Ketika Waktu Jumat tiba

 

Masih suara mengaji dari speaker besar di puncak menara mesjid dan orang-orang (termasuk diriku) berbondong-bondong memasuki mesjid besar itu.

Kulihat cukup banyak yang ‘berbusana muslim’, sementara diriku sendiri – apa boleh buat – masih dengan seragam kerjaku. Bau harum nan wangi menyeruak (mungkin lebih bagus : semerbak) masuk langsung ke kalbu, membuat diri terasa tenteram. Sebagian mereka ada yang sempat mandi sementara sebagian lainnya (termasuk diriku yang memang waktunya mepet, maklum orang kantoran) mencukupkan dengan berwudhu.

Adzan pertama berkumandang yang dilanjutkan dengan sebagian orang melakukan shalat sunnah. Lalu naiklah sang Khatib ke atas mimbar dan berkumandanglah adzan kedua.

Seperti mesjid dimanapun juga, siraman rohani dari sang khatib hanya ada dua kategori, menarik atau tidak menarik yang tentu saja sangat subyektif tergantung dari masing-masing insan pendengarnya. Tapi bukan itu yang akan dibahas ditulisan kali ini.

Dalam tiap shalat Jumat, fenomena yang kulihat dimana-mana cenderung sama, ada yang terkantuk-kantuk, ada yang “kelihatannya” memperhatikan, dan ada yang “memang“ memberikan perhatian sepenuhnya.

Pernah kutulis bahwa bagiku, salah satu dari banyak kriteria tentang shalat yang khusyu’ adalah ketika seseorang itu menguap. Jika anda menguap ketika menyampaikan pidato pertanggung jawaban anda di depan majelis tinggi, itu adalah hal yang belum pernah saya lihat. Jika kita menguap ketika berhadapan dengan Sang Maha Agung Pencipta planet, asteroid, galaxy dan seluruh jagad semesta termasuk semut yang merayap di bawah keyboard, pantaskah disebut khusyu’? (tapi ini khan sekedar opini saya sendiri).

Jadi, terkantuk-kantuk saat mendengarkan khutbah jumat, semestinya menjadi hal yang luar biasa aneh. Coba fikir, sejak dirumah sudah mandi. Baju muslim plus minyak wangi. Tapi ketika khutbah menjelang lantas terkantuk-kantuk. Lalu kepada siapa dia bersiap-siap sedemikian rupa? Lalu bagaimana dengan yang tertidur? Bukankah tidur diwaktu khutbah katanya boleh?

Terlepas dari segala dalil yang dikemukakan, hemat saya jika seseorang sudah tidak mampu menghormati Tuhannya ketika sebelum shalat, maka tipis kemungkinan bahwa orang itu bakal menghormati (baca : khusyu’) ketika shalat.

Maka mampukah kita menjadi orang-orang yang bisa dibanggakan Tuhan, seperti ketika DIA membanggakan Adam A.S di depan makhluk-Nya?

Wassalam,

Penulis

Iklan

6 comments on “Ketika Waktu Jumat tiba

  1. Asslm. Wah trnyata bnr juga, spt saya kalo lgi dngar khotbah pasti ngantuk, tp tdk slalu… ia jadi sia-sia pkerjaan qt di dunia… hampa tanpa arti, tp smoga amal yang mampu kita lakukan diterima-Nya.. ditrima atau tidak qt tdk tahu, yang jelas amalan yang kita haturkan, qt kirimkan gak pernah kembali… jadi berkhusnudhon aja, sambil mmprbaiki dari detik ke detik qualitas amal qt. amin. jzkllh.

  2. Asslm.Menarik membaca artikel ini.Pendapat anda benar mengenai adanya peserta sholat Jumat yang mengantuk,dsb. Saya ingin memberi sudut pandang berbeda soal ‘menguap’.. ini berdasarkan pengalaman pribadi dan sempat pernah membaca di sebuah tulisan (lupa di mana), bahwa ‘menguap’ itu merupakan sinyal atau tanda bahwa tubuh kita kekurangan Oksigen.. ini sering terjadi saat saya sedang mendaki gunung pada ketinggian yg cukup tinggi, padahal di saat2 itu diperlukan konsentrasi lebih untuk waspada dari bahaya. Tertidur karena ‘mengantuk dan menguap’ sering penyadi penyebab kematian di atas gunung karena kurangnya Oksigen dan dingin.Kesimpulan singkat.. bahwa menguap itu belum tentu acuh terhadap isi khutbah.. bisa saja memang terjadi karena banyaknya manusia yg berebut oksigen di sebuah dalam ruangan, bukan krn berniat untuk tidak menghormati Sang Pencipta. Satu pandangan lain yg pernah saya dengar bahwa Rumah Tuhan itu trerasa begitu nyaman di hati, membentuk rasa tenang bagi yg berada disana, hingga akhirnya tertidur krn saking tenangnya.. well ini tambahan masukan sudut pandang saja tanpa bermaksud menyanggah tulisan anda, mgkn lebih tepatnya ini sebagai pendapat pelengkap dari artikel saudara yg bermanfaat ini. Terima kasih Wassalam. =)

    • Setuju sekali.
      Memang menguap itu dapat juga berasal dari masalah kurang oksigen. Malah ada pendapat dari sudut pandang psikologi bahwa menguap itu bisa membuat orang lain menguap juga (coba perhatikan bila seseorang menguap dikeramaian lalu ada yang menyusul ikut menguap juga).
      But the point is, bagaimana kita bisa hormati DIA jika menahan yang satu itu saja tidak bisa.

      Semoga, kita semua diberi kemudahan menjalani yang memang benar

SIlahkan Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s