Duduk diantara 2 sujud

Salah satu dari rangkaian shalat yang begitu indah, adalah duduk diantara dua sujud.

Saat itulah semua untaian doa dirangkum. Ya, seluruh kalimat yang diucapkan saat duduk antara dua sujud itu adalah doa, seluruhnya..

Itulah doa yang diajarkan oleh Tuhan Sang Pencipta kepada mahluk yang dicipta-Nya. Rangkuman semua permintaan seorang mahluk dalam segala problematika hidupnya

Robbighfirlii…Tuhan ampuni diriku

Warhamni… kasihanilah daku

Wajburni… dan segala dosa dan salahku

Warfa’ni… dan derajatku

Warzuqni.. dan rezekiku

Wahdinii.. dan petunjuk bagiku

Wa aafinii.. dan kesehatanku

Wa’fua’anni.. dan maafkanlah diriku

Untaian itu dimulai dengan permohonan ampun, sebagai ungkapan kerendahan diri di depan Sang Khalik.

Diakhiri dengan permintaan maaf, agar IA berkenan dengan segala tutur dan pinta.

Adalah penting agar kita dikasihi, disayangi dicintai. Dari sekian milyar mahluk bernama manusia yang telah dan akan diciptakan-Nya, maka sungguh pantas bila kita perlu memohon sejuk kasih-Nya.

Sumpah-Nya jelas bahwa tidak semua manusia akan menerima kasih sayang-Nya. Jelas bahwa kenikmatan dunia bukanlah fakta bahwa seseorang diberi limpahan kasihnya.

Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari padaKu: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. As-Sajdah :13)

Begitu juga derajat dan rezeki. Manusia menamakan itu sebagai ‘kebahagiaan’. Dan bila hakikat bahagia adalah dimana tercapai ketentraman, maka rezeki, petunjuk, derajat, adalah inti bahagia itu sendiri.

Juga karena petunjuk itu adalah pemberian bagi mereka yang bersungguh-sungguh meminta. Bukankah sejarah membuktikan bahwa anak bisa saja mendapat petunjuk tapi belum tentu dengan ayahnya (baca lagi kisah Nabi Ibrahim a.s), atau justru anak yang tidak mendapat petunjuk (seperti kisah nabi Nuh a.s) atau bahkan istri/suami. Jelas bahwa petunjuk hanya diberikan kepada yang sungguh-sungguh meminta dan menginginkannya.

Dan kesehatan ternyata begitu sangat penting untuk kita memohon. Sehat lahir sehat bathin. Bagai Rasulullah s.a.w yang terus dalam kesehatan hingga akhir…

Maka terduduklah kita, tercenung dan meratap, betapa ingin kita dijaga, dikasihi, diangkat derajat, dijaga kesehatan, dijauhkan dari rezeki kotor, dan dimaafkan…

Lalu terserah pada-Nya. Adakah IA mengampuni, atau meninggikan, atau membersihkan (rezeki), atau memberi petunjuk, atau memberi kesehatan (lagi), atau memaafkan atau semua itu..

Maka dari logika paling rendah, manalah bisa kita berdoa semacam itu, doa sepenting itu, doa sedahsyat itu, hanya dalam hitungan detik/menit ? manakah bisa ? dan apalagi ada yang mengharap di ijabah ? atau shalatnya diterima ?

Sejujurnya diri ini hanya mengandalkan hafalan semata. Shalat yang tanpa jiwa. Yang karenanya maka bacaan doa dalam duduk antara 2 sujud menjadi suatu perkara biasa yang penuh reflex, langsung, cepat dan yaitu tadi, tanpa jiwa tanpa makna..

Lalu berapa lama itu berlangsung? Seumur hidup? Bayangkan…seumur hidup kita melakukan shalat dengan duduk diantara dua sujud semcam itu. Cepat, reflex, tanpa jiwa tanpa makna, tanpa tahu sedang apa kita sebenarnya…

Astaghfirullah hal adziim..

Ya Allah maafkan kami, ampuni kami. Sungguh kami dzalim terhadap diri ini…

Ketika nabi Yunus mengira Tuhan akan menyelamatkannya, maka perkiraannya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Maka dimakanlah beliau oleh ikan besar dan didalam perut ikan itu beliau tersadarkan.

Sungguh pelajaran berharga, agar kita tidak ‘sok yakin’ bahwa Tuhan Nan Pengasih akan terus mengasihi kita meski doa diantara dua sujud tidak kunjung dilakukan dengan sepenuh jiwa sepenuh makna.

Maka terpekurlah kita, dan sebagaimana nabi Yunus menyesal, selayaknya kitapun menyesal, “Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka, innii kuntu minadz dzaalimiin..”

Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku dzalim pada diriku sendiri (QS. Al-Anbiyaa :87)

Pembaca budiman, semoga kita diberi kemampuan menjalaninya, untuk tidak sekedar membaca doa saat duduk diantara dua sujud, tapi lebih dari itu, memahaminya, menghayati, menekuri, mentafakkuri, hingga jatuh tetes air mata haru, air mata sesal, air mata rindu, air mata bahagia..

Setelah sujud pertama, maka duduklah perlahan, tenang, santai. Jangan buru-buru berucap. Fikirkan doa yang akan kita baca. Bayangkan semua shalat kemarin yang tanpa hormat. Hormati Tuhan, akui kesalahan, lalu barulah mulai panjatkan doa. Perlahan dan cobalah berhenti diantara kalimat itu. Sampaikan betapa diri ini begitu ingin dikabulkan, begitu ingin didengar… Berdoalah dengan penuh harap dan cemas

Jika tidak mampu dalam setiap shalat, mungkin setiap hari, atau setiap minggu atau setiap tahun atau hanya sekali dalam hidup atau tidak pernah sama sekali..??

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS. Al-Baqarah : 186)

Wallahu ‘alam bis sawab

Penulis

Iklan

5 comments on “Duduk diantara 2 sujud

  1. semoga Allah selalu memberikan saya, anda dan kita semua kesadaran dalam hidup.
    terimakasih untuk tulisan nya… sangat menyentuh.

  2. jjur aj nympe skrag sy msih bingung,ada 2 mcam bcaan d antara 2 sujud yg berbeda.yg benar yg mna/2-2nya bnar sy jd ragu

SIlahkan Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s