Budaya yang hilang

12 maret 2011

 

Pada jaman dahulu ada sebuah bangsa yang terkenal adi luhung, yang bahkan Jengis khan pun mengakuinya. Yang bahkan seorang ahli dari Negara yang di ujung ufuk meyakini sebagai surga yang hilang (the lost atlantis).

 

Di negeri itu penduduknya telah berpakaian, ketika hampir semua negeri lainnya masih belum mengenal baju. Armadanya tangguh, kekayaan alam berlimpah, dan bahkan dewa-dewapun mencegahnya dari panas tinggi seperti gurun ataupun dingin tajam seperti salju dan es. Mereka menamakannya iklim tropis, ketika musim yang dikenal adalah musim buah, musim panen dan musim kawin.

 

Negeri itu bernama Nusantara, atau sekarang dikenal sebagaiIndonesia..

 

Tapi yang terhebat dari itu semua adalah bahwa bangsa itu (pernah) memiliki budaya yang sangat tinggi :

  • Ramah tamah
  • Santun
  • Saling menolong
  • Memutuskan dengan musyawarah
  • Beriman
  • Pekerja keras

 

Kebesaran, kehebatan armada, keagungan budaya, keluhuran budi, kekayaan alam, iklim dan semuanya terpusat disana..

 

Lalu datang masa itu. Tiga setengah abad plus bonus 3 setengah tahun terjajah. Dikuras habis..dan diganti menjadi sebaliknya..

Kekayaan alam dikuasai, iman digoyang, rasa permusuhan, arogan, pemalas, sifat kacung/jongos dan menjilat, korup. Semua, benar-benar semua..

 

Diakhir penjajahan, diawal-awal kemerdekaan, masih sempat terlihat sisa-sisa adi luhung bangsa itu. Masih ada kata “musyawarah untuk mufakat”, “bergotong royong tanpa pamrih”, rasa malu, kebanggan diri, dan sejumlah nilai luhur lainnya.

 

Saat inipun, “bekas-bekas” itu tampak adanya. Lihatlah bahasa yang bertingkat-tingkat, mulai dari bahasa halus hingga bahasa umum. Perhatikan lagi segala jenis tari yang ada dengan segala arti dibaliknya. Dibeberapa dusun nun jauh dipelosok mungkin masih bisa kau temui penduduk yang masih juga bergotong royong mendirikan bangunan, sungguh-sungguh tanpa pamrih. Meski makin sulit dan langka, mungkin kau cukup beruntung menemui penduduk yang menghormati mereka yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Istilah “karang taruna” mungkin masih ada dibeberapa tempat. Dimana acara disokong bersama-sama, lagi-lagi tanpa pamrih. Di pedalamansanamungkin masih bisa kau dapatkan penduduk yang menangis ikhlas dalam doa, yang memberi tanap mengharap, yang belum terkikis habis nilai-nilah adi luhungnya.

 

Pembaca budiman,

tentu saja kau tidak bereaksi apa-apa. Tak ada titik air mata haru, atau degup jantung atau hati yang bergolak memberontak, tidak ada apa-apa. Kau hanya membaca ini saja. Meski ini ditulis dalam bahasa negeri nusantara tadi, meski kau adalah keturunan bangsa adi luhung tadi…

Dan tak perlu heran. Atau malah mungkin kau meremehkan, but it just okay.

Seperti kukatakan, semua telah terkuras habis..

Lihat sekelilingmu,

Mereka demo atas nama demokrasi, dengan cara-cara “mengerikan”

Menjelekkan yang lain dengan pedas, tajam menusuk tanpa etika dan welas asih

Bentrok, tidak hanya diruang sidang DPR atau MPR yang terhormat, tapi di kampung-kampung, di jalanan, bahkan antara keluarga inti, dengan cara yang bahkan lebih buas dari smackdown

Di lampu merah, adalah biasa melihat mereka meminta-minta, bahkan tidak sekedar hati yang mati tapi keluar juga kata caci maki, atau sekedar misuh di hati

Di masjid, dulu mereka berbaris rapi setelah shalat untuk saling bersalaman sambil tersenyum ramah dan kasih. Tapi kini pemandangan itu langka sudah..

Anak-anak kecil yang dulu mengaji berteman kyai dan keluarga, kini kau lihat si anak sibuk dengan PS-3 nya, sementara orang tua dengan laptop, handphone dan televisinya..

 

 

Mengembalikan Budaya Luhur

Meski sulit, namun kembali memiliki budaya luhur tadi bukanlah tidak mungkin. Seyogyanya itu bukan jadi sesuatu yang hilang, juga bukan sekedar angan, atau nostalgia masa lalu yang silam. Seyogyanya ada keinginan untuk memilikinya kembali, mempertahankan dan melengkapinya.

Sebagai langkah awal adalah mengikuti filosofi dasar : Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini juga.

Diri sendiri adalah hal terkecil. Lalu keluarga adalah pola masyarakat terkecil. Dari sini semua dimulai. Bukankah satu langkah kecil itu tetaplah lebih baik daripada tidak ada langkah?

 

Budaya di keluarga

Dimulai dari diri sendiri. Menjadi pribadi yang berTuhan dalam arti sebenarnya. Merasa bahwa segala tindak tanduk selalu dalam pengawasan-Nya. Ini akan mengontrol diri dari perbuatan yang buruk.

Adapun untuk budaya di keluarga :

  • Shalat berjamaah. Minimal 1 kali sehari melakukan shalat wajib bersama. Shalat maghrib atau isya adalah yang paling memungkinkan. Jika sudah terlaksana, coba juga dengan shalat subuh berjamaah.
  • Seminggu sekali lakukan kegiatan ke mesjid bersama. Misalkan pada hari minggu, pergilah bersama keluarga ke mesjid untuk shalat jamaah subuh atau dzuhur atau ashar. Jika belum mampu seminggu sekali, setidaknya sebulan sekali
  • Mengaji bersama. Setidaknya setiap malam jumat mengaji Yasin bersama setelah maghrib atau setelah Isya. Bila belum mampu setiap minggu, lakukan setiap bulan sekali. Tapi ushakanlah untuk setiap minggu pada akhirnya

 

 

 

Wallahu ‘alam bis sawab

 

 

Penulis

Iklan

SIlahkan Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s