Yuk berdoa (2) : Etika berdoa

23 April 2011

 

Benar, berdoa juga punya etika. Tidak bisa asal doa. Namun tulisan ini tidak hendak mendetilkan adab, tatacara, kriteria atau apapun juga yang pastinya sudah ada di banyak tulisan lain dan sudah begitu detail. Tidak lain tulisan ini hanyalah sekedar upaya membeningkan hati, bagi diriku sendiri dan bagi anda semua pembaca yang budiman.

 

Dalam tulisan pertama telah ditekankan pentingnya mengerti isi, makna dari doa yang dipanjatkan.

Kini mari melangkah sedikit bahwa doa yang baik mestinya memiliki etika. Mungkin seperti bahwa dalam shalat pun ada etika semisal tidak shalat sambil merokok, tidak mengobrol sambil shalat, dan sebagainya.

Berikut firman Allah dalam surah Yunus ayat 10 :

Do’a mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam”. Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin” (QS. Yunus : 10)

 

Mensucikan Allah, meninggikan Allah, mengagungkan Allah, itu yang pertama. Itulah pembuka doa. Karena doa berbeda dengan permintaan, karena doa bukan sekedar apa yang kita mau, kita butuh atau inginkan.

Tentu saja terserah Allah, jika semisal ada orang yang selalu saja berdoa tanpa etika tapi selalu juga dikabulkan. Juga terserah Allah bahwa seseorang telah memenuhi semua etika dan tidak kunjung juga dikabulkan. Semua keputusan ada pada Allah. Kita manusia diminta berupaya, berusaha, beribadah. Dan Allah sungguh menghargai proses, sebagimana IA menghargai proses Siti Hajar berlari tujuh kali bolak balik, maka senyatanya Siti Hajar juga sekaligus memberi kita contoh bagaimana berupaya, berusaha, berdoa, melakukan proses..

 

Maka bukalah doa dengan puja puji kepada Allah yang Maha Tinggi, yang Maha Suci, yang Maha Agung dan segala Maha lainnya. Lagi-lagi, bukannya Allah butuh puja-puji itu, tapi begitulah etika yang diajarkan-Nya dalam Al-Quran, jika kita sepakat bahwa Al-Quran sebagai huda (petunjuk) bagi kita.

Lalu salam penghormatan. Hormati Tuhan, tundukkan kepala dan angkat tangan secukupnya. Jangan biarkan tangan diatas pangkuan. Itu jelas tanda doa yang tidak niat. Juga tidak mengangkat tangan terlalu tinggi, karena berlebihan itu tidak disukai. Tunjukkan penghormatan kepada penguasa jagat raya, yang Maha mengenal diri, Maha halus dan Maha Perkasa..

 

Lalu penutup doa adalah Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin : Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Jadi, kembali lagi kita memuji-Nya. Itulah awal, tengah dan akhir doa.

 

Mari bandingkan dengan shalat. Dimulai dengan takbir, lalu segala puja-puji dan barulah ketika duduk diantara dua sujud maka ada doa disana. Lalu shalatpun berakhir dengan salam. Maka tidak salah – menurut saya – jika ada yang berpendapat bahwa shalat adalah doa dengan tata cara yang paling benar. Mohon jangan salah artikan menjadi jika ingin berdoa ya lakukan shalat saja, itu sungguh keliru.

 

Melangkah lagi dengan acuan surah lain yaitu surah Thaahaa ayat 7 : ”Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi”

Jadi mengangkat tangan, tidak mengucap terlalu keras, berpakaian rapi, menghadap kiblat, dan segala adab baik seyogyanya diterapkan saat berdoa. Itu menunjukkan kesungguhan. Ingat, sangat berbeda antara kesungguhan dan berlebih-lebihan. Menangislah bila itu memang membuat haru namun bukan meraung-raung.

 

Dalam surah Al-A’raaf ayat 56 disebutkan : ” Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”

Rasa takut dan harapan, itulah kunci dalam berdoa. Imam ghazali membuat buku tersendiri yang membahas detail tentang takut (Khauf) dan harapan (Roja’). Rasanya saya tidak cukup ilmu untuk menjelaskan hal ini. Namun dengan pemahaman sederhana saya, berdoa dengan rasa takut, bukan sekedar takut doa tidak terkabul, namun takut bila doa malah membuat murka, doa yang salah, atau tidak pada tempatnya. Sebagai contoh radikal, berdoa segera kaya padahal berusaha saja tidak mau atau padahal sebenarnya sudah cukup kaya. Ah, takut kepada Allah adalah sesuatu yang tidak sederhana untuk dijelaskan. Sebuah ayat Al-Quran dari surah Al-Fushshilat ayat 51 saya gunakan untuk dapat lebih menjelaskan : ”Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.”

 

Adapun harap, ini malah lebih sulit lagi. Bagaimana kita berani berharap ketika kita penuh dalam ketakutan. Harap disini bukanlah sekedar optimis, tapi berkeyakinan, berkeinginan kuat

 

 

Jadi, selamat berdoa..

 

Wassalam,

 

Penulis

Iklan

SIlahkan Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s