Anak adalah …

Anak-ku adalah :

Kahlil Gibran berpendapat bahwa “anakmu bukan anak-anakmu, Mereka anak-anak alam. Engkaulah busur dan mereka anak panahnya”

Tapi bagi saya tidak hanya itu. Anak memiliki banyak peran dan sangat dominan (baca : sangat berarti). Berikut beberapa yang saya rasakan :

  1. Anak sebagai GURU
  2. Anak sebagai PELINDUNG
  3. Anak sebagai SAHABAT
  4. Anak sebagai PARTNER / REKAN SEJAWAT
  5. Anak sebagai PEMIMPIN
  6. Anak sebagai COBAAN
  7. Anak sebagai PERMATA (HATI)
  8. Anak sebagai TITIPAN

Anak sebagai GURU

Suatu saat sempat juga aku ikut training sejenis seven habit atau semacam itu. Intinya kita diajari bagaimana kita bisa kontrol emosi, kontrol perilaku dan lain-lain, dan sebagainya.

Esok paginya seperti biasa bangun pagi, mandi dan bersiap ke kantor. Lha kok sang bayi “kriyep-kriyep” bangun (kriyep-kriyep : bangun dengan mata berat karena masih ngantuk). Dia lihat wajah kami (ayah dan ibunya) dan coba tebak apa reaksinya? Sang bayi itu tersenyum.

Pernahkah kau melihat senyum bayi? Itulah “anugerah terindah” Tuhan kepada para orang tua. Tapi bukan itu masalahnya. Coba sekarang bandingkan dengan si ayah. Begitu bangun tidur sudah repot bersiap-siap. Fikirannya sudah macem-macem (dan biasanya ruwet). Tampangnya juga ngga’ bisa senyum. Coba perhatikan diri kita sendiri. Kapan kita pernah tersenyum saat memulai pagi (baca : bangun tidur) ? seberapa sering ?

Sang bayi kecil mengajarkan saya bagaimana bersikap, berperilaku. Ia tidak hanya menjadi instruktur training, tapi memberi contoh langsung di kehidupan sehari-hari.

Dari situ saya mulai belajar hidup yang benar. Belajar dari guru saya tersayang. Jika ada guru yang paling saya sayangi, dialah orangnya, anak saya sendiri. Karena guru ini memberi contoh-contoh langsung dari banyak hal yang justru sering lepas dari perhatian.

Anak sebagai PELINDUNG

“Bismillahi majrooha wamursahaa inna robbii la ghafuurur rahiim”. Itulah doa yang selalu dibaca anakku ketika motor akan berangkat. Akibatnya aku yang tadinya tidak pernah berdoa mulai ikut-ikutan juga (kalo ngga’ ikut, nanti ngga’ diajak main PS). Dan sejak itu aku selalu merasa aman. Pernah dan sering kejadian “nyaris”. Namun tidak pernah menjadi celaka. Selalu saja aku percaya bahwa andai anakku tidak ikut, maka boleh jadi akupun tidak berdoa dan boleh jadi yang semula “nyaris” tadi malah menjadi “tragis”.

Tinggal diri kita sendiri. Bagaimana mempercai semua itu. Anak sebagai guru, pelatih, pembimbing, dan lain sebagainya. Tanyakan hati kita. Hanya saja, sayangnya hati yang buram kadangkala menampilkan bayangan yang juga buram, membiaskan nilai-nilai kebenaran…(bersambung)

Salam,

Penulis

Iklan

SIlahkan Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s