Oleh-oleh Jumatan : 21 Februari 2014

6 Perusak Hati

 

mimbar

Siang itu panas, tapi cukup sejuk didalam mesjid luas itu karena jejerang kipas angin besar di plafond menyentorkan banyak aliran udara.

Dan tentu saja, seperti kau juga selalu melihat di banyak belahan mesjid manapun di Indonesia, mayoritas umat yang terkantuk-kantuk dari kombinasi sempurna udara panas diluar, sejuknya air wudhu dan sentran kipas (apalagi andai mesjid ber-AC) hingga bisingnya suara ngaji yang keluar dari pengeras suara tidak mampu meredakan kantuk yang gegap menjelma (menarik juga untuk membahas sound system mesjid yang mudah-mudahan bisa saya ulas dalam artikel terpisah).

Saya termasuk dalam jajaran umat yang ngantuk tadi. Tambah lagi bagi kita yang akhirnya terbiasa dengan sang khotib yang itu-itu juga. Boleh saja khotib berganti, tapi paling-paling idem saja. Tema-nya, intonasi-nya, gaya-nya, semua bagiku hanya menjadi pelengkap syarat ngantuk. Satu lagi alasan para pengantuk saat jumat adalah kepercayaan bahwa sang setan bakalan kembali menggoda (dengan jurus angin kantuk nan lembut). Konon setan tak tahan dengan suara azan sehingga lari menjauh. Namun bila azan selesai katanya mereka akan kembali untuk menggoda. Percaya? Saya termasuk percaya karena bisa dibuktikan dengan sangat sederhana.

Itu ada dalam artikelku yang lalu. Coba kita tanyakan pada umat, setelah beberapa waktu berselang dari selesainya shalat Jumat. Pertama, tanyakan surah apa di rakaat pertama dan surah apa di rakaat kedua. Kedua, tanyakan apa saja isi khutbah yang nempel dikepalanya. Ketiga… ach, rasanya dua saja sudah bisa membuktikan kualitas kita, maaf.. maksud saya kualitas saya sendiri. Karena saya toh tidak boleh men-generalisir. Saya paling tidak, sulit mengingat kembali surah apa yang dibaca di rakaat pertama dan rakaat kedua shalat jumat tadi, ketika ditanyakan pada saya pada saat menjelang ashar. Ada yang sama dengan saya? Namun semoga kita diberi kemudahan oleh Tuhan nan kuasa agar makin hari makin khusyu’ dalam shalat-shalat kita. Aamiin…

Pembaca budiman, ketika saya khutbah akan dimulai, saya sedikit perhatikan ada yang agak aneh bagi saya. Sang Khatib relative muda dan (maaf) menurut saya agak kampungan. Tapi beliau tidak membawa teks atau buku (dimasjid-masjid pelosok, adalah biasa bila khatib sekedar membaca buku “kumpulan kotbah jumat”). Fikir saya, lalu apa yang bakal beliau sampaikan? Apa akan mengandalkan (baca : menyombongkan) kehebatannya berbahasa arab? Karena tampang beliau membuat satu dugaan saya bahwa mungkin beliau jebolan pesantren. Atau lupa bawa kertas? Atau mungkin sebentar lagi merogoh saku dan mengeluarkan catatannya?

Namun ternyata tidak. Sungguh luar biasa ketika beliau dengan santun membuka khutbah dengan lantunan bahasa arab dan ayat Al-Quran dalam intonasi rendah. Lalu dengan perlahan beliau menjabarkan 6 hal perusak hati dan rusaknya nilai iman dimata Tuhan. Lengkap dengan hadist dan sanadnya. Tak ada tatapan sombong atau menggurui. Yang aku rasakan hanyalah bagaikan butiran-butiran nasehat bagai menetes sejuk. Saat sempat kulirik sekitar, rasanya tidak banyak perbedaan. Ada yang mengantuk dan ada yang tidak, just as usual. Atau hanya ku sendiri yang berlebihan?

Inilah ringkasan 6 perusak hati dan pembuat rusaknya nilai keimanan dimata sang Khalik :

  1. Tidak mau bertaubat (beiau menceritakan betapa Rasulullah bertaubat sekian puluh kali sehari. Apatah lagi kita mestinya. Lengkap dengan hadist sanadnya tanpa teks)
  2. Berilmu namun tidak mengamalkan (mencontohkan bahwa mengerti shalat itu wajib, zakat, puasa, dll tapi tidak diamalkan)
  3. Beramal namun tidak ikhlas
  4. Tidak mau bersyukur (tentu saja lengkap dengan “la’in syakartum…dst)
  5. Tidak ridho atas takdir yang terjadi kepadanya
  6. Mereka mengantar jenazah, tapi tidak memetik pelajaran

Pembaca budiman, sang khatib mengakhiri khutbahnya dengan mengutip surah At-Takatsur tanpa memberikan arti/terjemahnya. Bagi saya, itu cukup membuktikan kualitas sang Khatib yang begitu baik.

 

Akhirnya, kembali ke kita jua, dari 6 tadi diatas, berapa banyak kita berhasil menjaga kerusakan hati?

 

Wassalam,

Penulis

Shalat yang benar : cepat atau lambat ?

Ayah : Ayo adik, kenapa kok shalatnya cepet-cepet begitu? Shalat itu dibaca ayatnya bukan cuma naik turun kayak gitu..

Anak : tapi Yah, adik sebenarnya pingin mbaca, Cuma kalo adik pas ikut jamaah disekolah atau di mesjid, pasti adik baru baca sedikit trus sudah ruku’ atau sudah sujud, jadi ketinggalan deh nanti

Akupun terhenyak. Betapa tidak, kita, ya aku dan kau ternyata seperti itu dimata mereka.

Si anak diharuskan menghafal, diharuskan tepat waktu diharuskan berjamaah dan harus-harus yang lain, tapi faktanya, shalat kita Cuma sekedar seperti itu dan celakanya kita lalu menjadi contoh penting bagi mereka, jadi panutan.

Artinya, mereka sadar atau tidak, suka atau tidak, pada akhirnya mengikuti pola “umum” (baca : pola masyarakat muslim kita ini) yang berjamaah dengan begitu cepat tanpa tartil.

Coba lihat di mushalla, di langgar, surau, mesjid, atau jika kau belum atau jarang ketempat-tempat tadi, setidaknya saat jamaah dirumahmu sendiri (atau kau juga tidak pernah jamaah dirumahmu sendiri?), lalu coba rasakan, secepat apa atau selambat apa kita shalat. Betul, yang aku maksud adalah shalat jamaah, bukan shalat sendiri-sendiri.

Seperti pada tulisanku terdahulu, cara mengetahuinya sederhana sekali. Bila kau shalat maghrib misalnya, maka saat selesai isya (isya lho, bukan magrib) nanti coba kau ingat surah apa yang dibaca pada rakaat pertama dan kedua shalat maghrib tadi (bukan yang shalat isya barusan). Jika kau ingat, setidaknya kau tidak termasuk ”mudah melupakan”. Yah, kalau kau berjabat tangan dengan seorang raja, tentulah setidaknya seminggu masih bisa kau ingat dan rasakan (kecuali bila jabatanmu diatas dari raja). Jika kau membaca sebuah surah didepan Sang Pencipta dan Maha Penguasa, sungguh mestinya kita wajib mengingat surah itu hingga setidaknya 3 waktu shalat berlalu. Walhasil surah yang dibaca saat shalat maghrib tadi, maka disubuh nanti tetap masih kita ingat (bahwa maghrib tadi kita membaca surah tersebut).

Shalat : cepat atau lambat?

Paling sering kita dengar alasan dengan menggunakan hadis yang kira-kira berbunyi ”bahwa dibelakang kita boleh jadi ada orang-orang yang memiliki urusan atau sudah tua” (jika ada yang tahu persisnya plus sanadnya, mohon bisa di share ya..)

Itu dia, alasan bagi sang imam ketika dirinya terburu-buru dalam bacaan shalat.

Ada analogi lain yang lebih sederhana. Jika kau menonton bioskop dengan film bagus, maka 2 jam tak terasa, rasa ingin pipis jadi menyebalkan (karena khawatir tertinggal jalan cerita).

Tapi jika kau ruku’, seberapa lama ruku’ mu? Ketika saat itu kau ucapkan ”Maha Suci Engkau ya Tuhan, Maha Luar biasa, dan segala puji hanyalah bagi-Mu”. Coba pasang stopwatch-mu sekarang lalu baca kalimat ruku’ dengan benar dan nyaman, lalu hitung berapa lama. Lalu bandingkan dengan seberapa cepat kau memuji Tuhan dalam ruku’ yang sebenarnya.

Apa iya, kita ucapkan ”terima kasih” dengan cepat lalu menjadi ”makasih” lalu jadi ”kasih trus jadi ”masih” akhirnya tingga’ ”sih”. Bukankah itu yang kita lakukan saat kita bertasbih ”subhanallah alhamdulillah Allahu akbar”, berubah menjadi ”banallah… dulillah…wakbar”.

Duhai Tuhan, maafkan daku yang tak jua benar dalam ibadah. Ampuni khilafku wahai Sang Pemilik Neraka. Sungguh tak ada maksudku bermain-main dengan itu. Sungguh aku memohon bimbingan dan ridho-Mu, wahai Tuhan nan Maha Sayang.

Rekan pembaca budiman, mungkin itu artinya ”celakalah orang yang shalat, mereka lalai dalam shalatnya”. Semoga kita semua diselamatkan Allah dari itu semua. Semoga kita tidak termasuk yang meremehkan bacaan dalam ibadah. Semoga dimudahkan diri kita untuk beribadah dengan cara yang benar dan diridhoi-Nya. Aamiin

Wallahu ‘alam bis sawab

Penulis

Yuk berdoa (2) : Etika berdoa

23 April 2011

 

Benar, berdoa juga punya etika. Tidak bisa asal doa. Namun tulisan ini tidak hendak mendetilkan adab, tatacara, kriteria atau apapun juga yang pastinya sudah ada di banyak tulisan lain dan sudah begitu detail. Tidak lain tulisan ini hanyalah sekedar upaya membeningkan hati, bagi diriku sendiri dan bagi anda semua pembaca yang budiman.

 

Dalam tulisan pertama telah ditekankan pentingnya mengerti isi, makna dari doa yang dipanjatkan.

Kini mari melangkah sedikit bahwa doa yang baik mestinya memiliki etika. Mungkin seperti bahwa dalam shalat pun ada etika semisal tidak shalat sambil merokok, tidak mengobrol sambil shalat, dan sebagainya.

Berikut firman Allah dalam surah Yunus ayat 10 :

Do’a mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam”. Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin” (QS. Yunus : 10)

 

Mensucikan Allah, meninggikan Allah, mengagungkan Allah, itu yang pertama. Itulah pembuka doa. Karena doa berbeda dengan permintaan, karena doa bukan sekedar apa yang kita mau, kita butuh atau inginkan.

Tentu saja terserah Allah, jika semisal ada orang yang selalu saja berdoa tanpa etika tapi selalu juga dikabulkan. Juga terserah Allah bahwa seseorang telah memenuhi semua etika dan tidak kunjung juga dikabulkan. Semua keputusan ada pada Allah. Kita manusia diminta berupaya, berusaha, beribadah. Dan Allah sungguh menghargai proses, sebagimana IA menghargai proses Siti Hajar berlari tujuh kali bolak balik, maka senyatanya Siti Hajar juga sekaligus memberi kita contoh bagaimana berupaya, berusaha, berdoa, melakukan proses..

 

Maka bukalah doa dengan puja puji kepada Allah yang Maha Tinggi, yang Maha Suci, yang Maha Agung dan segala Maha lainnya. Lagi-lagi, bukannya Allah butuh puja-puji itu, tapi begitulah etika yang diajarkan-Nya dalam Al-Quran, jika kita sepakat bahwa Al-Quran sebagai huda (petunjuk) bagi kita.

Lalu salam penghormatan. Hormati Tuhan, tundukkan kepala dan angkat tangan secukupnya. Jangan biarkan tangan diatas pangkuan. Itu jelas tanda doa yang tidak niat. Juga tidak mengangkat tangan terlalu tinggi, karena berlebihan itu tidak disukai. Tunjukkan penghormatan kepada penguasa jagat raya, yang Maha mengenal diri, Maha halus dan Maha Perkasa..

 

Lalu penutup doa adalah Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin : Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Jadi, kembali lagi kita memuji-Nya. Itulah awal, tengah dan akhir doa.

 

Mari bandingkan dengan shalat. Dimulai dengan takbir, lalu segala puja-puji dan barulah ketika duduk diantara dua sujud maka ada doa disana. Lalu shalatpun berakhir dengan salam. Maka tidak salah – menurut saya – jika ada yang berpendapat bahwa shalat adalah doa dengan tata cara yang paling benar. Mohon jangan salah artikan menjadi jika ingin berdoa ya lakukan shalat saja, itu sungguh keliru.

 

Melangkah lagi dengan acuan surah lain yaitu surah Thaahaa ayat 7 : ”Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi”

Jadi mengangkat tangan, tidak mengucap terlalu keras, berpakaian rapi, menghadap kiblat, dan segala adab baik seyogyanya diterapkan saat berdoa. Itu menunjukkan kesungguhan. Ingat, sangat berbeda antara kesungguhan dan berlebih-lebihan. Menangislah bila itu memang membuat haru namun bukan meraung-raung.

 

Dalam surah Al-A’raaf ayat 56 disebutkan : ” Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”

Rasa takut dan harapan, itulah kunci dalam berdoa. Imam ghazali membuat buku tersendiri yang membahas detail tentang takut (Khauf) dan harapan (Roja’). Rasanya saya tidak cukup ilmu untuk menjelaskan hal ini. Namun dengan pemahaman sederhana saya, berdoa dengan rasa takut, bukan sekedar takut doa tidak terkabul, namun takut bila doa malah membuat murka, doa yang salah, atau tidak pada tempatnya. Sebagai contoh radikal, berdoa segera kaya padahal berusaha saja tidak mau atau padahal sebenarnya sudah cukup kaya. Ah, takut kepada Allah adalah sesuatu yang tidak sederhana untuk dijelaskan. Sebuah ayat Al-Quran dari surah Al-Fushshilat ayat 51 saya gunakan untuk dapat lebih menjelaskan : ”Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.”

 

Adapun harap, ini malah lebih sulit lagi. Bagaimana kita berani berharap ketika kita penuh dalam ketakutan. Harap disini bukanlah sekedar optimis, tapi berkeyakinan, berkeinginan kuat

 

 

Jadi, selamat berdoa..

 

Wassalam,

 

Penulis

Yuk berdoa (1)

21 April 2011

 

Sebenarnya kenapa doa kita tampaknya sering tidak terkabul?

Alasan yang disampaikan kadang bisa diterima, kadang mengada-ada. Ada yang bilang, ”bukannya tidak didengar karena bukankah Tuhan Maha Mendengar? Tapi doa boleh jadi ditunda waktu dikabulkannya, disesuaikan dengan waktu yang cocok. Atau malah memang tidak dikabulkan karena manusia tidaklah mengerti apa yang terbaik bagi dirinya”.

Juga sebagian memberikan sederet persyaratan doa agar bisa terkabul. Misalnya, apakah kita sudah bersedekah, sudah benar beribadah, adakah makan minum yang dikosumsi benar sudah halal, dan lain sebagainya.

Tambahkan lagi sejumlah ”keanehan” (nyleneh?) semisal berdoa dimakam orang tertentu, melafal zikir tertentu, dan lain sebagainya.

 

Bagi saya, lebih benar bila referensi dasar adalah Al-Quran dulu. Itu yang pertama. Mari ambil contoh di QS.Al-Ahqaaf ayat 5 yang artinya ” Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?”

Perhatikan kalimat ” dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?”. Jelas bahwa jika seseorang berdoa, maka ia mesti tahu betul apa yang ia maksudkan, apa yang ia ucapkan dalam doanya.

Contoh? Gampang saja. Semisal ada orang berdoa seperti ini, ”Allahumma ya Allah, sdfgiijnfasjjncv jkafduhfzskj ….” kira-kira cukup jelaskah doa itu? Bahkan tak satupun dimengerti. Oh tentu saja Allah Maha mengerti, bahkan IA telah mengetahui meski kita belum berdoa. Tapi yang ditegaskan adalah bahwa seseorang mestinya mengerti betul doa yang ia panjatkan.

 

Dekat rumah ada sebuah mushalla. Cukuplah orang-orang mulia yang hadir dan terus disiplin + kontinyu disana. Setiap sebelum shalat dan sesudah shalat mereka berdoa. Dari fardhu ke fardhu, doa yang diucapkan sama. Sehari..sebulan..setahun..bertahun-tahun maka itu seperti rapalan mantera yang keluar otomatis dari mulut kita. Lalu dimana esensi memahami arti doa?

 

Kita mulai dari sejak sebelum shalat. Sebelum iqamah, bersama-sama membaca, ”Astaghfirullaah hal adziim, minkulli zanbil adziim. Laa yaghfiru zunuuba illa Robbul ’aalamiin”. Ini dibaca 3 kali dan lalu barulah iqamah.

Ketika saya pertama ikut, sayapun terhenyak. Sungguh indah artinya,

”Mohon ampuni kami wahai Sang Maha Agung,

dari segala dosa-noda kami yang menggunung.

Tiadalah yang dapat mengampuni dosa ini selain Engkau wahai Tuhan semesta alam”.

 

Membaca itu dengan perlahan, sambil berdiri maju kedepan merapatkan shaf, menundukkan kepala dan menyadari betapa kita memohon maaf dan ampunan sebelum ibadah dimulai. Sepantasnya sudah mengalir air mata diujung pelupuk.

Tapi itu pertama. Esok hari berganti bulan lalu berganti tahun, maka tinggal hafalan yang tersisa bagaikan rapalan mantera. Tanpa esensi tanpa makna, na’uudzubillahi min dzaalik. Mungkin itu yang dimaksud sulitnya menghadirkan hati…?

 

Lalu shalat kita menjadi shalat yang ”begitu-begitu saja”. Mau bagaimana lagi? Lha wong dari sejak kecil sudah shalat? Kita sudah puluhan bahkan ratusan kali melakukannya.

 

Seperti seorang anak pertama masuk sekolah. Senang ia dengan baju baru dan sepatu barunya. Lalu ada kawan dan guru serta suasana yang semua baru. Lalu menginjak tahun ketiga, anak itu sudah begitu bosan dan mungkin malah sering berharap bisa bolos sekolah…

Walhasil, menjaga hati memang sulit. Mempertahankan memang sulit. Itulah pentingnya hati yang bening. Itu mengapa ada orang yang mengatakan bahwa ”sebenarnya setiap saat ada mukjizat, setiap waktu ada keajaiban. Tapi hanya bisa terlihat oleh mereka yang mampu merasakan. Yaitu yang memiliki hati yang cukup bening”

 

Maka pelajaran pertama tentang seri mengenal doa adalah : kenali apa yang diucapkan. Fahami dan mengerti. Jika tidak mengerti, maka itu kebodohan yang paling dasar bagi siapapun yang berdoa

 

Sebuah tips yang kurasa cukup jitu, diambil dari pengalamn saya sendiri saat memimpin rapat. Adalah biasa dalam meeting suasana menjadi seru dan kadang cukup panas. Saya mengakhirinya dengan memimpin doa,

Baiklah, kita akhiri meeting ini dengan sejenak menundukkan kepala berdoa,

”Allahumma ya Allah, Engkaulah Salam

Dari-Mu lah Salam

Dan kembali pada-Mu segala Salam

Hidupkanlah kami ya Rabbi, dalam Salam

Dan izinkan kami masuk dalam surga-Mu, negeri yang Daarus Salam”

Lalu saya meneruskan dengan membaca doa dalam bahasa arabnya : Allahumma antas salaam, wa minkas salaam, wa hayyinaa rabbanaa bis salaam, wa adkhilnal jannah daarus salaam. Tabaarok taarobbana wa ta aalaita yaazal jalaalil wal ikraam

Terima kasih dan selamat sore..

 

Itu saya lakukan dan memperoleh manfaat yang cukup baik, karena senyatanya ketika kita menggabungkan keindahan kata dengan doa itu sendiri maka akan lebih terasakan artinya. Masuk dan menghadirkan hati…

 

Doa diatas, sebenarnya adalah doa yang paling umum diucapkan setelah shalat. Yang seringkali dirapal cepat bagai kilat.

 

Jadi, selamat berdoa..

 

Wassalam,

 

Penulis

Duduk diantara 2 sujud

Salah satu dari rangkaian shalat yang begitu indah, adalah duduk diantara dua sujud.

Saat itulah semua untaian doa dirangkum. Ya, seluruh kalimat yang diucapkan saat duduk antara dua sujud itu adalah doa, seluruhnya..

Itulah doa yang diajarkan oleh Tuhan Sang Pencipta kepada mahluk yang dicipta-Nya. Rangkuman semua permintaan seorang mahluk dalam segala problematika hidupnya

Robbighfirlii…Tuhan ampuni diriku

Warhamni… kasihanilah daku

Wajburni… dan segala dosa dan salahku

Warfa’ni… dan derajatku

Warzuqni.. dan rezekiku

Wahdinii.. dan petunjuk bagiku

Wa aafinii.. dan kesehatanku

Wa’fua’anni.. dan maafkanlah diriku

Untaian itu dimulai dengan permohonan ampun, sebagai ungkapan kerendahan diri di depan Sang Khalik.

Diakhiri dengan permintaan maaf, agar IA berkenan dengan segala tutur dan pinta.

Adalah penting agar kita dikasihi, disayangi dicintai. Dari sekian milyar mahluk bernama manusia yang telah dan akan diciptakan-Nya, maka sungguh pantas bila kita perlu memohon sejuk kasih-Nya.

Sumpah-Nya jelas bahwa tidak semua manusia akan menerima kasih sayang-Nya. Jelas bahwa kenikmatan dunia bukanlah fakta bahwa seseorang diberi limpahan kasihnya.

Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari padaKu: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. As-Sajdah :13)

Begitu juga derajat dan rezeki. Manusia menamakan itu sebagai ‘kebahagiaan’. Dan bila hakikat bahagia adalah dimana tercapai ketentraman, maka rezeki, petunjuk, derajat, adalah inti bahagia itu sendiri.

Juga karena petunjuk itu adalah pemberian bagi mereka yang bersungguh-sungguh meminta. Bukankah sejarah membuktikan bahwa anak bisa saja mendapat petunjuk tapi belum tentu dengan ayahnya (baca lagi kisah Nabi Ibrahim a.s), atau justru anak yang tidak mendapat petunjuk (seperti kisah nabi Nuh a.s) atau bahkan istri/suami. Jelas bahwa petunjuk hanya diberikan kepada yang sungguh-sungguh meminta dan menginginkannya.

Dan kesehatan ternyata begitu sangat penting untuk kita memohon. Sehat lahir sehat bathin. Bagai Rasulullah s.a.w yang terus dalam kesehatan hingga akhir…

Maka terduduklah kita, tercenung dan meratap, betapa ingin kita dijaga, dikasihi, diangkat derajat, dijaga kesehatan, dijauhkan dari rezeki kotor, dan dimaafkan…

Lalu terserah pada-Nya. Adakah IA mengampuni, atau meninggikan, atau membersihkan (rezeki), atau memberi petunjuk, atau memberi kesehatan (lagi), atau memaafkan atau semua itu..

Maka dari logika paling rendah, manalah bisa kita berdoa semacam itu, doa sepenting itu, doa sedahsyat itu, hanya dalam hitungan detik/menit ? manakah bisa ? dan apalagi ada yang mengharap di ijabah ? atau shalatnya diterima ?

Sejujurnya diri ini hanya mengandalkan hafalan semata. Shalat yang tanpa jiwa. Yang karenanya maka bacaan doa dalam duduk antara 2 sujud menjadi suatu perkara biasa yang penuh reflex, langsung, cepat dan yaitu tadi, tanpa jiwa tanpa makna..

Lalu berapa lama itu berlangsung? Seumur hidup? Bayangkan…seumur hidup kita melakukan shalat dengan duduk diantara dua sujud semcam itu. Cepat, reflex, tanpa jiwa tanpa makna, tanpa tahu sedang apa kita sebenarnya…

Astaghfirullah hal adziim..

Ya Allah maafkan kami, ampuni kami. Sungguh kami dzalim terhadap diri ini…

Ketika nabi Yunus mengira Tuhan akan menyelamatkannya, maka perkiraannya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Maka dimakanlah beliau oleh ikan besar dan didalam perut ikan itu beliau tersadarkan.

Sungguh pelajaran berharga, agar kita tidak ‘sok yakin’ bahwa Tuhan Nan Pengasih akan terus mengasihi kita meski doa diantara dua sujud tidak kunjung dilakukan dengan sepenuh jiwa sepenuh makna.

Maka terpekurlah kita, dan sebagaimana nabi Yunus menyesal, selayaknya kitapun menyesal, “Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka, innii kuntu minadz dzaalimiin..”

Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku dzalim pada diriku sendiri (QS. Al-Anbiyaa :87)

Pembaca budiman, semoga kita diberi kemampuan menjalaninya, untuk tidak sekedar membaca doa saat duduk diantara dua sujud, tapi lebih dari itu, memahaminya, menghayati, menekuri, mentafakkuri, hingga jatuh tetes air mata haru, air mata sesal, air mata rindu, air mata bahagia..

Setelah sujud pertama, maka duduklah perlahan, tenang, santai. Jangan buru-buru berucap. Fikirkan doa yang akan kita baca. Bayangkan semua shalat kemarin yang tanpa hormat. Hormati Tuhan, akui kesalahan, lalu barulah mulai panjatkan doa. Perlahan dan cobalah berhenti diantara kalimat itu. Sampaikan betapa diri ini begitu ingin dikabulkan, begitu ingin didengar… Berdoalah dengan penuh harap dan cemas

Jika tidak mampu dalam setiap shalat, mungkin setiap hari, atau setiap minggu atau setiap tahun atau hanya sekali dalam hidup atau tidak pernah sama sekali..??

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS. Al-Baqarah : 186)

Wallahu ‘alam bis sawab

Penulis

Siapa yang paling sering didoakan dalam shalat?

Dalam shalat, ternyata ada orang yang senantiasa didoakan, selain tentu saja nabi besar Muhammad SAW.

Siapa itu? siapa orang yang ternyata senantiasa didoakan oleh mereka yang melakukan shalat? ternyata adalah “orang yang shaleh”

Ya, ketika kita melakukan tahiyat, maka kitapun membaca “Assalaamu alaina wa alaa ibaadikas shaalihiin” (salam juga bagi kami dan bagi hamba-hamba yang sahaleh).

Jadi, setiap orang yang shaleh akan selalu terdoakan oleh muslim yang sedang shalat. Paling tidak, 11 kali sehari untuk seorang muslim yang shalat fardhu 5 kali sehari mengucap doa itu ketika tahiyat. Tinggal dikalikan berapa banyak muslim yang shalat dalam satu hari itu (misalnya 100 juta orang) dan jangan lupa tambahkan persentase mereka yang shalat sunnah (misalnya 1 juta orang). Lalu kalikan juga jumlah hari dalam setahun (365 hari).

Maka, orang yang shaleh akan menerima begitu banyak doa. Masalahnya adalah, adakah kita telah lama mengetahui ini atau baru saja tahu? Lalu kemudian, apa itu orang shaleh? apa saja kriterianya?

Tapi sebaiknya tidak melangkah jauh dulu. Menyadari keuntungan menjadi orang shaleh, cukup dulu. Setidaknya kita sadar saja dulu betapa kita selama ini shalat barulah sebatas tahu, dan kini mari kita mulai ke tahap faham.

Faham bahwa shalat bukan sekedar rantaian ucap dan gerak. Faham bahwa begitu banyak makna terkandung di dalamnya. Faham setiap inti shalat. faham dan faham…

Tahu lalu faham. Bukankah itu hal yang sungguh berbeda? Dan tentu saja masih ada hal lain setelahnya

Semoga kita dimudahkan dalam pemahaman kita tentang shalat dan tentang islam dan tergolong sebagai hamba-Nya yang shaleh. Amin

Salam

Penulis

Syawal 1431 H

 

 

Ini malam takbiran. Besok sudah lebaran. Artinya sudah 4o kali aku bertemu dengan lebaran. Artinya ramadhan usai sudah. Ini malam adalah malam yang tepat untuk merenungi hidup, setidaknya 30 hari ramadhan kemarin dan atau hidupku sebelum itu..

Awal ramadhan kemarin kucanangkan 3 target : 1. Anak sulungku khatam juz amma (saat ini dia kelas 4 SD), 2. Istriku bisa lancar membaca Qur’an dan 3. Aku khatam Al-Qur’an seperti ramadhan-ramadhan kemarin.

Nyatanya hanya 2 yang tergapai yaitu point 1 dan 3. Syukur alhamdulillah, karena di dua per tiga ramadhan aku sempat yakin tak ada satupun yang tercapai (anakku tidak kunjung mencapai separuh juz amma, istriku datang bulan cukup lama dan aku terhenti di juz 10 saja). Tinggal sepuluh hari terakhir…lalu tinggal 8 hari lagi. Disitu tiba-tiba semua berubah..

Awalnya aku hanya bermenung di teras rumah, menyadari bahwa lailatul qadr menjadi sesuatu yang samar untuk diraih. Lalu entah mengapa aku tergerak untuk bangkit, menjadi malu dengan diriku sendiri dan lalu berkomitment. Dan setelah itu tiba-tiba saja aku sudah juz 16. Ketika lebaran tinggal 2-3 hari, aku sudah juz 28. Hingga kini aku tak tahu bagaimana kok aku bisa berjus-jus maju. Padahal – tidak seperti tahun-tahun lalu – aku membaca dengan berusaha tartil, berusaha menjauh dari sikap terburu-buru.

Singkat cerita, saat juz 28 itu, aku ajak anak sulungku untuk sama-sama selesaikan juz amma. Malam itu kami mengaji bersama. Sengaja mengaji sebelum terawih (juga entah kenapa kok tiba-tiba anakku semangat mau mengaji juz amma sama-sama). Kamipun mulai mengaji, dari pukul 20:00 hingga pukul 21:00 dan juz amma itu tamat, khatam, selesai. Allahu akbar…

Esoknya, giliran aku selesai. Tepat sehari sebelum hari terakhir puasa.

Sungguh, Allah memberi hidayah kepada siapa yang DIA kehendaki, memberi kemudahn pada siapa yang DIA kehendaki. Betapa aku bersukur bahwa aku merasa menjadi orang yang diperhatikan oleh-Nya..

Hingga akhirnya aku merasa bahwa itulah lailatul qadr-ku, pemberian dari-Nya yang sungguh indah…

Ya Allah, terima kasih atas apa yang KAU berikan pada kami. Sungguh ENGKAU Maha Penyantun, Maha baik, Maha peduli, Maha penyayang. Jadikan kami dan keturunan kami menjadi orang-orang yang senantiasa pandai bersyukur pada-Mu, khusyu’ dalam ibadah, sabar dalam musibah dan ikhlas atas segala putusan-Mu. Perkenankan kami masuk dalam golongan hamba-Mu yang Sholeh. Amin ya Rabbal ‘aalamiin..

Baru saja aku dan istriku dan anak-anakku jalan-jalan melihat keramaian takbir di jalan. Sungguh ramai, ada yang pawai, pukul beduk, berkeliling seperti kami, menonton di pinggir jalan dan juga memasang kembang api. Sungguh ramai dan macet. Tampaknya semua orang bergembira malam ini. Tapi betulkah? Fikiranku justru kepada mereka yang telah ditinggalkan keluarga. Ada yang yatim karena sang ayah telah berpulang, ada khabar dua hari lalu teman meninggal kecelakaan, ada orang tadi datang memohon “fitrah”. Dan akupun percaya, di malam gembira ini, masih cukup banyak orang yang belum mampu merasakan bahagia sejati. Aku yang malam ini berkumpul dengan istri dan anakku hanyalah sedikit dari mereka yang diberi bahagia oleh Allah. Bahagia yang hakiki. Selebihnya mereka masih kuyup dengan bahagia semu. Camkanlah bahwa, Bahagia adalah kondisi dimana kita mampu bersyukur setulusnya kepada Allah atas apa yang diberikan kepada kita..itulah arti bahagia

Wassalam,

Penulis

SYUKUR TERBESAR

“Kami jadikan pendengaran, penglihatan dan hati. Namun sedikit sekali kamu bersyukur”

Sam’i, abshoro wal af iddah, qoliilam maa tasykuruun. Begitulah firman Allah SWT dalam Al Quran sering kita dengar namun lepas dari perhatian.

Dengan sederhana para khotib dan da’i menjelaskan agar kita bersyukur atas semua benda fisik yang kita miliki. Misalnya saja telinga, hidung, mata, tangan, kaki lalu sedikit meningkat kepada harta benda, anak, istri, posisi/jabatan, dan seterusnya. Kita diminta mensyukurinya dengan menjaga agar semua itu tidak digunakan sebagai sarana dan wahana untuk hal-hal mudharat. Kita mesti memanfaatkannya dalam hal yang manfaat.

Tentu saja itu betul. Namun masalahnya, ketika begitu banyak pemberian Allah SWT kepadaku, ketika taffakkur-ku membawaku pada pencerahan bahwa Allah SWT seringkali justru memberikan bahkan sebelum aku meminta, dititik ini maka penyadaranku tentang syukur adalah bagaikan menemukan titik inti hakikat syukur itu sendiri. Maka syukur-ku yang tertinggi adalah : Bahwa Allah SWT adalah tuhanku. DIA lah yang dengan segala rahmat karunia-Nya telah membuatku terhenyak bahwa ternyata aku memiliki Tuhan yang begitu Maha Luar Biasa…

Sebelum masuk lebih jauh, aku perlu jelaskan bahwa diri ini pernah bertanya, mengapa Allah SWT menyindir/mengkritik dengan kalimat seperti diatas tadi. Mengapa Allah SWT tidak mengkritik dengan –misalnya– jabatan, kekayaan atau yang lain tapi dengan ‘sam’I dan abshoro dan af iddah’ ?

Lalu kuingat sedikit bahwa mata itu dalam bahasa arab adalah ainun, dan hati itu qolb (lalu menjadi kalbu dalam bahasa Indonesia). Aku tentu tidak ahli bahasa. Namun itu tadi sudah cukup bagiku untuk menyadari bahwa yang dimaksu Allah SWT bukan semata fisik telinga atau mata.

Lalu akupun terpana…

Allah SWT nan Maha Baik. IA menciptakanku menjadi seorang manusia ketika ada begitu banyak pilihan. Mengapa aku tidak menjadi keong, atau bintang atau semut atau malaikat??

Dan ketika aku “terpilih” menjadi manusia, IA memberiku orangtua yang baik. Lalu lingkungan yang baik, pendidikan yang baik, keluarga yang baik, tempat tinggal yang baik.

Andai Tuhan mau, maka aku menjadi manusia yang terlahir kafir. Atau mungkin tidak kafir pada awalnya namun tidak diberi cahaya sehingga lalu menjadi kafir. Namun Tuhan begitu baik. Kuyakini bahwa Allah SWT sungguh baik kepada semua manusia.

Lalu aku coba simak kisah Firaun sebagai contoh manusia kufur (kafir). Sampai sekarang aku masih bertanya, mengapa kisah Firaun begitu banyak disebut dalam Al-Quran?

Firaun merajalela. Menganggap dirinya sebagai Tuhan yang tertinggi. Minta disembah padahal ia tidak punya saham apapun dalam penciptaan langit dan bumi. Lalu iapun mulai membunuhi bayi-bayi kecil yang begitu lucu. Coba bayangkan, andai Firaun jadi raja Indonesia lalu dia suruh bunuh semua bayi yang baru lair di semua rumah sakit. Sungguh luar biadab..

Namun ternyata Allah SWT nan Maha Baik masih menanamkan pengharapan. Lalu IA mengutus Musa a.s. simaklah QS.Thaahaa dari ayat yang pertama hingga nanti di ayat 43-44. Disana Allah SWT mengabadikan pembicaraan-Nya dengan Musa. Yang menarik adalah bahwa Allah SWT meminta nabi Musa agar tetap berkata dengan lemah lembut meski jelas-jelas Firaun itu telah melampaui batas.

maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS.At-Thaahaa : 44).

Aku bertanya sendiri apakah jika Firaun lalu bertaubat maka Allah akan mengampuni? Meski telah begitu banyak nyawa bayi yang hilang? Lalu menjadi jelas bahwa Allah Maha Baik,Maha Kuasa, Maha Luar Biasa.

Maka syukur tertinggi bukan lagi karena mendapatkan rezeki yang banyak. Syukur tertinggi adalah penyadaran dan manifestasi sekaligus. Menyadari sepenuhnya kebaikan yang didapat, apapun itu. Dan menerapkan rasa syukur itu, rasa terima kasih itu dalam tindakan nyata. Kutulis lagi untuk diriku dan dirimu : Syukur tertinggi adalah penyadaran sedalam-dalamnya atas kebaikan dan manfestasinya sekaligus. Tidak terpisahkan. Artinya jangan berhenti di sekedar syukur tapi terapkanlah itu. Mata, telinga, hidung, tenggorokan, nafas, tangan, kaki, hati, kendaraan, pasangan, anak, rumah, sifat lembut, sifat sayang, sifat, apapun itu maka masing-masingnya mesti di-implementasi sebagai wujud nyata dari syukur itu sendiri.

Bersyukur bahwa diriku muslim artinya penuhi kewajiban dan tinggalkan larangan. Shalat wajib, shalat tepat waktu, shalat berjamaah, lakukan semua, kontinyu. Mudah? Mengatakan..menuliskan..begitu mudahnya. Menjalankan dengan sepenuhnya (kaffah) itu yang sama sekali tidak mudah. Maka jelas bahwa surga itu mahal dan hanya diberikan pada mereka yang mampu menapaki-nya. Dan apakah ada pilihan selain itu? Kurasa tidak. Hidup ini bukan pilihan. Surga dan neraka bukanlah pilihan. Adakah yang memilih neraka bagi kebaikan dirinya? Sungguh benar firman-Nya : Allah mengilhami sukma. Beruntung bagi yang mensucikannya..merugi bagi yang mengotorinya..(QS. Asy-Syamsi)

 

Wallahu ‘alam bis sawab

Penulis

ADZAN : panggilan untuk kita atau bukan?

 

Jangan marah dulu dengan judul tulisan ini. Sungguh saya hanyalah sekedar menarik perhatian pembaca budiman agar bersama-sama kita menekuri maksud adzan ini.

Perkenankan  saya bercerita sedikit, ketika saat itu waktu zuhur tiba. Adzan berkumandang dari speaker mesjid yang juga tidak terlalu besar. Saya kebetulan memang berniat shalat zuhur di mesjid itu.

Masalahnya, ketika berjalan menuju mesjid saya melewati pinggir jalan raya yang cukup ramai. Tiba-tiba saja saya merasa sangat-sangat bersyukur betapa dari begitu banyak pengendara (mobil-motor,dll) dan pejalan kaki yang lalu lalang, saya ini termasuk yang pergi untuk shalat zuhur di masjid.

Entah kenapa ini kenyataan ini mengagetkan saya. Lalu, ketika saya sampai di masjid, berwudhu dan shalat sunnah serta akhirnya shalat zuhur, saya justru makin kaget. Ternyata yang datang untuk shalat zuhur kebanyakan adalah orang yang “itu-itu” juga.

Pembaca budiman, sekarang saya cerita hal lain lagi yang ukan kejadian sesungguhnya. Saya bayangkan diri saya yang sama sekali tidak terkenal ini tiba-tiba mendapat undangan dinner party dari bapak Presiden RI. Bayangkan, sebuah undangan formal dengan amplop harum besar gagah dari presiden RI untuk diajak dinner party yang tentu saja tidak semua orang boleh ikut. Bisa anda bayangkan apa yang akan saya lakukan.

Tentu saja saya akan memakai baju saya terbaik, parfum terbaik dan saya pastikan satu jam sebelumnya sudah siap dengan segalanya. Saya pastikan saya akan menjaga perilaku, tidak berdehem apa lagi menguap di depan yang mulia bapak presiden RI.

Perhatikan saat adzan subuh tiba. Coba sesekali ikuti “undangan” itu. Anda akan dapati umumnya jamaah yang hadir adalah “itu-itu” juga.

Tentu saja, adzan adalah panggilan untuk shalat berjamaah di masjid. Perhatikan yang bercetak miring tebal. Jadi bukan undangan untuk shalat sendiri-sendiri atau berkelompok di tempat yang bukan mesjid (misalnya di ruang meeting).

Adzan adalah undangan yang sifatnya terbatas. Kita semua yang memiliki telinga sehat boleh saja mendengar, tapi hanya “yang diundang saja” yang boleh hadir dalam acara shalat jamaah tersebut. Silahkan perhatikan di saat-saat adzan tiba di masjid dekat anda. Menakjubkan bukan?

Perhatikan lagi sifat orang-orang saat mendengar panggilan adzan. Caranya? Coba lihat ketika shalat jumat tiba. Setelah selesai adzan cukup banyak yang angkat tangan untuk berdoa setelah adzan. Bandingkan dengan shalat-shalat biasa selain jumat. Menakjubkan bukan betapa sifat manusia…

Kini coba perhatikan bagaimana seharusnya kita menjawab adzan. Jika kalimat “Allahu Akbar” x2 maka kita menjawab dengan kalimat yang sama. Namun pada saat kalimat “hayya ‘ala sholah” (ayo dirikan shalat) maka kita jawab dengan “laa haula walaa kuwwata illaa billaah” (tiada daya upaya kecuali dengan izin Allah)

Sungguh mengenaskan…

Apakah mereka yang mengikuti panggilan adzan dan shalat jamaah di masjid lantas menjadi “undangan pilihan”? menurut saya : iya. Tapi apakah itu jaminan kebaikan? Saya tidak tahu.

Lebih menarik untuk membahas mereka yang tidak diundang. Apakah lalu mereka adalah bisu, tuli sehingga tidak mampu lagi mendengar dan mengikuti panggilan Ilahi? Ataukah mereka termasuk kaum yang “tidak/belum mendapatkan izin”?

Mereka atau kita??

Yang pasti bagi saya, ini membuktikan satu hal : surga memang tidak murah dan yang kedua, memang sulit untuk memiliki hati yang bening

Salam,

Penulis

2 Kisah shalat

 

Kisah ke-1:

Alkisah, sang pembela Islam Ali bin Abi Thalib tertancap mata panah di punggung saat pasukan Islam menggempur musuh.

Beliau sungguh kesakitan, dan tak ada cara lain kecuali mencabut mata panah itu.

Lalu dalam kesakitannya Ali bin Abi Thalib berkata, “cabut mata panah ini saat aku berdiri di rakat kedua..”

Lalu Beliau menunaikan shalat sunnah 2 rakaat. Pelan, tenang, tuma’ninah. Tak ada lagi tanda kesakitan di wajahnya yang tunduk khusyu’ Rakaat kedua tiba dan mereka mencabut anak panah itu. Tak ada tanda kesakitan. hanya darah segar yang mengalir deras. Luka segera diobati.

Setelah salam akhir shalat, sang pembela Islam ini bertanya, “Sudahkah dicabut mata panah tadi?”

Kisah ke-2 :

Syahdan Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Bilal : Wahai Bilal, jadikan shalat sebagai tempat istirahat-mu

RENUNGAN :

Dari kisah ke-1, yakin tidak satupun kita mampu shalat hingga taraf khusyu’ seperti itu. Setidaknya kita bisa tahu bahwa khusyu’ kita belum sempurna sehingga (semoga) bisa menjadi lebih baik dari sekarang. Tentu saja ini hanya berlaku bagi si bening hati…

Dari kisah ke-2 : Yang saya rasakan, ruku’ yang lama itu menyegarkan, sujud yang lama itu menentramkan. Pada akhirnya, mudah dengan menjawab pertanyaan selesai shalat : adakah shalat yang barusan tadi menyegarkan kita? Bila jawabannya YA maka fungsi shalat selaku tempat istirahat terpenuhi. Bila jawabannya TIDAK ya berarti (mungkin) belum sampai taraf itu.

Di titik puncaknya, ini sesuai dengan seruan azan setiap subuh (as-shalah khoirum minan naum : shalat itu lebih baik dari tidur).Shalat yang khusyu’ menjamin kesegaran dan kebugaran setelah melakukannya. Lagipula, mana yang lebih indah selain dari beristirahat dibawah naungan teduh ridho-Nya.

Ya Allah, jadikan kami (aku dan pembaca) mampu khusyu’ dalam shalat-shalat kami

wassalam,

PENULIS

Ketika Waktu Jumat tiba

 

Masih suara mengaji dari speaker besar di puncak menara mesjid dan orang-orang (termasuk diriku) berbondong-bondong memasuki mesjid besar itu.

Kulihat cukup banyak yang ‘berbusana muslim’, sementara diriku sendiri – apa boleh buat – masih dengan seragam kerjaku. Bau harum nan wangi menyeruak (mungkin lebih bagus : semerbak) masuk langsung ke kalbu, membuat diri terasa tenteram. Sebagian mereka ada yang sempat mandi sementara sebagian lainnya (termasuk diriku yang memang waktunya mepet, maklum orang kantoran) mencukupkan dengan berwudhu.

Adzan pertama berkumandang yang dilanjutkan dengan sebagian orang melakukan shalat sunnah. Lalu naiklah sang Khatib ke atas mimbar dan berkumandanglah adzan kedua.

Seperti mesjid dimanapun juga, siraman rohani dari sang khatib hanya ada dua kategori, menarik atau tidak menarik yang tentu saja sangat subyektif tergantung dari masing-masing insan pendengarnya. Tapi bukan itu yang akan dibahas ditulisan kali ini.

Dalam tiap shalat Jumat, fenomena yang kulihat dimana-mana cenderung sama, ada yang terkantuk-kantuk, ada yang “kelihatannya” memperhatikan, dan ada yang “memang“ memberikan perhatian sepenuhnya.

Pernah kutulis bahwa bagiku, salah satu dari banyak kriteria tentang shalat yang khusyu’ adalah ketika seseorang itu menguap. Jika anda menguap ketika menyampaikan pidato pertanggung jawaban anda di depan majelis tinggi, itu adalah hal yang belum pernah saya lihat. Jika kita menguap ketika berhadapan dengan Sang Maha Agung Pencipta planet, asteroid, galaxy dan seluruh jagad semesta termasuk semut yang merayap di bawah keyboard, pantaskah disebut khusyu’? (tapi ini khan sekedar opini saya sendiri).

Jadi, terkantuk-kantuk saat mendengarkan khutbah jumat, semestinya menjadi hal yang luar biasa aneh. Coba fikir, sejak dirumah sudah mandi. Baju muslim plus minyak wangi. Tapi ketika khutbah menjelang lantas terkantuk-kantuk. Lalu kepada siapa dia bersiap-siap sedemikian rupa? Lalu bagaimana dengan yang tertidur? Bukankah tidur diwaktu khutbah katanya boleh?

Terlepas dari segala dalil yang dikemukakan, hemat saya jika seseorang sudah tidak mampu menghormati Tuhannya ketika sebelum shalat, maka tipis kemungkinan bahwa orang itu bakal menghormati (baca : khusyu’) ketika shalat.

Maka mampukah kita menjadi orang-orang yang bisa dibanggakan Tuhan, seperti ketika DIA membanggakan Adam A.S di depan makhluk-Nya?

Wassalam,

Penulis

Hasil dari ESQ

Sekian bulan sudah berlalu sejak aku mengikuti training hebat ini. Dan terasa makin pudar dari hati. Maka aku menulis ini, untuk mengingatkanku lagi dan mungkin pembaca yang budiman yang juga merasakan hal yang sama. Masih kuingat hari itu, hari ketiga dan terakhir masa training. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk 2 hal :

  1. Khusyu’ dalam shalat
  2. Mengaji (kembali) tiap malam jumat setelah maghrib

Hari pertama aku shalat zuhur berjamaah disebuah mesjid. Penyadaran muncul ketika azan dikumandangkan. Siang itu begitu panas dan aku berjalan dari kantor menuju mesjid yang memang tidak terlalu jauh. Azan itu begitu jelas terdengar oleh semua. Aku perhatikan dijalan yang ramai itu dan aku membatin, “tentulah semua mendengar “u’ndangan Allah’ ini. Tapi memang surga itu tidak murah. Maka bersyukurlah aku, tergerak atas kekuatan-Mu dapat memenuhi undangan itu. Dari begitu banyak manusia yang lalu lalang, dengan keindahan maupun kesederhanaan ‘duniawi’-nya, aku ‘dipilih’ utk menghadiri undangan-Nya.

Ketika shalat, aku perhatikan mayoritas adalah ‘kaum tua’. Sang Imam membaca begitu cepat (menurutku) sehingga aku merasa begitu tidak nyaman. Batinku, “mestinya, tidak begini kita menghormat pada Tuhan”

Malamnya, aku menangis dalam shalat. Ketika menyadari arti “innaa shalaati wa nusuki…dst” yang terjemah bebasku adalah : sesungguhnya shalatku ini, dan ibadah ini, dan hidup ini dan mati nanti semua bagi Allah, Rob semesta (aku bayangkan betapa planet dan galaxi tersebar begitu luas).

Lalu ketika menyadari arti “laa syarikalahuu..wabizaalika umirtu wa anaa minal muslimiin”, akupun menangis. Inikah aku, menyatakan diriku sebagai seorang muslim? Yang tidak juga becus menghormati Tuhan dalam shalat-shalatku. Padahal shalat inilah yang pertama dihisab nanti. Padahal aku sedang berhadap-hadap dengan menciptakanku. Betapa diri ini tidak memiliki rasa hormat kepada-Nya. Aku menangis dan menangis…

Ketika subuh tiba, aku ke mesjid (yang ini di dekat rumah sekitar 300m). Lagi-lagi didominasi dengan ‘kaum tua’ dan lagi-lagi dengan bacaan sang Imam yang terasa bagiku begitu cepat. Dalam batinku berkata, “bagaimana bisa ketika kita mengucap “robbighfirlii…warhamniii..dst”, yang itu semua adalah doa, yang itu semua adalah permintaan, tapi dibaca merepet cepat dan langsung sujud lagi. Itukah namanya penghormatan kepada Tuhan?

Maka ketika aku keluar dari masjid, aku menengok ke atas, ke langit gelap yang masih ditebari bintang kemintang lalu meleleh air mata ini. “Tuhan, adakah Kau terima shalatku yang baru saja tadi?” (di waktu berjamaah dalam mesjid air mataku tidak bisa keluar, entah kenapa)

Tapi pada hari ketiga shalat subuh, barulah kusadari, bahwa para jamaah, sang muadzin dan sang Imam mereka adalah adalah mahluk yang mulia. Ketika mereka terpilih untuk bisa konsisten selalu hadir disetiap subuh sementara sebagian lainnya (termasuk aku) hanya “datang dan pergi” atau bahkan meremehkan dengan menunda shalatnya hingga terang tiba.

Sebulan kemudian, aku makin “longgar”. Kerak dihati kembali tebal. Kini sulit sekali bagiku untuk bisa menangis dalam shalat-shalatku. Adakah DIA meninggalkanku? Ataukah aku yang begitu bodoh menjauhi-Nya? Kurasakan, semakin banyak nikmat diberikan, justru semakin sulit untuk bersyukur. Makin tenggelam dalam ‘kedzaliman diri’. Padahal Tuhan menegaskan (mohon maaf aku lupa ayat-nya) : “jika kita bersukur maka Allah menambahkan nikmat, dan jika kufur maka azab Allah sangatlah pedih”

Jelas aku tidak sedang menanti azab (siapa sih yang suka diazab). Tapi yang tidak kumengerti, mengapa aku kehilangan tangis dalam shalat dan doa? Padahal yang kubaca adalah sama dengan yang kemarin. Ada yang bilang bahwa khusyu’ itu ‘hadiah’. Kemarin aku merasakan begitu nikmat dan lezat saat bisa menangis dihadapan-Nya. Namun entah kenapa kini kenikmatan itu menghilang begitu saja.

“Ya Allah Tuhanku yang baik, janganlah Kau ambil kembali hidayah yang telah pernah Kau berikan. Maafkan daku karena itu pasti akibat kebodohanku sendiri. Kumohon penuh kerendahan hati, ijinkan daku untuk mampu menghormati-Mu, menjaga khusyu’-ku, tuma’ninah dan istiqomah. Seperti Musa A.S pernah memohon, demikian kini aku memohon hal yang sama, agar berkenan kiranya Engkau memberikan rahmat dari sisi-Mu kepadaku. Agar mampu diri ini menapak di atas jalan shirath mustaqim itu. Jalan yang penuh nikmat didalamnya. Agar tetap diriku dan keluargaku dalam garis edar-Mu…”

“Robbanaa atinaa fiddunyaa khasanah” : Tuhan yang perkasa, ijinkan daku memperoleh kebaikan di dunia. Tutupi segala kekurangan dan tinggikan derajat kami. Jadikan kami hamba-hamba yang dapat Kau banggakan, sebagaimana Kau membanggakan Adam A.S didepan mahluk-Mu

“Wafil aakhiroti khasanah” : Dan ijinkan kami memperoleh kebaikan di akhirat. Kebaikan di alam kubur, diamankan di padang mahsyar, dan mencicipi kelezatan jannaatun na’im.

“Wa qinaa adzaaban naar” : dan selamatkan kami, jauhkan kami dari azab yang membakar


Wassalam,

Penulis

ESQ yang luar biasa

Waktu itu saya tiba-tiba diminta ikut training ESQ. Bos saya tidak bisa ikut, entah kenapa. Tentu saja saya menolak. Kalau Cuma training di sebuah hotel yang relatif dekat rumah, itu sama sekali tidak menarik. Lagipula, siapa sih yang yang butuh training pengembangan diri? Dari dulu juga sudah tahu. Buku semacam itu juga sudah banyak saya baca dan isinya “begitu-begitu” juga. Saya baru tertarik jika training – training apa saja – jika diadakan diluar kota. Jadi bisa sekalian mengajak keluarga berlibur (seperti yang biasa selama ini terjadi). Diperparah lagi waktu trainingnya adalah jumat, sabtu dan minggu. Apa tidak tahu, kalau hari minggu itu adalah waktu berkumpul dengan keluarga?

Begitulah, akhirnya saya dengan “rasa terpaksa” dan “pesimis luar biasa” datang ke tempat training dengan naik sepeda (hotelnya dekat rumah). Namanya “training ESQ Professional angkatan ke-2”. Di kota kabupaten yang boleh jadi anda belum dengar namanya.

Disana masih pagi, tapi saya lihat sudah begitu banyak mobil “pembesar” parkir dengan rapi. Saya tambah malas. Lalu mendaftar dan melihat sekilas ruangan besar yang sudah disulap menjadi berkarpet. “Lho, trainingnya duduk dilantai?”, saya makin tambah tidak suka. Satu-satunya yang menarik adalah kumpulan sound system dan layar lebar (lumayanlah, sekali-kali lihat bioskop yang nota bene tidak ada di kota sini. Apalagi memang dasarnya saya hobby nonton film). Dan training-pun dimulai…

Hari pertama tidak terlalu berkesan apa-apa. Kalau “Cuma” teori seperti itu, saya dari dulu sudah tahu.

Hari kedua, saya katakan ke teman saya (kami berenam dikirim dari kantor), “rasanya air mata ini habis sudah” dan kami kembali saling berpelukan.

Hari ketiga (hari terakhir) saat istirahat akhirnya saya berkata kepada teman saya lagi, “ternyata, air mata ini tak akan pernah ada habisnya. Sungguh luar biasa…”

Setiba di kantor pada senin pagi, saya sempatkan bertemu dengan orang yang “memaksa” saya pergi training. Saya katakan, “terima kasih sekali saya telah diikutkan traing yang luar biasa ini. Anda mesti ikut juga. Ini sungguh luar biasa.”. Tak cukup dengan itu, saya ajukan presentasi (biasanya saya tidak pernah melakukannya) yang dengan sengaja saya undang pihak HRD dan pejabat teras di kantor saya. Saya sampaikan betapa training ini bagus dan perlu.

Beberapa bulan kemudian diadakan lagi training angkatan ke-3. Semula saya bingung bagaimana cara agar istri saya bisa ikut. Anak saya masih 2 tahun dan pembantu di rumah hanya bekerja 6 jam sehari kemudian pulang. Tapi memang kemudahan akan ada dimanapun juga bila dikehendaki-Nya. Ketika saya ngobrol dengan sesama alumni, maka beliau bercerita bagaimana ia memboking kamar hotel untuk istrinya agar tiap istirahat bisa mampir sebentar agar bisa menyusui anaknya.

Saya tidak perlu booking hotel. Tapi alhamdulillah istri saya bisa ikut setelah pembantu setuju untuk selama 3 hari bekerja hingga istri saya pulang.

Begitulah. ESQ telah memberikan kesadaran penuh pada diri ini, bagaimana mensikapi hidup.

Memangnya apa itu ESQ?

Sejumlah orang yang pernah ikut, memberikan pendapatnya masing-masing. Yang belum ikut dan “sok tahu”, memberikan persepsinya masing-masing.

Saya sendiri sulit menjelaskan, karena khawatir nanti ada hal yang sifatnya royalti yang sebenarnya tidak boleh disebarluaskan tanpa ijin. Namun kepada teman-teman sekeliling, saya menyatakan seperti ini, “jika ingin merasakan bagaimana gunung meledak (ketika nabi Musa ingin melihat Tuhan), atau mendengar gemuruh neraka, maka ikutlah training ini”. Motonya juga “feel the experience” yang saya rasa sangat cocok.

Hikmah yang saya peroleh

Yang paling nyata adalah penyadaran diri saya sendiri. Kini saya makin menghormati Tuhan. Betapa senang ketika bisa menagis dalam shalat dan doa. Namun sekian lama berlalu, rasanya perlu charging kembali.

Berikut sedikit tips agar bisa khusyu’ :

• Saat wudhu, kenanglah sebuah ayat yang menyatakan (kira-kira) : “dari air kami menjadikan segala yang hidup” (mohon maaf saya lupa ayatnya). Dengan demikian kita bisa bersahabat dengan air wudhu kita

• Setelah wudhu, resapi arti doa-nya : Allahummaj ‘alni…dst (arti bebasnya kira-kira : “Ya Allah, semoga Kau terima taubatku, dan semoga Kau sucikan diriku, Semoga Kau masukkan diriku kedalam kelompok hamba yang sholihin”)

• Sebelum shalat, yakinkan : jika nanti kita menguap, pasti kita sedang tidak fokus, tidak khusyu’ dan tidak hormat kepada-Nya.

• Usahakan memahami setiap arti bacaan shalat. Perhatikan misalnya, ketika berdiri setelah ruku’ (sami Allahu liman hamidah : Tuhan mendengar hamba yang memuji-Nya). Adakah kita sedang memuji-Nya? (robbanaa walakal hamd…dst) itu semua memuji Tuhan. Maka pantaskah berdiri dengan hanya sebentar?

Lalu saat duduk diantara dua sujud (robbighfirlii, warhamnii…dst) cobalah memahami setiap patah (pertanyaan menarik : ini semua doa. Mengapa dimulai dengan “Robbighfirlii” :Ya Robbi ampuni daku dan diakhiri dengan “wa’fuannii” : Dan maafkan diriku. Apa beda ampun dan maaf). Dengan demikian, seyogyanya duduk diantara dua sujud disesuaikan jeda waktunya dengan apa yang dibaca.

Lalu ketika Tahiyat, perhatikan pengakuan bahwa segala milik Tuhan (attahiyaatul, mubaarokatsh sholawaatut thoyyibatullillaah). Penghormatan, berkah, kedigjayaan itu semua milik-Nya. Dan kalimat terakhir sebelum salam : “innaka hamiidum majiid”. Hamid dan majid, coba diresapi kedua arti tersebut.

• Ketika selesai shalat, ada bacaan : Allahumma antas salaam…dst. Bacalah perlahan dan resapi maknanya : Wahai Allah, Dikaulah salam.. dari-Mu lah salam dan kembali padamu salam. Maka kumohon dengan serendahnya, berkenan kiranya Dikau menghidupkan daku dalam salam, dan adakah berkenan Dikau mengijinkanku masuk kesurgamu, negeri daarus salaam…dst

• Jika kita shalat di masjid, entah siang atau malam, maka ketika melangkah keluar, cobalah melihat kelangit di atas lalu tanya pada hati sendiri, “wahai, adakah shalat yang barusan ini diterima ?”

ESQ yang saya ikuti, di”piloti” oleh “kapten” Legisan Sugimin. Sungguh luar biasa cara beliau membawakannya. Karena hemat saya, ini tidak hanya materi training tapi juga pembawa-nya merupakan faktor dominan.

Yang paling berkesan adalah ketika burung itu terbang tinggi diantara tebing dan ngarai, dengan iringan musik yang dipilih secara apik. Saya bisa bayangkan diri saya saat ini dengan kedua tangan melebar seperti sayap dan meliuk seperti burung itu, terbanglah jiwa ini…terbang.. menuju kemana? Adakah kita tahu, menuju kemana?

Maka terbangnya jiwa itu akan selalu saya coba resapi disetiap malam-malam sunyi sebelum tidur. Adakah jiwa ini merindukan-Nya?? Tapi mengapa diri ini terasa begitu jauh dari dekap-Nya? Megapa tak ada air mata lagi yang menetes dalam shalat dan doa? Ataukah hanya dalam ESQ yang 3 hari itu? Padahal itulah air yang mampu memadamkan api neraka.

Wassalam,

Penulis

Notes : Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penuturan. Semata-mata hanya ungkapan hati yang mendamba kebaikan


Silahkan klik DISINI utk mengetahui ttg ESQ

SELF CONSCIENCE

Siapa aku?

Semestinyalah setiap diri menanyakan kepada dirinya sendiri, “Siapakah aku?”. Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana namun sungguh mendasar. Dari jawaban itu maka setiap diri kemudian bisa menentukan sikap.Persis sama dengan analogi permainan bola. “Siapa aku?, kamu adalah kiper. Maka dengan begitu dia tau harus melakukan apakah dia. Bagaimana menjadi kiper yg benar dan mumpuni.

Mengapa aku menjadi manusia? Mengapa bukan jadi sebatang pohon atau gunung atau ayam seperti di halaman rumah, atau menjadi cicak di dinding atau batu yang kecil yang teronggok dipinggir jalan dan terabaikan. Atau menjadi awan yang megah diatas, atau menjadi setan atau menjadi malaikat. Mengapa aku menjadi manusia?Ini semua nanti akan berentet kepada pertanyaan yang lebih sering dijumpai, “mengapa aku lahir disini bukan disana, mengapa aku laki-laki bukan perempuan atau sebaliknya. Mengapa aku buta sementara yg lain melihat, atau sebaliknya. Mengapa hidung ini satu dan mata ini dua, mengapa orang tuaku miskin/kaya, mengapa dan mengapa.Tapi sebelumnya mesti dijawab pertanyaan yang pertama, “mengapa aku menjadi manusia?”. Siapakah aku?

Proses penciptaan Manusia

Manusia (katanya) diciptakan dari tanah, sementara malaikat dari cahaya dan setan dari api. Dari apakah cicak atau pohon atau awan?

Disini perlu yang namanya iman. Sesuatu yang tidak bisa terjawab, akan terjawab oleh iman.

Ketika Tuhan mencipta manusia, maka IA membanggakan manusia hasil ciptaannya itu. Ia minta malaikat dan jin sujud kepada manusia. Apakah ketika jin dicipta lantas malaikat diminta sujud juga (atau sebaliknya, karena kita tidak tahu mana yg lebih dulu dicipta, malaikat atau jin). Bagi yang tidak beriman akan capek dengan pencarian jawaban : Apa betul manusia dibuat dari tanah? Mana lebih dulu dicipta, jin atau malaikat? Apakah disuruh sujud juga atau tidak? Bertanya khan ngga’ bayar dan sah-sah saja. Tapi mengapa tidak fokus saja dengan pertanyaan pertama tadi, “Mengapa kita dicipta?”, yang kemudian saya juga malah melanjutkan dengan “mengapa manusia begitu dibanggakan oleh Tuhan?”

Jawabannya semua ada di Al-Quran. Manusia dicipta untuk menjadi khalifah dimuka bumi. Kata ‘khalifah’ mungkin lebih tepat diartikan sebagai ‘rahmatan lil alamiin’.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah :30)

Khalifah adalah sebuah amanat yang bagaimanapun juga akan dimintai pertanggung jawaban.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. Al-Ahzaab :72)

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (QS. Al-Qiyaamah : 36)

Ada juga yang mengartikan khalifah sebagai ‘pemimpin’. Boleh jadi itu benar, namun masalahnya pemimpin itu ada yang jelek ada yang baik. Tentu yang dimaksud Tuhan adalah pemimpin yang baik.

Oke, sekarang sudah jelas bahwa predikat manusia adalah ‘khalifah’ dan itu adalah ‘amanat’ (seperti juga kiper yang punya amanat menjaga gawang).Tapi, jika kiper menjaga gawang, manusia tugasnya apa?

Khalifah-nya manusia

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzaariyaat : 56)

Wamaa kholaqtul jinna wal insa illaa liya’buduun

Ternyata tugasnya Cuma satu : MENGABDI (liya’buduun) kepada Allah.

Adapun yang lain, saling menasehati dengan sabar, beriman, melakukan shalat, puasa, zakat, tidak menghardik anak yatim, mencintai tetangga, saudara seiman, dll itu adalah manifestasi dari kata ‘mengabdi’ tadi.‘Mengabdi’ dasar katanya ‘abdi’ atau hamba sahaya atau budak belian. Pernah punya budak? Yang setahu saya, definisi perbudakan secara murni adalah sungguh-sungguh budak, dalam arti ‘apa-apa sesuai titah tuan-nya’. Sebuah pengabdian tanpa reserve, pengabdian total, abis-abisan…Kata ‘budak’ konotasi-nya cenderung negatif, semena-mena, tidak beradab dan lain-lain. Namun disini dipakai istilah mengabdi, menghamba dengan maksud agar konotasi-nya positif. Dan memang sebenarnyalah bahwa menjadi hamba Tuhan justru mendapatkan anugerah yang tidak terperi. Itu janji Tuhan dan “innaka laa tukhliful mii’aad” (DIA tidak pernah melanggar janji).

Trus gimana caranya mengabdi ‘abis-abisan’ kepada Allah?

Ada caranya, ada manualnya, ada prototype-nya. Itulah Al-Qur’an, Hadist dan tidak tanduk Rasulullah. Ya Cuma tiga itu aja. No more no less. Simple? Memang, tapi bukan hal yang dimudah-mudahkan

Satu hal tambahan adalah bahwa kita ternyata bukan satu-satunya yang bertugas mengabdi kepada Tuhan.

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (QS. Ar-Ra’d : 15)

Mengapa dibanggakan?

Ada pertanyaan yang menarik tadi, kenapa setelah mencipta manusia, ada acara malaikat & jin diminta sujud?

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah : 34)

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang”, mereka menjawab:”Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman). (QS. Al-Furqaan : 60)

Saya sendiri ngga’ tahu mengapa manusia dibanggakan oleh Tuhan. Mungkin karena ada mengandung tiupan ruh-Nya?

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS. Al-Hijr : 29)

‘Ruh’ yang dimaksud, diterjemahkan oleh sebagian orang sebagai ‘percikan dari Asma’ul Husna’. Terserah apakah anda percaya atau tidak. Tapi satu hal jelas, bahwa Tuhan membanggakan ciptaan-Nya yang bernama manusia ini sehingga perlu bagi-Nya agar mereka yang lain melakukan penghormatan.

Jika anda, bayangkan sebagai murid di seluruh sekolah, dibanggakan di depan oleh pa’ Kepala sekolah, bagaimana perasaan anda? Bangga bukan? Andai anda sebagai karyawan dibanggakan di depan seluruh karyawan oleh sang pemilik perusahaan, apa perasaan anda? Bangga bukan?

Lalu setelah dibanggakan, kira-kira apa yang akan anda lakukan? Yang paling umum adalah : berusaha mewujudkan itu, atau secara gampang, ingin membuat pa’ Kepsek atau pa’ pemilik tadi terus bangga terhadap kita. Do I make my point clear?


Salam,

Penulis

Shalatku, bagaimana shalatmu?

Ini lebih sekedar interospeksi diri sendiri.

Shalatku ternyata jauh dari “beres”.Sungguh naif.

Satu sisi aku pingin dan merasa “pantes” masuk surga. Bukankah aku udah shalat, setiap jumat masukin duit di kencleng mesjid. Setiap malem jumat ngaji yasin. Lagipula, bukan aku yg kena musibah tsunami dulu, yang kena musibah gempa kemarin. Juga aku bukan korban lapindo, atau juga pas bukan penumpang Levina, Adam air maupun Garuda. Aku bahkan tidak terkena efek apapun dari Banjir Jakarta kemarin. Aku disayang Tuhan. Aku pantas masuk surga.

Betulkah aku pantas masuk surga?

Aku kemarin membaca, entah buku apa itu (aku lupa). Didalamnya jelas-jelas dikatakan :

  1. Shalat itu yg paling pertama dicek. Jika shalatnya benar, maka baru yg lain dicek (setelahnya diputuskan masuk surga atau neraka)
  2. Ada orang (entah sufi atau bukan, tapi bukan itu masalahnya). Ia setiap wudhu selalu gemetar. Ketika ditanya, maka jawabnya : “tahukah kamu, kepada siapa aku akan menghadap?”
  3. Sampai dititik ketika seseorang merasakan suara azan itu bagaikan sangkakala sang malaikat sebagai salah satu tanda datangnya kiamat
  4. Ada 3 golongan : Golongan pertama berseri seperti matahari, yaitu orang yang ketika azan berbunyi dia sudah didalam masjid. Golongan kedua berseri bagai rembulan nan purnama, yaitu orang yang langsung wudhu ketika azan dikumandangkan. Golongan ketiga berseri (aku lupa seperti apa dan itu tidak penting), yaitu orang yang bergegas menuju azan yang dikumandangkan

Maka, jawabannya adalah : aku belum pantas masuk surga. Padahal aku sangat berharap masuk surga (karena pilihan satunya adalah neraka dan tidak ada pilihan lain yang berupa “nilai tengah”).

Lihat point nomer satu : Shalatku belum benar. Aku baru sadar ada perbedaan mendasar mengapa ketika ruku membaca “rabbiyal adziim” dan ketika sujud membaca “rabbiyal ‘a’laa”.Ternyata “adzim” itu tidak cukup berarti besar, agung. Lebih bagus jika diartikan “spektakuler” (menurutku spektakuler itu lebih dari sekedar luar biasa). Itu pernyataan bahwa aku ketika ruku’ mengaku bahwa Tuhan memang adzim. Dan ketika itu mestinya aku bayangkan aku ngga’ bakal ruku’ kepada manusia, siapapun dia…

Lalu “a’laa” berarti tinggi. Entah kata apa yang bisa mewakilinya. Tuhan nan tinggi tak terjangkau bahkan dengan akal yang paling “tinggi” sekalipun. Maka a’laa lebih benar dilakukan dengan / sambil sujud. Pengakuan kepala yang direndahkan serendah-rendahnya kepada yang tertinggi setinggi-tingginya.Shalatku belum benar. Aku belum tepat waktu. Jika detik ini aku ditelepon boss besar supaya menghadap sekarang karena ada urusan penting yang ingin dibicarakan, aku pastilah serta merta datang. Aku toh ngga’ mau dipecat begitu saja, atau paling tidak ini khan yang memanggil boss (boss besar lho).

Tapi untuk shalat zuhur, aku dipanggil oleh Tuhan, bayangkan.. oleh TUHAN, dan aku baru bergerak setelah meeting selesai atau pas jam dua siang. Sungguh tidak benar. Shalatnya juga sendirian, tidak dimesjid dan apalagi “tuma’ninah”.

Masalahnya adalah : Gimana agar aku bisa di titik mampu merasakan suara azan bagaikan tiupan sangkakala sang malaikat sehingga aku begitu tergopoh-gopoh untuk melaksanakan-nya.

Ya Allah, bimbinglah kami menuju jalan yang namanya shirath mustaqim. Apa itu jalan shirath? Yaitu :

  1. Jalan yang penuh nikmat didalamnya
  2. Bukan yang dimurkai Allah
  3. Bukan yang sesat

Ketiga kriteria itu yang dipenuhi. Amieenn..   

Salam,

Penulis