SELF CONSCIENCE

Siapa aku?

Semestinyalah setiap diri menanyakan kepada dirinya sendiri, “Siapakah aku?”. Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana namun sungguh mendasar. Dari jawaban itu maka setiap diri kemudian bisa menentukan sikap.Persis sama dengan analogi permainan bola. “Siapa aku?, kamu adalah kiper. Maka dengan begitu dia tau harus melakukan apakah dia. Bagaimana menjadi kiper yg benar dan mumpuni.

Mengapa aku menjadi manusia? Mengapa bukan jadi sebatang pohon atau gunung atau ayam seperti di halaman rumah, atau menjadi cicak di dinding atau batu yang kecil yang teronggok dipinggir jalan dan terabaikan. Atau menjadi awan yang megah diatas, atau menjadi setan atau menjadi malaikat. Mengapa aku menjadi manusia?Ini semua nanti akan berentet kepada pertanyaan yang lebih sering dijumpai, “mengapa aku lahir disini bukan disana, mengapa aku laki-laki bukan perempuan atau sebaliknya. Mengapa aku buta sementara yg lain melihat, atau sebaliknya. Mengapa hidung ini satu dan mata ini dua, mengapa orang tuaku miskin/kaya, mengapa dan mengapa.Tapi sebelumnya mesti dijawab pertanyaan yang pertama, “mengapa aku menjadi manusia?”. Siapakah aku?

Proses penciptaan Manusia

Manusia (katanya) diciptakan dari tanah, sementara malaikat dari cahaya dan setan dari api. Dari apakah cicak atau pohon atau awan?

Disini perlu yang namanya iman. Sesuatu yang tidak bisa terjawab, akan terjawab oleh iman.

Ketika Tuhan mencipta manusia, maka IA membanggakan manusia hasil ciptaannya itu. Ia minta malaikat dan jin sujud kepada manusia. Apakah ketika jin dicipta lantas malaikat diminta sujud juga (atau sebaliknya, karena kita tidak tahu mana yg lebih dulu dicipta, malaikat atau jin). Bagi yang tidak beriman akan capek dengan pencarian jawaban : Apa betul manusia dibuat dari tanah? Mana lebih dulu dicipta, jin atau malaikat? Apakah disuruh sujud juga atau tidak? Bertanya khan ngga’ bayar dan sah-sah saja. Tapi mengapa tidak fokus saja dengan pertanyaan pertama tadi, “Mengapa kita dicipta?”, yang kemudian saya juga malah melanjutkan dengan “mengapa manusia begitu dibanggakan oleh Tuhan?”

Jawabannya semua ada di Al-Quran. Manusia dicipta untuk menjadi khalifah dimuka bumi. Kata ‘khalifah’ mungkin lebih tepat diartikan sebagai ‘rahmatan lil alamiin’.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah :30)

Khalifah adalah sebuah amanat yang bagaimanapun juga akan dimintai pertanggung jawaban.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. Al-Ahzaab :72)

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (QS. Al-Qiyaamah : 36)

Ada juga yang mengartikan khalifah sebagai ‘pemimpin’. Boleh jadi itu benar, namun masalahnya pemimpin itu ada yang jelek ada yang baik. Tentu yang dimaksud Tuhan adalah pemimpin yang baik.

Oke, sekarang sudah jelas bahwa predikat manusia adalah ‘khalifah’ dan itu adalah ‘amanat’ (seperti juga kiper yang punya amanat menjaga gawang).Tapi, jika kiper menjaga gawang, manusia tugasnya apa?

Khalifah-nya manusia

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzaariyaat : 56)

Wamaa kholaqtul jinna wal insa illaa liya’buduun

Ternyata tugasnya Cuma satu : MENGABDI (liya’buduun) kepada Allah.

Adapun yang lain, saling menasehati dengan sabar, beriman, melakukan shalat, puasa, zakat, tidak menghardik anak yatim, mencintai tetangga, saudara seiman, dll itu adalah manifestasi dari kata ‘mengabdi’ tadi.‘Mengabdi’ dasar katanya ‘abdi’ atau hamba sahaya atau budak belian. Pernah punya budak? Yang setahu saya, definisi perbudakan secara murni adalah sungguh-sungguh budak, dalam arti ‘apa-apa sesuai titah tuan-nya’. Sebuah pengabdian tanpa reserve, pengabdian total, abis-abisan…Kata ‘budak’ konotasi-nya cenderung negatif, semena-mena, tidak beradab dan lain-lain. Namun disini dipakai istilah mengabdi, menghamba dengan maksud agar konotasi-nya positif. Dan memang sebenarnyalah bahwa menjadi hamba Tuhan justru mendapatkan anugerah yang tidak terperi. Itu janji Tuhan dan “innaka laa tukhliful mii’aad” (DIA tidak pernah melanggar janji).

Trus gimana caranya mengabdi ‘abis-abisan’ kepada Allah?

Ada caranya, ada manualnya, ada prototype-nya. Itulah Al-Qur’an, Hadist dan tidak tanduk Rasulullah. Ya Cuma tiga itu aja. No more no less. Simple? Memang, tapi bukan hal yang dimudah-mudahkan

Satu hal tambahan adalah bahwa kita ternyata bukan satu-satunya yang bertugas mengabdi kepada Tuhan.

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (QS. Ar-Ra’d : 15)

Mengapa dibanggakan?

Ada pertanyaan yang menarik tadi, kenapa setelah mencipta manusia, ada acara malaikat & jin diminta sujud?

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah : 34)

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang”, mereka menjawab:”Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman). (QS. Al-Furqaan : 60)

Saya sendiri ngga’ tahu mengapa manusia dibanggakan oleh Tuhan. Mungkin karena ada mengandung tiupan ruh-Nya?

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS. Al-Hijr : 29)

‘Ruh’ yang dimaksud, diterjemahkan oleh sebagian orang sebagai ‘percikan dari Asma’ul Husna’. Terserah apakah anda percaya atau tidak. Tapi satu hal jelas, bahwa Tuhan membanggakan ciptaan-Nya yang bernama manusia ini sehingga perlu bagi-Nya agar mereka yang lain melakukan penghormatan.

Jika anda, bayangkan sebagai murid di seluruh sekolah, dibanggakan di depan oleh pa’ Kepala sekolah, bagaimana perasaan anda? Bangga bukan? Andai anda sebagai karyawan dibanggakan di depan seluruh karyawan oleh sang pemilik perusahaan, apa perasaan anda? Bangga bukan?

Lalu setelah dibanggakan, kira-kira apa yang akan anda lakukan? Yang paling umum adalah : berusaha mewujudkan itu, atau secara gampang, ingin membuat pa’ Kepsek atau pa’ pemilik tadi terus bangga terhadap kita. Do I make my point clear?


Salam,

Penulis

Iklan

SIlahkan Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s