Syawal 1431 H

 

 

Ini malam takbiran. Besok sudah lebaran. Artinya sudah 4o kali aku bertemu dengan lebaran. Artinya ramadhan usai sudah. Ini malam adalah malam yang tepat untuk merenungi hidup, setidaknya 30 hari ramadhan kemarin dan atau hidupku sebelum itu..

Awal ramadhan kemarin kucanangkan 3 target : 1. Anak sulungku khatam juz amma (saat ini dia kelas 4 SD), 2. Istriku bisa lancar membaca Qur’an dan 3. Aku khatam Al-Qur’an seperti ramadhan-ramadhan kemarin.

Nyatanya hanya 2 yang tergapai yaitu point 1 dan 3. Syukur alhamdulillah, karena di dua per tiga ramadhan aku sempat yakin tak ada satupun yang tercapai (anakku tidak kunjung mencapai separuh juz amma, istriku datang bulan cukup lama dan aku terhenti di juz 10 saja). Tinggal sepuluh hari terakhir…lalu tinggal 8 hari lagi. Disitu tiba-tiba semua berubah..

Awalnya aku hanya bermenung di teras rumah, menyadari bahwa lailatul qadr menjadi sesuatu yang samar untuk diraih. Lalu entah mengapa aku tergerak untuk bangkit, menjadi malu dengan diriku sendiri dan lalu berkomitment. Dan setelah itu tiba-tiba saja aku sudah juz 16. Ketika lebaran tinggal 2-3 hari, aku sudah juz 28. Hingga kini aku tak tahu bagaimana kok aku bisa berjus-jus maju. Padahal – tidak seperti tahun-tahun lalu – aku membaca dengan berusaha tartil, berusaha menjauh dari sikap terburu-buru.

Singkat cerita, saat juz 28 itu, aku ajak anak sulungku untuk sama-sama selesaikan juz amma. Malam itu kami mengaji bersama. Sengaja mengaji sebelum terawih (juga entah kenapa kok tiba-tiba anakku semangat mau mengaji juz amma sama-sama). Kamipun mulai mengaji, dari pukul 20:00 hingga pukul 21:00 dan juz amma itu tamat, khatam, selesai. Allahu akbar…

Esoknya, giliran aku selesai. Tepat sehari sebelum hari terakhir puasa.

Sungguh, Allah memberi hidayah kepada siapa yang DIA kehendaki, memberi kemudahn pada siapa yang DIA kehendaki. Betapa aku bersukur bahwa aku merasa menjadi orang yang diperhatikan oleh-Nya..

Hingga akhirnya aku merasa bahwa itulah lailatul qadr-ku, pemberian dari-Nya yang sungguh indah…

Ya Allah, terima kasih atas apa yang KAU berikan pada kami. Sungguh ENGKAU Maha Penyantun, Maha baik, Maha peduli, Maha penyayang. Jadikan kami dan keturunan kami menjadi orang-orang yang senantiasa pandai bersyukur pada-Mu, khusyu’ dalam ibadah, sabar dalam musibah dan ikhlas atas segala putusan-Mu. Perkenankan kami masuk dalam golongan hamba-Mu yang Sholeh. Amin ya Rabbal ‘aalamiin..

Baru saja aku dan istriku dan anak-anakku jalan-jalan melihat keramaian takbir di jalan. Sungguh ramai, ada yang pawai, pukul beduk, berkeliling seperti kami, menonton di pinggir jalan dan juga memasang kembang api. Sungguh ramai dan macet. Tampaknya semua orang bergembira malam ini. Tapi betulkah? Fikiranku justru kepada mereka yang telah ditinggalkan keluarga. Ada yang yatim karena sang ayah telah berpulang, ada khabar dua hari lalu teman meninggal kecelakaan, ada orang tadi datang memohon “fitrah”. Dan akupun percaya, di malam gembira ini, masih cukup banyak orang yang belum mampu merasakan bahagia sejati. Aku yang malam ini berkumpul dengan istri dan anakku hanyalah sedikit dari mereka yang diberi bahagia oleh Allah. Bahagia yang hakiki. Selebihnya mereka masih kuyup dengan bahagia semu. Camkanlah bahwa, Bahagia adalah kondisi dimana kita mampu bersyukur setulusnya kepada Allah atas apa yang diberikan kepada kita..itulah arti bahagia

Wassalam,

Penulis

Iklan

SIlahkan Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s