Yuk berdoa (1)

21 April 2011

 

Sebenarnya kenapa doa kita tampaknya sering tidak terkabul?

Alasan yang disampaikan kadang bisa diterima, kadang mengada-ada. Ada yang bilang, ”bukannya tidak didengar karena bukankah Tuhan Maha Mendengar? Tapi doa boleh jadi ditunda waktu dikabulkannya, disesuaikan dengan waktu yang cocok. Atau malah memang tidak dikabulkan karena manusia tidaklah mengerti apa yang terbaik bagi dirinya”.

Juga sebagian memberikan sederet persyaratan doa agar bisa terkabul. Misalnya, apakah kita sudah bersedekah, sudah benar beribadah, adakah makan minum yang dikosumsi benar sudah halal, dan lain sebagainya.

Tambahkan lagi sejumlah ”keanehan” (nyleneh?) semisal berdoa dimakam orang tertentu, melafal zikir tertentu, dan lain sebagainya.

 

Bagi saya, lebih benar bila referensi dasar adalah Al-Quran dulu. Itu yang pertama. Mari ambil contoh di QS.Al-Ahqaaf ayat 5 yang artinya ” Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?”

Perhatikan kalimat ” dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?”. Jelas bahwa jika seseorang berdoa, maka ia mesti tahu betul apa yang ia maksudkan, apa yang ia ucapkan dalam doanya.

Contoh? Gampang saja. Semisal ada orang berdoa seperti ini, ”Allahumma ya Allah, sdfgiijnfasjjncv jkafduhfzskj ….” kira-kira cukup jelaskah doa itu? Bahkan tak satupun dimengerti. Oh tentu saja Allah Maha mengerti, bahkan IA telah mengetahui meski kita belum berdoa. Tapi yang ditegaskan adalah bahwa seseorang mestinya mengerti betul doa yang ia panjatkan.

 

Dekat rumah ada sebuah mushalla. Cukuplah orang-orang mulia yang hadir dan terus disiplin + kontinyu disana. Setiap sebelum shalat dan sesudah shalat mereka berdoa. Dari fardhu ke fardhu, doa yang diucapkan sama. Sehari..sebulan..setahun..bertahun-tahun maka itu seperti rapalan mantera yang keluar otomatis dari mulut kita. Lalu dimana esensi memahami arti doa?

 

Kita mulai dari sejak sebelum shalat. Sebelum iqamah, bersama-sama membaca, ”Astaghfirullaah hal adziim, minkulli zanbil adziim. Laa yaghfiru zunuuba illa Robbul ’aalamiin”. Ini dibaca 3 kali dan lalu barulah iqamah.

Ketika saya pertama ikut, sayapun terhenyak. Sungguh indah artinya,

”Mohon ampuni kami wahai Sang Maha Agung,

dari segala dosa-noda kami yang menggunung.

Tiadalah yang dapat mengampuni dosa ini selain Engkau wahai Tuhan semesta alam”.

 

Membaca itu dengan perlahan, sambil berdiri maju kedepan merapatkan shaf, menundukkan kepala dan menyadari betapa kita memohon maaf dan ampunan sebelum ibadah dimulai. Sepantasnya sudah mengalir air mata diujung pelupuk.

Tapi itu pertama. Esok hari berganti bulan lalu berganti tahun, maka tinggal hafalan yang tersisa bagaikan rapalan mantera. Tanpa esensi tanpa makna, na’uudzubillahi min dzaalik. Mungkin itu yang dimaksud sulitnya menghadirkan hati…?

 

Lalu shalat kita menjadi shalat yang ”begitu-begitu saja”. Mau bagaimana lagi? Lha wong dari sejak kecil sudah shalat? Kita sudah puluhan bahkan ratusan kali melakukannya.

 

Seperti seorang anak pertama masuk sekolah. Senang ia dengan baju baru dan sepatu barunya. Lalu ada kawan dan guru serta suasana yang semua baru. Lalu menginjak tahun ketiga, anak itu sudah begitu bosan dan mungkin malah sering berharap bisa bolos sekolah…

Walhasil, menjaga hati memang sulit. Mempertahankan memang sulit. Itulah pentingnya hati yang bening. Itu mengapa ada orang yang mengatakan bahwa ”sebenarnya setiap saat ada mukjizat, setiap waktu ada keajaiban. Tapi hanya bisa terlihat oleh mereka yang mampu merasakan. Yaitu yang memiliki hati yang cukup bening”

 

Maka pelajaran pertama tentang seri mengenal doa adalah : kenali apa yang diucapkan. Fahami dan mengerti. Jika tidak mengerti, maka itu kebodohan yang paling dasar bagi siapapun yang berdoa

 

Sebuah tips yang kurasa cukup jitu, diambil dari pengalamn saya sendiri saat memimpin rapat. Adalah biasa dalam meeting suasana menjadi seru dan kadang cukup panas. Saya mengakhirinya dengan memimpin doa,

Baiklah, kita akhiri meeting ini dengan sejenak menundukkan kepala berdoa,

”Allahumma ya Allah, Engkaulah Salam

Dari-Mu lah Salam

Dan kembali pada-Mu segala Salam

Hidupkanlah kami ya Rabbi, dalam Salam

Dan izinkan kami masuk dalam surga-Mu, negeri yang Daarus Salam”

Lalu saya meneruskan dengan membaca doa dalam bahasa arabnya : Allahumma antas salaam, wa minkas salaam, wa hayyinaa rabbanaa bis salaam, wa adkhilnal jannah daarus salaam. Tabaarok taarobbana wa ta aalaita yaazal jalaalil wal ikraam

Terima kasih dan selamat sore..

 

Itu saya lakukan dan memperoleh manfaat yang cukup baik, karena senyatanya ketika kita menggabungkan keindahan kata dengan doa itu sendiri maka akan lebih terasakan artinya. Masuk dan menghadirkan hati…

 

Doa diatas, sebenarnya adalah doa yang paling umum diucapkan setelah shalat. Yang seringkali dirapal cepat bagai kilat.

 

Jadi, selamat berdoa..

 

Wassalam,

 

Penulis

Iklan

SIlahkan Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s