau mungkin sebentar lagi merogoh saku dan mengeluarkan catatannya?

Namun ternyata tidak. Sungguh luar biasa ketika beliau dengan santun membuka khutbah dengan lantunan bahasa arab dan ayat Al-Quran dalam intonasi rendah. Lalu dengan perlahan beliau menjabarkan 6 hal perusak hati dan rusaknya nilai iman dimata Tuhan. Lengkap dengan hadist dan sanadnya. Tak ada tatapan sombong atau menggurui. Yang aku rasakan hanyalah bagaikan butiran-butiran nasehat bagai menetes sejuk. Saat sempat kulirik sekitar, rasanya tidak banyak perbedaan. Ada yang mengantuk dan ada yang tidak, just as usual. Atau hanya ku sendiri yang berlebihan?

Inilah ringkasan 6 perusak hati dan pembuat rusaknya nilai keimanan dimata sang Khalik :

  1. Tidak mau bertaubat (beiau menceritakan betapa Rasulullah bertaubat sekian puluh kali sehari. Apatah lagi kita mestinya. Lengkap dengan hadist sanadnya tanpa teks)
  2. Berilmu namun tidak mengamalkan (mencontohkan bahwa mengerti shalat itu wajib, zakat, puasa, dll tapi tidak diamalkan)
  3. Beramal namun tidak ikhlas
  4. Tidak mau bersyukur (tentu saja lengkap dengan “la’in syakartum…dst)
  5. Tidak ridho atas takdir yang terjadi kepadanya
  6. Mereka mengantar jenazah, tapi tidak memetik pelajaran

Pembaca budiman, sang khatib mengakhiri khutbahnya dengan mengutip surah At-Takatsur tanpa memberikan arti/terjemahnya. Bagi saya, itu cukup membuktikan kualitas sang Khatib yang begitu baik.

 

Akhirnya, kembali ke kita jua, dari 6 tadi diatas, berapa banyak kita berhasil menjaga kerusakan hati?

 

Wassalam,

Penulis

Iklan

SIlahkan Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s