Oleh-oleh Jumatan : 21 Februari 2014

6 Perusak Hati

 

mimbar

Siang itu panas, tapi cukup sejuk didalam mesjid luas itu karena jejerang kipas angin besar di plafond menyentorkan banyak aliran udara.

Dan tentu saja, seperti kau juga selalu melihat di banyak belahan mesjid manapun di Indonesia, mayoritas umat yang terkantuk-kantuk dari kombinasi sempurna udara panas diluar, sejuknya air wudhu dan sentran kipas (apalagi andai mesjid ber-AC) hingga bisingnya suara ngaji yang keluar dari pengeras suara tidak mampu meredakan kantuk yang gegap menjelma (menarik juga untuk membahas sound system mesjid yang mudah-mudahan bisa saya ulas dalam artikel terpisah).

Saya termasuk dalam jajaran umat yang ngantuk tadi. Tambah lagi bagi kita yang akhirnya terbiasa dengan sang khotib yang itu-itu juga. Boleh saja khotib berganti, tapi paling-paling idem saja. Tema-nya, intonasi-nya, gaya-nya, semua bagiku hanya menjadi pelengkap syarat ngantuk. Satu lagi alasan para pengantuk saat jumat adalah kepercayaan bahwa sang setan bakalan kembali menggoda (dengan jurus angin kantuk nan lembut). Konon setan tak tahan dengan suara azan sehingga lari menjauh. Namun bila azan selesai katanya mereka akan kembali untuk menggoda. Percaya? Saya termasuk percaya karena bisa dibuktikan dengan sangat sederhana.

Itu ada dalam artikelku yang lalu. Coba kita tanyakan pada umat, setelah beberapa waktu berselang dari selesainya shalat Jumat. Pertama, tanyakan surah apa di rakaat pertama dan surah apa di rakaat kedua. Kedua, tanyakan apa saja isi khutbah yang nempel dikepalanya. Ketiga… ach, rasanya dua saja sudah bisa membuktikan kualitas kita, maaf.. maksud saya kualitas saya sendiri. Karena saya toh tidak boleh men-generalisir. Saya paling tidak, sulit mengingat kembali surah apa yang dibaca di rakaat pertama dan rakaat kedua shalat jumat tadi, ketika ditanyakan pada saya pada saat menjelang ashar. Ada yang sama dengan saya? Namun semoga kita diberi kemudahan oleh Tuhan nan kuasa agar makin hari makin khusyu’ dalam shalat-shalat kita. Aamiin…

Pembaca budiman, ketika saya khutbah akan dimulai, saya sedikit perhatikan ada yang agak aneh bagi saya. Sang Khatib relative muda dan (maaf) menurut saya agak kampungan. Tapi beliau tidak membawa teks atau buku (dimasjid-masjid pelosok, adalah biasa bila khatib sekedar membaca buku “kumpulan kotbah jumat”). Fikir saya, lalu apa yang bakal beliau sampaikan? Apa akan mengandalkan (baca : menyombongkan) kehebatannya berbahasa arab? Karena tampang beliau membuat satu dugaan saya bahwa mungkin beliau jebolan pesantren. Atau lupa bawa kertas? Atau mungkin sebentar lagi merogoh saku dan mengeluarkan catatannya?

Namun ternyata tidak. Sungguh luar biasa ketika beliau dengan santun membuka khutbah dengan lantunan bahasa arab dan ayat Al-Quran dalam intonasi rendah. Lalu dengan perlahan beliau menjabarkan 6 hal perusak hati dan rusaknya nilai iman dimata Tuhan. Lengkap dengan hadist dan sanadnya. Tak ada tatapan sombong atau menggurui. Yang aku rasakan hanyalah bagaikan butiran-butiran nasehat bagai menetes sejuk. Saat sempat kulirik sekitar, rasanya tidak banyak perbedaan. Ada yang mengantuk dan ada yang tidak, just as usual. Atau hanya ku sendiri yang berlebihan?

Inilah ringkasan 6 perusak hati dan pembuat rusaknya nilai keimanan dimata sang Khalik :

  1. Tidak mau bertaubat (beiau menceritakan betapa Rasulullah bertaubat sekian puluh kali sehari. Apatah lagi kita mestinya. Lengkap dengan hadist sanadnya tanpa teks)
  2. Berilmu namun tidak mengamalkan (mencontohkan bahwa mengerti shalat itu wajib, zakat, puasa, dll tapi tidak diamalkan)
  3. Beramal namun tidak ikhlas
  4. Tidak mau bersyukur (tentu saja lengkap dengan “la’in syakartum…dst)
  5. Tidak ridho atas takdir yang terjadi kepadanya
  6. Mereka mengantar jenazah, tapi tidak memetik pelajaran

Pembaca budiman, sang khatib mengakhiri khutbahnya dengan mengutip surah At-Takatsur tanpa memberikan arti/terjemahnya. Bagi saya, itu cukup membuktikan kualitas sang Khatib yang begitu baik.

 

Akhirnya, kembali ke kita jua, dari 6 tadi diatas, berapa banyak kita berhasil menjaga kerusakan hati?

 

Wassalam,

Penulis

Shalat yang benar : cepat atau lambat ?

Ayah : Ayo adik, kenapa kok shalatnya cepet-cepet begitu? Shalat itu dibaca ayatnya bukan cuma naik turun kayak gitu..

Anak : tapi Yah, adik sebenarnya pingin mbaca, Cuma kalo adik pas ikut jamaah disekolah atau di mesjid, pasti adik baru baca sedikit trus sudah ruku’ atau sudah sujud, jadi ketinggalan deh nanti

Akupun terhenyak. Betapa tidak, kita, ya aku dan kau ternyata seperti itu dimata mereka.

Si anak diharuskan menghafal, diharuskan tepat waktu diharuskan berjamaah dan harus-harus yang lain, tapi faktanya, shalat kita Cuma sekedar seperti itu dan celakanya kita lalu menjadi contoh penting bagi mereka, jadi panutan.

Artinya, mereka sadar atau tidak, suka atau tidak, pada akhirnya mengikuti pola “umum” (baca : pola masyarakat muslim kita ini) yang berjamaah dengan begitu cepat tanpa tartil.

Coba lihat di mushalla, di langgar, surau, mesjid, atau jika kau belum atau jarang ketempat-tempat tadi, setidaknya saat jamaah dirumahmu sendiri (atau kau juga tidak pernah jamaah dirumahmu sendiri?), lalu coba rasakan, secepat apa atau selambat apa kita shalat. Betul, yang aku maksud adalah shalat jamaah, bukan shalat sendiri-sendiri.

Seperti pada tulisanku terdahulu, cara mengetahuinya sederhana sekali. Bila kau shalat maghrib misalnya, maka saat selesai isya (isya lho, bukan magrib) nanti coba kau ingat surah apa yang dibaca pada rakaat pertama dan kedua shalat maghrib tadi (bukan yang shalat isya barusan). Jika kau ingat, setidaknya kau tidak termasuk ”mudah melupakan”. Yah, kalau kau berjabat tangan dengan seorang raja, tentulah setidaknya seminggu masih bisa kau ingat dan rasakan (kecuali bila jabatanmu diatas dari raja). Jika kau membaca sebuah surah didepan Sang Pencipta dan Maha Penguasa, sungguh mestinya kita wajib mengingat surah itu hingga setidaknya 3 waktu shalat berlalu. Walhasil surah yang dibaca saat shalat maghrib tadi, maka disubuh nanti tetap masih kita ingat (bahwa maghrib tadi kita membaca surah tersebut).

Shalat : cepat atau lambat?

Paling sering kita dengar alasan dengan menggunakan hadis yang kira-kira berbunyi ”bahwa dibelakang kita boleh jadi ada orang-orang yang memiliki urusan atau sudah tua” (jika ada yang tahu persisnya plus sanadnya, mohon bisa di share ya..)

Itu dia, alasan bagi sang imam ketika dirinya terburu-buru dalam bacaan shalat.

Ada analogi lain yang lebih sederhana. Jika kau menonton bioskop dengan film bagus, maka 2 jam tak terasa, rasa ingin pipis jadi menyebalkan (karena khawatir tertinggal jalan cerita).

Tapi jika kau ruku’, seberapa lama ruku’ mu? Ketika saat itu kau ucapkan ”Maha Suci Engkau ya Tuhan, Maha Luar biasa, dan segala puji hanyalah bagi-Mu”. Coba pasang stopwatch-mu sekarang lalu baca kalimat ruku’ dengan benar dan nyaman, lalu hitung berapa lama. Lalu bandingkan dengan seberapa cepat kau memuji Tuhan dalam ruku’ yang sebenarnya.

Apa iya, kita ucapkan ”terima kasih” dengan cepat lalu menjadi ”makasih” lalu jadi ”kasih trus jadi ”masih” akhirnya tingga’ ”sih”. Bukankah itu yang kita lakukan saat kita bertasbih ”subhanallah alhamdulillah Allahu akbar”, berubah menjadi ”banallah… dulillah…wakbar”.

Duhai Tuhan, maafkan daku yang tak jua benar dalam ibadah. Ampuni khilafku wahai Sang Pemilik Neraka. Sungguh tak ada maksudku bermain-main dengan itu. Sungguh aku memohon bimbingan dan ridho-Mu, wahai Tuhan nan Maha Sayang.

Rekan pembaca budiman, mungkin itu artinya ”celakalah orang yang shalat, mereka lalai dalam shalatnya”. Semoga kita semua diselamatkan Allah dari itu semua. Semoga kita tidak termasuk yang meremehkan bacaan dalam ibadah. Semoga dimudahkan diri kita untuk beribadah dengan cara yang benar dan diridhoi-Nya. Aamiin

Wallahu ‘alam bis sawab

Penulis

Duduk diantara 2 sujud

Salah satu dari rangkaian shalat yang begitu indah, adalah duduk diantara dua sujud.

Saat itulah semua untaian doa dirangkum. Ya, seluruh kalimat yang diucapkan saat duduk antara dua sujud itu adalah doa, seluruhnya..

Itulah doa yang diajarkan oleh Tuhan Sang Pencipta kepada mahluk yang dicipta-Nya. Rangkuman semua permintaan seorang mahluk dalam segala problematika hidupnya

Robbighfirlii…Tuhan ampuni diriku

Warhamni… kasihanilah daku

Wajburni… dan segala dosa dan salahku

Warfa’ni… dan derajatku

Warzuqni.. dan rezekiku

Wahdinii.. dan petunjuk bagiku

Wa aafinii.. dan kesehatanku

Wa’fua’anni.. dan maafkanlah diriku

Untaian itu dimulai dengan permohonan ampun, sebagai ungkapan kerendahan diri di depan Sang Khalik.

Diakhiri dengan permintaan maaf, agar IA berkenan dengan segala tutur dan pinta.

Adalah penting agar kita dikasihi, disayangi dicintai. Dari sekian milyar mahluk bernama manusia yang telah dan akan diciptakan-Nya, maka sungguh pantas bila kita perlu memohon sejuk kasih-Nya.

Sumpah-Nya jelas bahwa tidak semua manusia akan menerima kasih sayang-Nya. Jelas bahwa kenikmatan dunia bukanlah fakta bahwa seseorang diberi limpahan kasihnya.

Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari padaKu: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. As-Sajdah :13)

Begitu juga derajat dan rezeki. Manusia menamakan itu sebagai ‘kebahagiaan’. Dan bila hakikat bahagia adalah dimana tercapai ketentraman, maka rezeki, petunjuk, derajat, adalah inti bahagia itu sendiri.

Juga karena petunjuk itu adalah pemberian bagi mereka yang bersungguh-sungguh meminta. Bukankah sejarah membuktikan bahwa anak bisa saja mendapat petunjuk tapi belum tentu dengan ayahnya (baca lagi kisah Nabi Ibrahim a.s), atau justru anak yang tidak mendapat petunjuk (seperti kisah nabi Nuh a.s) atau bahkan istri/suami. Jelas bahwa petunjuk hanya diberikan kepada yang sungguh-sungguh meminta dan menginginkannya.

Dan kesehatan ternyata begitu sangat penting untuk kita memohon. Sehat lahir sehat bathin. Bagai Rasulullah s.a.w yang terus dalam kesehatan hingga akhir…

Maka terduduklah kita, tercenung dan meratap, betapa ingin kita dijaga, dikasihi, diangkat derajat, dijaga kesehatan, dijauhkan dari rezeki kotor, dan dimaafkan…

Lalu terserah pada-Nya. Adakah IA mengampuni, atau meninggikan, atau membersihkan (rezeki), atau memberi petunjuk, atau memberi kesehatan (lagi), atau memaafkan atau semua itu..

Maka dari logika paling rendah, manalah bisa kita berdoa semacam itu, doa sepenting itu, doa sedahsyat itu, hanya dalam hitungan detik/menit ? manakah bisa ? dan apalagi ada yang mengharap di ijabah ? atau shalatnya diterima ?

Sejujurnya diri ini hanya mengandalkan hafalan semata. Shalat yang tanpa jiwa. Yang karenanya maka bacaan doa dalam duduk antara 2 sujud menjadi suatu perkara biasa yang penuh reflex, langsung, cepat dan yaitu tadi, tanpa jiwa tanpa makna..

Lalu berapa lama itu berlangsung? Seumur hidup? Bayangkan…seumur hidup kita melakukan shalat dengan duduk diantara dua sujud semcam itu. Cepat, reflex, tanpa jiwa tanpa makna, tanpa tahu sedang apa kita sebenarnya…

Astaghfirullah hal adziim..

Ya Allah maafkan kami, ampuni kami. Sungguh kami dzalim terhadap diri ini…

Ketika nabi Yunus mengira Tuhan akan menyelamatkannya, maka perkiraannya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Maka dimakanlah beliau oleh ikan besar dan didalam perut ikan itu beliau tersadarkan.

Sungguh pelajaran berharga, agar kita tidak ‘sok yakin’ bahwa Tuhan Nan Pengasih akan terus mengasihi kita meski doa diantara dua sujud tidak kunjung dilakukan dengan sepenuh jiwa sepenuh makna.

Maka terpekurlah kita, dan sebagaimana nabi Yunus menyesal, selayaknya kitapun menyesal, “Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka, innii kuntu minadz dzaalimiin..”

Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku dzalim pada diriku sendiri (QS. Al-Anbiyaa :87)

Pembaca budiman, semoga kita diberi kemampuan menjalaninya, untuk tidak sekedar membaca doa saat duduk diantara dua sujud, tapi lebih dari itu, memahaminya, menghayati, menekuri, mentafakkuri, hingga jatuh tetes air mata haru, air mata sesal, air mata rindu, air mata bahagia..

Setelah sujud pertama, maka duduklah perlahan, tenang, santai. Jangan buru-buru berucap. Fikirkan doa yang akan kita baca. Bayangkan semua shalat kemarin yang tanpa hormat. Hormati Tuhan, akui kesalahan, lalu barulah mulai panjatkan doa. Perlahan dan cobalah berhenti diantara kalimat itu. Sampaikan betapa diri ini begitu ingin dikabulkan, begitu ingin didengar… Berdoalah dengan penuh harap dan cemas

Jika tidak mampu dalam setiap shalat, mungkin setiap hari, atau setiap minggu atau setiap tahun atau hanya sekali dalam hidup atau tidak pernah sama sekali..??

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS. Al-Baqarah : 186)

Wallahu ‘alam bis sawab

Penulis

Siapa yang paling sering didoakan dalam shalat?

Dalam shalat, ternyata ada orang yang senantiasa didoakan, selain tentu saja nabi besar Muhammad SAW.

Siapa itu? siapa orang yang ternyata senantiasa didoakan oleh mereka yang melakukan shalat? ternyata adalah “orang yang shaleh”

Ya, ketika kita melakukan tahiyat, maka kitapun membaca “Assalaamu alaina wa alaa ibaadikas shaalihiin” (salam juga bagi kami dan bagi hamba-hamba yang sahaleh).

Jadi, setiap orang yang shaleh akan selalu terdoakan oleh muslim yang sedang shalat. Paling tidak, 11 kali sehari untuk seorang muslim yang shalat fardhu 5 kali sehari mengucap doa itu ketika tahiyat. Tinggal dikalikan berapa banyak muslim yang shalat dalam satu hari itu (misalnya 100 juta orang) dan jangan lupa tambahkan persentase mereka yang shalat sunnah (misalnya 1 juta orang). Lalu kalikan juga jumlah hari dalam setahun (365 hari).

Maka, orang yang shaleh akan menerima begitu banyak doa. Masalahnya adalah, adakah kita telah lama mengetahui ini atau baru saja tahu? Lalu kemudian, apa itu orang shaleh? apa saja kriterianya?

Tapi sebaiknya tidak melangkah jauh dulu. Menyadari keuntungan menjadi orang shaleh, cukup dulu. Setidaknya kita sadar saja dulu betapa kita selama ini shalat barulah sebatas tahu, dan kini mari kita mulai ke tahap faham.

Faham bahwa shalat bukan sekedar rantaian ucap dan gerak. Faham bahwa begitu banyak makna terkandung di dalamnya. Faham setiap inti shalat. faham dan faham…

Tahu lalu faham. Bukankah itu hal yang sungguh berbeda? Dan tentu saja masih ada hal lain setelahnya

Semoga kita dimudahkan dalam pemahaman kita tentang shalat dan tentang islam dan tergolong sebagai hamba-Nya yang shaleh. Amin

Salam

Penulis

ADZAN : panggilan untuk kita atau bukan?

 

Jangan marah dulu dengan judul tulisan ini. Sungguh saya hanyalah sekedar menarik perhatian pembaca budiman agar bersama-sama kita menekuri maksud adzan ini.

Perkenankan  saya bercerita sedikit, ketika saat itu waktu zuhur tiba. Adzan berkumandang dari speaker mesjid yang juga tidak terlalu besar. Saya kebetulan memang berniat shalat zuhur di mesjid itu.

Masalahnya, ketika berjalan menuju mesjid saya melewati pinggir jalan raya yang cukup ramai. Tiba-tiba saja saya merasa sangat-sangat bersyukur betapa dari begitu banyak pengendara (mobil-motor,dll) dan pejalan kaki yang lalu lalang, saya ini termasuk yang pergi untuk shalat zuhur di masjid.

Entah kenapa ini kenyataan ini mengagetkan saya. Lalu, ketika saya sampai di masjid, berwudhu dan shalat sunnah serta akhirnya shalat zuhur, saya justru makin kaget. Ternyata yang datang untuk shalat zuhur kebanyakan adalah orang yang “itu-itu” juga.

Pembaca budiman, sekarang saya cerita hal lain lagi yang ukan kejadian sesungguhnya. Saya bayangkan diri saya yang sama sekali tidak terkenal ini tiba-tiba mendapat undangan dinner party dari bapak Presiden RI. Bayangkan, sebuah undangan formal dengan amplop harum besar gagah dari presiden RI untuk diajak dinner party yang tentu saja tidak semua orang boleh ikut. Bisa anda bayangkan apa yang akan saya lakukan.

Tentu saja saya akan memakai baju saya terbaik, parfum terbaik dan saya pastikan satu jam sebelumnya sudah siap dengan segalanya. Saya pastikan saya akan menjaga perilaku, tidak berdehem apa lagi menguap di depan yang mulia bapak presiden RI.

Perhatikan saat adzan subuh tiba. Coba sesekali ikuti “undangan” itu. Anda akan dapati umumnya jamaah yang hadir adalah “itu-itu” juga.

Tentu saja, adzan adalah panggilan untuk shalat berjamaah di masjid. Perhatikan yang bercetak miring tebal. Jadi bukan undangan untuk shalat sendiri-sendiri atau berkelompok di tempat yang bukan mesjid (misalnya di ruang meeting).

Adzan adalah undangan yang sifatnya terbatas. Kita semua yang memiliki telinga sehat boleh saja mendengar, tapi hanya “yang diundang saja” yang boleh hadir dalam acara shalat jamaah tersebut. Silahkan perhatikan di saat-saat adzan tiba di masjid dekat anda. Menakjubkan bukan?

Perhatikan lagi sifat orang-orang saat mendengar panggilan adzan. Caranya? Coba lihat ketika shalat jumat tiba. Setelah selesai adzan cukup banyak yang angkat tangan untuk berdoa setelah adzan. Bandingkan dengan shalat-shalat biasa selain jumat. Menakjubkan bukan betapa sifat manusia…

Kini coba perhatikan bagaimana seharusnya kita menjawab adzan. Jika kalimat “Allahu Akbar” x2 maka kita menjawab dengan kalimat yang sama. Namun pada saat kalimat “hayya ‘ala sholah” (ayo dirikan shalat) maka kita jawab dengan “laa haula walaa kuwwata illaa billaah” (tiada daya upaya kecuali dengan izin Allah)

Sungguh mengenaskan…

Apakah mereka yang mengikuti panggilan adzan dan shalat jamaah di masjid lantas menjadi “undangan pilihan”? menurut saya : iya. Tapi apakah itu jaminan kebaikan? Saya tidak tahu.

Lebih menarik untuk membahas mereka yang tidak diundang. Apakah lalu mereka adalah bisu, tuli sehingga tidak mampu lagi mendengar dan mengikuti panggilan Ilahi? Ataukah mereka termasuk kaum yang “tidak/belum mendapatkan izin”?

Mereka atau kita??

Yang pasti bagi saya, ini membuktikan satu hal : surga memang tidak murah dan yang kedua, memang sulit untuk memiliki hati yang bening

Salam,

Penulis

2 Kisah shalat

 

Kisah ke-1:

Alkisah, sang pembela Islam Ali bin Abi Thalib tertancap mata panah di punggung saat pasukan Islam menggempur musuh.

Beliau sungguh kesakitan, dan tak ada cara lain kecuali mencabut mata panah itu.

Lalu dalam kesakitannya Ali bin Abi Thalib berkata, “cabut mata panah ini saat aku berdiri di rakat kedua..”

Lalu Beliau menunaikan shalat sunnah 2 rakaat. Pelan, tenang, tuma’ninah. Tak ada lagi tanda kesakitan di wajahnya yang tunduk khusyu’ Rakaat kedua tiba dan mereka mencabut anak panah itu. Tak ada tanda kesakitan. hanya darah segar yang mengalir deras. Luka segera diobati.

Setelah salam akhir shalat, sang pembela Islam ini bertanya, “Sudahkah dicabut mata panah tadi?”

Kisah ke-2 :

Syahdan Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Bilal : Wahai Bilal, jadikan shalat sebagai tempat istirahat-mu

RENUNGAN :

Dari kisah ke-1, yakin tidak satupun kita mampu shalat hingga taraf khusyu’ seperti itu. Setidaknya kita bisa tahu bahwa khusyu’ kita belum sempurna sehingga (semoga) bisa menjadi lebih baik dari sekarang. Tentu saja ini hanya berlaku bagi si bening hati…

Dari kisah ke-2 : Yang saya rasakan, ruku’ yang lama itu menyegarkan, sujud yang lama itu menentramkan. Pada akhirnya, mudah dengan menjawab pertanyaan selesai shalat : adakah shalat yang barusan tadi menyegarkan kita? Bila jawabannya YA maka fungsi shalat selaku tempat istirahat terpenuhi. Bila jawabannya TIDAK ya berarti (mungkin) belum sampai taraf itu.

Di titik puncaknya, ini sesuai dengan seruan azan setiap subuh (as-shalah khoirum minan naum : shalat itu lebih baik dari tidur).Shalat yang khusyu’ menjamin kesegaran dan kebugaran setelah melakukannya. Lagipula, mana yang lebih indah selain dari beristirahat dibawah naungan teduh ridho-Nya.

Ya Allah, jadikan kami (aku dan pembaca) mampu khusyu’ dalam shalat-shalat kami

wassalam,

PENULIS

Ketika Waktu Jumat tiba

 

Masih suara mengaji dari speaker besar di puncak menara mesjid dan orang-orang (termasuk diriku) berbondong-bondong memasuki mesjid besar itu.

Kulihat cukup banyak yang ‘berbusana muslim’, sementara diriku sendiri – apa boleh buat – masih dengan seragam kerjaku. Bau harum nan wangi menyeruak (mungkin lebih bagus : semerbak) masuk langsung ke kalbu, membuat diri terasa tenteram. Sebagian mereka ada yang sempat mandi sementara sebagian lainnya (termasuk diriku yang memang waktunya mepet, maklum orang kantoran) mencukupkan dengan berwudhu.

Adzan pertama berkumandang yang dilanjutkan dengan sebagian orang melakukan shalat sunnah. Lalu naiklah sang Khatib ke atas mimbar dan berkumandanglah adzan kedua.

Seperti mesjid dimanapun juga, siraman rohani dari sang khatib hanya ada dua kategori, menarik atau tidak menarik yang tentu saja sangat subyektif tergantung dari masing-masing insan pendengarnya. Tapi bukan itu yang akan dibahas ditulisan kali ini.

Dalam tiap shalat Jumat, fenomena yang kulihat dimana-mana cenderung sama, ada yang terkantuk-kantuk, ada yang “kelihatannya” memperhatikan, dan ada yang “memang“ memberikan perhatian sepenuhnya.

Pernah kutulis bahwa bagiku, salah satu dari banyak kriteria tentang shalat yang khusyu’ adalah ketika seseorang itu menguap. Jika anda menguap ketika menyampaikan pidato pertanggung jawaban anda di depan majelis tinggi, itu adalah hal yang belum pernah saya lihat. Jika kita menguap ketika berhadapan dengan Sang Maha Agung Pencipta planet, asteroid, galaxy dan seluruh jagad semesta termasuk semut yang merayap di bawah keyboard, pantaskah disebut khusyu’? (tapi ini khan sekedar opini saya sendiri).

Jadi, terkantuk-kantuk saat mendengarkan khutbah jumat, semestinya menjadi hal yang luar biasa aneh. Coba fikir, sejak dirumah sudah mandi. Baju muslim plus minyak wangi. Tapi ketika khutbah menjelang lantas terkantuk-kantuk. Lalu kepada siapa dia bersiap-siap sedemikian rupa? Lalu bagaimana dengan yang tertidur? Bukankah tidur diwaktu khutbah katanya boleh?

Terlepas dari segala dalil yang dikemukakan, hemat saya jika seseorang sudah tidak mampu menghormati Tuhannya ketika sebelum shalat, maka tipis kemungkinan bahwa orang itu bakal menghormati (baca : khusyu’) ketika shalat.

Maka mampukah kita menjadi orang-orang yang bisa dibanggakan Tuhan, seperti ketika DIA membanggakan Adam A.S di depan makhluk-Nya?

Wassalam,

Penulis

Shalatku, bagaimana shalatmu?

Ini lebih sekedar interospeksi diri sendiri.

Shalatku ternyata jauh dari “beres”.Sungguh naif.

Satu sisi aku pingin dan merasa “pantes” masuk surga. Bukankah aku udah shalat, setiap jumat masukin duit di kencleng mesjid. Setiap malem jumat ngaji yasin. Lagipula, bukan aku yg kena musibah tsunami dulu, yang kena musibah gempa kemarin. Juga aku bukan korban lapindo, atau juga pas bukan penumpang Levina, Adam air maupun Garuda. Aku bahkan tidak terkena efek apapun dari Banjir Jakarta kemarin. Aku disayang Tuhan. Aku pantas masuk surga.

Betulkah aku pantas masuk surga?

Aku kemarin membaca, entah buku apa itu (aku lupa). Didalamnya jelas-jelas dikatakan :

  1. Shalat itu yg paling pertama dicek. Jika shalatnya benar, maka baru yg lain dicek (setelahnya diputuskan masuk surga atau neraka)
  2. Ada orang (entah sufi atau bukan, tapi bukan itu masalahnya). Ia setiap wudhu selalu gemetar. Ketika ditanya, maka jawabnya : “tahukah kamu, kepada siapa aku akan menghadap?”
  3. Sampai dititik ketika seseorang merasakan suara azan itu bagaikan sangkakala sang malaikat sebagai salah satu tanda datangnya kiamat
  4. Ada 3 golongan : Golongan pertama berseri seperti matahari, yaitu orang yang ketika azan berbunyi dia sudah didalam masjid. Golongan kedua berseri bagai rembulan nan purnama, yaitu orang yang langsung wudhu ketika azan dikumandangkan. Golongan ketiga berseri (aku lupa seperti apa dan itu tidak penting), yaitu orang yang bergegas menuju azan yang dikumandangkan

Maka, jawabannya adalah : aku belum pantas masuk surga. Padahal aku sangat berharap masuk surga (karena pilihan satunya adalah neraka dan tidak ada pilihan lain yang berupa “nilai tengah”).

Lihat point nomer satu : Shalatku belum benar. Aku baru sadar ada perbedaan mendasar mengapa ketika ruku membaca “rabbiyal adziim” dan ketika sujud membaca “rabbiyal ‘a’laa”.Ternyata “adzim” itu tidak cukup berarti besar, agung. Lebih bagus jika diartikan “spektakuler” (menurutku spektakuler itu lebih dari sekedar luar biasa). Itu pernyataan bahwa aku ketika ruku’ mengaku bahwa Tuhan memang adzim. Dan ketika itu mestinya aku bayangkan aku ngga’ bakal ruku’ kepada manusia, siapapun dia…

Lalu “a’laa” berarti tinggi. Entah kata apa yang bisa mewakilinya. Tuhan nan tinggi tak terjangkau bahkan dengan akal yang paling “tinggi” sekalipun. Maka a’laa lebih benar dilakukan dengan / sambil sujud. Pengakuan kepala yang direndahkan serendah-rendahnya kepada yang tertinggi setinggi-tingginya.Shalatku belum benar. Aku belum tepat waktu. Jika detik ini aku ditelepon boss besar supaya menghadap sekarang karena ada urusan penting yang ingin dibicarakan, aku pastilah serta merta datang. Aku toh ngga’ mau dipecat begitu saja, atau paling tidak ini khan yang memanggil boss (boss besar lho).

Tapi untuk shalat zuhur, aku dipanggil oleh Tuhan, bayangkan.. oleh TUHAN, dan aku baru bergerak setelah meeting selesai atau pas jam dua siang. Sungguh tidak benar. Shalatnya juga sendirian, tidak dimesjid dan apalagi “tuma’ninah”.

Masalahnya adalah : Gimana agar aku bisa di titik mampu merasakan suara azan bagaikan tiupan sangkakala sang malaikat sehingga aku begitu tergopoh-gopoh untuk melaksanakan-nya.

Ya Allah, bimbinglah kami menuju jalan yang namanya shirath mustaqim. Apa itu jalan shirath? Yaitu :

  1. Jalan yang penuh nikmat didalamnya
  2. Bukan yang dimurkai Allah
  3. Bukan yang sesat

Ketiga kriteria itu yang dipenuhi. Amieenn..   

Salam,

Penulis

Al-Fatihah yang Luar Biasa

Surah Al-Fatihah itu dinobatkan sebagai Ummul Kitab atau induk kitab.

Ia merupakan surah pertama dalam susunan Al-Qur’an. Setiap rakaat dalam shalat surah ini wajib dibaca, tidak peduli berapapun jumlah rakaat-nya. Ia merupakan surah – yang sangat boleh jadi – paling sering dibaca. Ada juga yang berpendapat surah ini sebagai intisari atau resume atau rangkuman seluruh isi Al- Quran.
Pertanyaannya adalah : Apanya yang luar biasa? Apa yang membuat Al-Fatihah ini begitu luar biasa?
Jujur tadinya saya juga hanya mengetahui sebatas paragraf pertama tulisan diatas. Tapi makin direnungi ternyata makin terasa keluar biasaan-nya. Ini diantara yang berhasil saya dapatkan :

Isi Surah dan terjemahan bebas

Pertama, mari kita lihat surah Al-Fatihah. Jangan-jangan ada juga yang belum tahu bahwa kalimat “Bismillaahi rrahmaanir rahiim” adalah merupakan ayat ke-1 surah ini. Juga bahwa kalimat “amiin” yang kita seru rame-rame saat shalat jamaah, itu bukanlah bagian dari surah Al-Fatihah

1. Bismillahirrahmaanirrahiim
2. Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin
3. Ar Rahmaani rrahiim
4. Maaliki yaumid diin
5. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin
6. Ihdinas shiraatal mustaqiim
7. Siraathal ladzii na’an ‘amta ‘alaihim, ghairil maghduu bi’alaihim, walad dhaalliin

Artinya (ini sekedar terjemahan bebas saya) :
1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Rahman (Pengasih) dan Maha Rahiim (Penyayang)
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta
3. Yang Maha Rahman (Pengasih) dan Maha Rahiim (Penyayang)
4. Raja/Penguasa di hari “ad-diin’ (pembalasan/kiamat)
5. Hanya padamu kami menyembah, dan hanya padamu kami memohon pertolongan
6. Tunjukkan kami “Shiraatal Mustaqiim” (Jalan Lurus)
7. Jalan yang penuh nikmat kepada mereka, bukan yang Engkau murkai pada mereka, bukan juga yang sesat

Itulah dia surah Al-Fatihah. Apanya yang luar biasa? Banyak !

sungguh beruntung saya ketika dipermudah mendapatkan pengetahuan atas hal ini.

Susunan surah
Coba lihat susunan surah ini. Allah mengajarkan kita bagaimana cara “berdoa” (baca : memohon) dengan benar.
Dari total 7 ayat, 5 ayat pertama seluruhnya berisi pujian kepada Allah (5/7 x 100 = 70%). Seolah Allah mengajarkan/memberitahukan, bila seseorang ingin memohon, seyogyanya 70% itu diawali dengan memuji. Itulah patron-nya. Pantaslah jika selesai shalat mestinya tidak langsung angkat tangan dan berdoa. Setidaknya baca dulu puji-pujian, baca 33x Subhanallah, 33x Alhamdulillah, 33x Allahu Akbar. Baru setelah merasa cukup (70% minimal), silahkan mengangkat tangan dan memohon.

Adapun tahapan secara rinci juga diperlihatkan jelas didalam surah ini.
Pertama sekali adalah : fokus (niat, kejelasan). Dalam hal ini direpresentasikan dalam kalimat basmalah
Kedua : Memuji, bersyukur (alhamdulillah)
Ketiga : Tegaskan pujian anda (ini akan dibahas mengapa ayat ke-3 ini sama dengan ayat ke-1)
Keempat : Akui kelebihan-Nya, kehebatan-Nya
Kelima : Akui kelemahan diri, tunjukkan tingginya tingkat kebutuhan hingga perlu memohon (reasoning)

Barulah kemudian memohon pada-Nya

Ayat ke-1 dan ke-3 Surah Al-Fatihah
Pertama bahwa kalimat basmallah yaitu “Bismillaahi rrahmaani rrahiim” itu adalah termasuk ayat ke-1 dalam surah Al-Fatihah. Sementara ayat keduanya adalah “Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin”. Baru dilanjutkan ayat ke-3 : “Arrahmaani rrahiim”.
Pada surah-surah yang lain, kalimat “bismillahirrahmaani rrahiim” adalah merupakan kalimat pembuka (bukan bagian dari surah).
Sekarang perhatikan artinya. “Bismillaahi rrahmaani rrahiim”. Arti sederhana-nya “Dengan menyebut Nama Allah yang Maha pengasih dan Maha Penyayang. Atau saya kadang memberi terjemahan bebas : Dengan menyebut Nama Allah yang begitu welas asih.
Intinya adalah bahwa Allah itu pemurah. Berbelas kasih, begitu baik, penyayang, welas asih.
Sekarang perhatikan ayat ke-3 (ayat kedua tidak dibahas disini) : Arrahmaani rrahiim. Artinya sama persis : Maha Pengasih dan Maha penyayang. Welas asih.
Kenapa diulang? Pasti bukan untuk memperbanyak jumlah ayat. Pasti bukan karena tidak ada bahasan lain. Pasti ada sesuatu (yang menarik dan luar biasa).
Mari kita berpaling sejenak ke cerita penciptaan manusia. Ketika itu Allah berfirman pada malaikat bahwa akan diciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dan kemudian, ketika tercipta Adam AS, Allah berfirman agar semua bersujud (bukan dalam konteks menyembah) kepada Adam. Kecuali Iblis. Kenapa ? Karena ia merasa lebih baik dari adam (iblis dari api, adam dari tanah).

Merasa lebih dari yang lain disebut sombong atau angkuh. Itulah dosa pertama di jagad raya dan murka Allah yang pertama diketahui.
Perhatikan bahwa dosa terbesar adalah menyekutukan Allah. Iblis tidak menyekutukan Allah. Iblis “sekedar” sombong. Ia hanya merasa lebih baik karena diciptakan dari api dibandingkan Adam AS yang diciptakan dari tanah. Sama halnya kita merasa lebih baik karena memiliki jabatan daripada yang jabatannya dibawah kita. Sombong yang sama ketika kita merasa lebih baik karena lebih pintar, lebih cantik, lebih ganteng, lebih kaya, dll sementara yang lain kurang pintar, kurang ganteng, dll.
Saat Iblis menolak perintah Allah, maka Allah langsung mengharamkan surga baginya dan melaknat masuk ke neraka. Itulah murka Allah.
Tidak berpuasa tanpa alasan padahal sudah jelas diperintah, maka secara logika sederhana itu sudah cukup bagi Allah untuk mengharamkan surga dan melaknat dengan neraka. Sedekah, shalat dan semua perintah lain akan seperti itu juga konsekuensinya.
Tapi satu hal harus digaris bawahi, bahwa kasih sayang Allah melampaui murka-Nya. Itulah maka perlu diyakini bahwa Allah itu Ar Rahmaan Ar Rahiim.
Allah begitu Maha kasih, sehingga boleh kita berharap kasih dan mesranya. Begitu Maha Penyayang sehingga boleh kita berharap disayang oleh-Nya.
Maka hemat saya, perhatikan betul ketika kita membaca ayat ke-1 dan ke-3 surah Al-Fatihah. Pemahaman dihati saat membaca ayat ke-1 akan dimantapkan oleh pemahaman atas ayat ke-3.

Maaliki yaumiddiin
Ayat ke-4 adalah : Maaliki yaumid diin yang berarti Penguasa hari pembalasan.
Sekarang perhatikan kata yaum ad-diin (hari – agama). Mengapa harus memakai ad-diin (agama)? Mengapa bukan yaumul hisab, atau yaumul qiyamah ? Ini yang jelas telah disesuaikan dengan konteks kalimatnya. Yang menjadi inti adalah bahwa yaum ad-diin lebih menegaskan bahwa hari kiamat merupakan hari dimana esensi agama menjadi begitu jelas sehingga tidak ada pertanyaan dan keraguan atas agama.
Jadi pastikan, ketika membaca ayat ini, kita tidak hanya berurusan dengan hari kiamat saja, tapi “Yaum Ad-Diin” yang bersifat menyeluruh atas ‘kemarin’, ‘sedang’, dan ‘akan’. Dan DIA adalah pemiliknya, penguasanya…

Shirath Al-Mustaqiim
Shirath Al-Mustaqim senantiasa diartikan sebagai : Jalan yang lurus. Tafsir Al-Misbah menyatakan bahwa jalan yang dimaksud adalah bagaikan jalan tol.
Perlu diperhatikan bahwa Al-Fatihah adalah ummul kitab atau induk kitab atau ummul quran. Artinya adalah semua ayat Al-Fatihah merupakan intisari / ringkasan / resume Al-Quran secara keseluruhan. Maka, dalam kaitan dengan ini, Sirath Al-Mustaqim tidak lain dan tidak bukan ternyata adalah merupakan target point.
Bila hidup, bayi, remaja, tua, mati kesemuanya merupakan checkpoint, maka shirath al-Mustaqim itulah target point. Destination (final point) adalah Surga dan keridhaan Allah.
Sebagai target utama kehidupan, shirath mustaqim (jalan lurus) ini layak diperjuangkan. Apapun cara untuk bisa melewatinya dengan sempurna. Tapi seperti apa ciri dan kriteria shirath al-mustaqim ini ? Dijawab oleh ayat-ayat terakhir dengan sempurna yaitu :
1. Jalan yang penuh nikmat didalamnya
2. Jalan yang tidak dimurkai Allah SWT
3. Jalan yang tidak sesat

Seluruh kriteria terpenuhi, maka itulah sirath al-mustaqim.
Kata “Jalan” disini menurut hemat saya dapat berarti cara Dalam bahasa inggris disebut “way” (bukan “road”). “The way of life” atau “where’s the will there’s the way” (dimana ada kemauan, disitu ada jalan) dalah pendekatan atas kata “jalan” yang bisa difahami sebagai cara.
Maka ini maksudnya dengan cara apa kita menempuh kehidupan ini, jalan mana yang kita gunakan dalam mengarungi hidup ini. It’s all about the way, it’s all about the heart.
Apa tujuan manusia hidup di dunia? Menjadi kaya? Menjadi sukses? Menjadi bahagia? Semua jawaban berujung di satu pintu yang bernama sirath al-mustaqim. Semua manusia menginginkan hidup yang penuh kenikmatan. Semua manusia tidak mau dimurkai Allah dan tentu tidak ingin tersesat. Maka bagi mereka yang sudah menikmati hidup (karena kaya, berpangkat, dll) perlu sadar bahwa 2 kriteria belum tercapai. Dan itu berbahaya.
Bila jalan itu nikmat, maka itulah shirat al-mustaqim. Minuman keras juga nikmat, tapi itu dimurkai Allah, maka bukan shirath al-mustaqim. Bisa juga sudah nikmat dan juga sudah tidak dimurkai Allah, tapi ternyata sesat. Maka itu jelas juga bukan sirath al-mustaqim.

Salam,
Penulis

Keistimewaan Shalat

SHALATKU IBADATKU

MENGAPA SHALAT ITU ISTIMEWA

Shalat itu istimewa. Bahkan menurut hemat saya adalah yang paling istimewa diantara semua ibadah. Buktinya diantaranya adalah :

  • Yang pertama dihisab (dicek / diperhitungkan) pada hari kiamat adalah Shalat. Begitu menurut sebuah hadis shahih
  • Perintah Shalat diberikan langsung dari Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW, bahkan tanpa perantara malaikat Jibril. Ini terjadi saat Isra’ Mi’raj nabi Muhammad SAW.
  • Shalat tidak tergantikan. Ini perlu digaris bawahi sebagai sebuah ciri ke-khususan Shalat. Bandingkan dengan ibadah lain. Puasa bisa diganti bila berhalangan dengan alasan yang sesuai. Haji demikian juga, bahkan bisa dipindahkan ke orang lain untuk pelaksanaannya. Tapi hal ini tidak berlaku dalam Shalat. Shalat zuhur tidak dapat dikerjakan saat subuh dan juga tidak dapat ditunda hingga maghrib. Orang sakitpun wajib shalat bahkan jika hanya matanya saja yang sanggup dilakukan. Qasar dan jamak hanya berlaku dengan alasan khusus dan tidak bagi semua shalat (shalat subuh tidak memiliki jamak maupun qasar)
  • Perintah Allah adalah untuk “mendirikan” bukan “mengerjakan”.

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS.An-Nisaa’ 103)

Apa beda “mendirikan” dengan “mengerjakan” ?. Mendirikan dapat berarti merubah posisi dari semula tidak berdiri menjadi berdiri (misalnya jika anda mendirikan kursi yang rebah). Dapat juga berarti menjadikan sesuatu yang semula belum jadi (atau belum ada) menjadi berdiri tegak dan kokoh (misalnya mendirikan bangunan). Sedangkan mengerjakan artinya sama dengan melakukan sesuatu (baik tuntas maupun tidak). Si-A mengerjakan PR, maka ada tiga kemungkinan : 1. ia mengerjakan tapi tidak tuntas.

2. Ia mengerjakan dan tuntas, tapi belum tentu benar semua (bisa jadi karena si-A pemalas atau bodoh tapi terpaksa mengerjakan PR).

3 Ia mengerjakan, tuntas dan benar semua (ini berarti sama dengan mendirikan PR)

Dengan demikian dalam konteks bangunan, mendirikan bangunan berarti menjamin bangunan tersebut akan berdiri dengan baik (baca : kokoh, kuat dan bagus). Mengerjakan bangunan belum tentu sampai selesai, dan juga belum tentu seluruh bangunan. Adapun mendirikan tugas (misalnya PR) adalah melakukannya dengan sepenuh hati dan secermat mungkin sehingga kecil kemungkinan terjadi kesalahan.Umumnya kalimat dirikanlah shalat dibarengi dengan tunaikanlah zakat (apa tunaikan dengan bayarkan?). mengapa justru zakat, bukan puasa, atau ibadah lainnya, rasanya perlu ditelaah namun bukan disini tempatnya.

  • Shalat adalah ibadah yang sangat dekat dengan Allah. Beberapa pakar menyatakan bahwa shalat adalah mi’rajnya orang muslim. Dan ada yang menyatakan bahwa posisi rukuk merupakan posisi terdekat
  • Perhatikan firman berikut :
    • Kecelakaan bagi orang yang shalat. Yaitu orang yang lalai dari shalatnya (QS.Al-Maa’uun : 4 & 5).
    • Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah : 183)

Ritual shalat begitu spesial bagi Allah sehingga ada murka-Nya disana. Orang yang shalat justru diancam (baca : celaka) jika shalat itu dilakukan tidak dengan benar adanya. Bagaimana shalat yang benar (supaya tidak celaka) ? Silahkan pelajari di banyak buku yang lebih lengkap mengenai hal ini. Namun intinya cukup satu : Jika shalat yang dilakukan itu benar adanya, maka sang pelaku shalat dan lingkungan sekitarnya akan merasakan pengaruhnya, karena shalat itu mencegah perbuatan keji (korupsi, menganiaya, merampas, jahat, kejam, dll) dan mungkar (egois, sombong, pelit, sok tahu, dll)

Mengapa Allahu akbar?

Setelah niat, maka kita takbir, “Allahu Akbar”. Ketika ruku juga “Allahu Akbar”, begitu juga sujud. Dan itu dilakukan hampir disetiap perubahan gerak (kecuali ketika dari ruku ke berdiri)Pertanyaannya, kenapa “Allahu Akbar” ? bukan “Subhanallah” atau Alhamdulillah” atau “Laa ilaaha illallaah” atau kalimat lainnya. Kenapa harus “Allahu Akbar” ?Allahu Akbar bagi saya diartikan tidak lagi sebagai Allah Maha Besar, tetapi “Allah terlalu besar”, begitu besar dalam semua hal – tanpa kecuali – sehingga hanya itu yang bisa dilakukan, yaitu mengucapkan “Allahu Akbar”. Kenapa berulangkali? Kenapa nyaris ditiap perubahan gerak ? Agar kita sadar sesadar-sadarnya bahwa Tuhan itu, Allah itu, begitu maha besar, setiap saat, setiap perubahan gerak (dalam shalat), setiap tarikan nafas (dalam hidup). Agar kita semua yakin dan makin merasa kerdil ketika mengucapkannya. Maka jadilah kita bergetar karena merasa Allah begitu terlalu hebat dan besar (Maha besar), bergetar karena mengakui begitu kerdil, kecil diri ini, bergetar karena begitu agung nama itu. “Allahu Akbar…”Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS.Al-Anfaal 2)(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka. (QS.Al-Hajj 35)Maka barangsiapa yang shalat-nya belum sampai merasa gemetar, maka ia belum sampai dipengertian shalat yang sesungguhnya (perhatikan, berapa kali nama ALLAH disebut dalam satu rakaat?). Jadi wajar saja jika hingga berumur renta dan terus melakukan shalat tapi tindakan, tabiat, perilaku atau hasil kerja-nya sama sekali tidak memiliki cerminan dari shalat-nya. Itulah yang disebut shalat tanpa jiwa, itulah definisi seungguhnya shalat yang celaka. Tinggal kembali pada diri dan hati sendiri, sekeras apa hati ini mau menyadari dan menerima hal itu. 

Beberapa Kalimat dalam Takbiratul Ihram

Yang pertama adalah kalimat : Inni wajjahtu wajhiya fathoros samaawati wal ardho haniifan muslimaa wamaa ana minal musyrikiin (terjemah bebas saya : Inilah wajahku menghadap kehadirat-Mu, wahai penguasa Langit dan Bumi, sepenuh hatiku sebagai muslim yang ‘hanif’ dan aku bukan dari golongan musrik).

Lalu kalimat : Inna shalaati, wanusuki, wamaa yaaya, wa mamaati, lillahi rabbil ‘aalamiin (terjemah bebas saya : Sesungguhnya shalatku, ibadah-ku, hidup dan matiku, adalah bagi Allah, Tuhan semesta alam).Betulkah itu? Betulkah kita seperti yang kita ucapkan? Atau sebenarnya kita sedang munafik kepada Tuhan? (na’udzubillahi mindzaalik). Jika hidup mati hanya untuk Allah, jika shalat dan ibadat adalah “lillaahi ta’ala” bagaimana bisa shalat itu dilakukan lewat dari waktu? Bukankah masuknya zuhur itu adalah tepat pada saat mendengar azan zuhur? Mengapa baru jam satu lewat, atau pukul setengah dua baru mengerjakan shalat? Itukah muslim yang ‘hanif’? Silahkan hati nurani menjawab sendiri.Muslim yang ‘hanif’ dengan sederhana diterjemahkan sebagai muslim yang mengabdi. Hidup mati, shalat ibadah hanya untuk Allah hanyalah perkataan lain (menurut saya) bahwa orang itu jelas-jelas menyatakan pengabdian total-nya. Orang yang mengabdi secara total tentulah langsung mengerjakan apa yang diperintahkan. Ambil contoh sederhana. Saya sebagai majikan punya seorang pembantu. Lalu saya berkata, “Mbok, tolong ambilkan sandal saya”. Tentulah yang diharapkan adalah bahwa si pembantu (yang mengabdi “secara total” tadi) segera mengambilkan sandal saya. Bagaimana perasaan sang Majikan jika sandal-nya diambilkan 2 jam kemudian atau bahkan tidak pernah diambilkan?Lagi-lagi, maka seyogyanya menjadi amat wajarlah ketika mengucap kalimat tersebut hati menjadi bergetar. Ketika dengan berani kita menyatakan langsung kepada Tuhan pemilik alam, mengatakan langsung secara berhadapan kepada yang menciptakan kita bahwa kita muslim yang ‘hanif’, bahwa kita ‘pengabdi total’ yang tulus. Bahwa kita tidak sedang terang-terangan berbohong kepada Tuhan Yang Maha Tahu dan berbohong kepada diri sendiri sekaligus ketika mengucapkan itu.Maka bagaimana mungkin kita mengucapkan kalimat itu dengan begitu serentak, begitu cepat. Itu yang disebut (menurut istilah saya) shalat tanpa jiwa.Hingga sejauh ini pembahasan kita, maka sampailah saya pada kesimpulan sementara : Seyogyanya kita melakukan shalat dengan tuma’ninah dan khusyu’. Semestinya tidak pantas kita mengucap kalimat-kalimat seperti tadi tanpa menghadirkan hati. Bagaimana bisa seorang mengharap menjadi kesayangan Allah, atau sekedar diterima shalat-nya jika ia mengucapkan “inni wajjahtu…dst” tapi fikiran dan hatinya sibuk di tempat lain. Ini wajahku wahai Tuhan yang welas asih, kutundukkan dihadapan-Mu dengan hati yang berdebar, adakah Dikau berkenan atas diri kecil, atas diri kerdil ini.

Beranikah kau (saya dan anda) berhadapan langsung dengan sang pemimpin Kiamat, sang empunya siksa, sang Maha welas asih, sang “Allahu Akbar” dengan sesuka hati. Ngupil ketika shalat, garuk-garuk pantat, mengantuk, batuk-batuk atau apapun hal remeh-temeh lain Beranikah? Tidak takutkah dengan-Nya? Belum cukup-kah firman yang berkata,4.Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, 5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

6. orang-orang yang berbuat riya (QS.Al-Maa’uun 4-6)

Fakta membuktikan betapa mereka shalat dengan rajin, hingga masa renta namun tidak beroleh apa-apa (atau mungkin bahkan celaka). Maka seyogyanya berhati-hatilah semua yang mengaku muslim ketika shalat, adakah shalat-nya hanya mendatangkan ‘celaka’ ataukah ‘maghfirah’ dan kecintaan dari-Nya. Wallahu ‘alam. 

Ayat ke-1 dan ke-3 Surah Al-Fatihah

Setelah takbiratul ihram, maka membaca surah Al-Fatihah. Apa yang menarik?Pertama bahwa kalimat basmallah yaitu “Bismillaahi rrahmaani rrahiim” itu adalah termasuk ayat ke-1 dalam surah Al-Fatihah. Sementara ayat keduanya adalah “Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin”. Baru dilanjutkan ayat ke-3 : “Arrahmaani rrahiim”.Pada surah-surah yang lain, kalimat “bismillahirrahmaani rrahiim” adalah merupakan kalimat pembuka (bukan bagian dari surah).Sekarang perhatikan artinya. “Bismillaahi rrahmaani rrahiim”. Arti sederhana-nya “Dengan menyebut Nama Allah yang Maha pengasih dan Maha Penyayang. Atau saya kadang memberi terjemahan bebas : Dengan menyebut Nama Allah yang begitu welas asih.

Intinya adalah bahwa Allah itu pemurah. Berbelas kasih, begitu baik, penyayang, welas asih.Sekarang perhatikan ayat ke-3 (ayat kedua tidak dibahas disini) : Arrahmaani rrahiim. Artinya sama persis : Maha Pengasih dan Maha penyayang. Welas asih.Kenapa diulang? Pasti bukan untuk memperbanyak jumlah ayat. Pasti bukan karena tidak ada bahasan lain. Pasti ada sesuatu (yang menarik).Mari kita berpaling sejenak ke cerita penciptaan manusia. Ketika itu Allah berfirman pada malaikat bahwa akan diciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dan kemudian, ketika tercipta Adam AS, Allah berfirman agar semua bersujud (bukan dalam konteks menyembah) kepada Adam. Kecuali Iblis. Kenapa ? Karena ia merasa lebih baik dari adam (iblis dari api, adam dari tanah). Merasa lebih dari yang lain disebut sombong atau angkuh. Itulah dosa pertama di jagad raya dan murka Allah yang pertama diketahui. Perhatikan bahwa dosa terbesar adalah menyekutukan Allah. Iblis tidak menyekutukan Allah. Iblis “sekedar” sombong. Ia hanya merasa lebih baik karena diciptakan dari api dibandingkan Adam AS yang diciptakan dari tanah. Sama halnya kita merasa lebih baik karena memiliki jabatan daripada yang jabatannya dibawah kita. Sombong yang sama ketika kita merasa lebih baik karena lebih pintar, lebih cantik, lebih ganteng, lebih kaya, dll sementara yang lain kurang pintar, kurang ganteng, dll.Saat Iblis menolak perintah Allah, maka Allah langsung mengharamkan surga baginya dan melaknat masuk ke neraka. Itulah murka Allah.Tidak berpuasa tanpa alasan padahal sudah jelas diperintah, maka secara logika sederhana itu sudah cukup bagi Allah untuk mengharamkan surga dan melaknat dengan neraka. Sedekah, shalat dan semua perintah lain akan seperti itu juga konsekuensinya. Tapi satu hal harus digaris bawahi, bahwa kasih sayang Allah melampaui murka-Nya. Itulah maka perlu diyakini bahwa Allah itu Ar Rahmaan Ar Rahiim.Allah begitu Maha kasih, sehingga boleh kita berharap kasih dan mesranya. Begitu Maha Penyayang sehingga boleh kita berharap disayang oleh-Nya.Maka hemat saya, perhatikan betul ketika kita membaca ayat ke-1 dan ke-3 surah Al-Fatihah. Pemahaman dihati saat membaca ayat ke-1 akan dimantapkan oleh pemahaman atas ayat ke-3. 

Maaliki yaumiddiin

Ayat ke-4 adalah : Maaliki yaumid diin yang berarti Penguasa hari pembalasan.Sekarang perhatikan kata yaum ad-diin (hari agama). Mengapa harus memakai ad-diin (agama)? Mengapa bukan yaumul hisab, atau yaumul qiyamah ? Ini yang jelas telah disesuaikan dengan konteks kalimatnya. Yang menjadi inti adalah bahwa yaum ad-diin lebih menegaskan bahwa hari kiamat merupakan hari dimana esensi agama menjadi begitu jelas sehingga tidak ada pertanyaan dan keraguan atas agama. 

Tentang Shirath Al-Mustaqiim

Shirath Al-Mustaqim senantiasa diartikan sebagai : Jalan yang lurus. Tafsir Al-Misbah menyatakan bahwa jalan yang dimaksud adalah bagaikan jalan tol.

Perlu diperhatikan bahwa Al-Fatihah adalah ummul kitab atau induk kitab atau ummul quran. Artinya adalah semua ayat Al-Fatihah merupakan intisari / ringkasan / resume Al-Quran secara keseluruhan. Maka, dalam kaitan dengan ini, Sirath Al-Mustaqim tidak lain dan tidak bukan ternyata adalah merupakan target point. Bila hidup, bayi, remaja, tua, mati kesemuanya merupakan checkpoint, maka shirath al-Mustaqim itulah target point. Destination (final point) adalah Surga dan keridhaan Allah.Sebagai target utama kehidupan, shirath mustaqim (jalan lurus) ini layak diperjuangkan. Apapun cara untuk bisa melewatinya dengan sempurna. Tapi seperti apa ciri dan kriteria shirath al-mustaqim ini ? Dijawab oleh ayat-ayat terakhir dengan sempurna yaitu :

  1. Jalan yang penuh nikmat didalamnya
  2. Jalan yang tidak dimurkai Allah SWT
  3. Jalan yang tidak sesat

 

Seluruh kriteria terpenuhi, maka itulah sirath al-mustaqim.Kata “Jalan” disini menurut hemat saya dapat berarti cara  Dalam bahasa inggris disebut “way” (bukan “road”). “The way of life” atau “where’s the will there’s the way” (dimana ada kemauan, disitu ada jalan) dalah pendekatan atas kata “jalan” yang bisa difahami sebagai cara. Maka ini maksudnya dengan cara apa kita menempuh kehidupan ini, jalan mana yang kita gunakan dalam mengarungi hidup ini. It’s all about the way, it’s all about the heart.Apa tujuan manusia hidup di dunia? Menjadi kaya? Menjadi sukses? Menjadi bahagia? Semua jawaban berujung di satu pintu yang bernama sirath al-mustaqim. Semua manusia menginginkan hidup yang penuh kenikmatan. Semua manusia tidak mau dimurkai Allah dan tentu tidak ingin tersesat. Maka bagi mereka yang sudah menikmati hidup (karena kaya, berpangkat, dll) perlu sadar bahwa 2 kriteria belum tercapai. Dan itu berbahaya.Bila jalan itu nikmat, maka itulah shirat al-mustaqim. Minuman keras juga nikmat, tapi itu dimurkai Allah, maka bukan shirath al-mustaqim. Bisa juga sudah nikmat dan juga sudah tidak dimurkai Allah, tapi ternyata sesat. Maka itu jelas juga bukan sirath al-mustaqim.

Tentang Surah Al-Ikhlas

Judul surah ini adalah Al-Ikhlas. Ikhlas berarti rela, ridho. Namun isi surah lebih merupakan penekanan atas ketauhidan Allah SWT.
Ada yang menyatakan bahwa membaca surah ini sebanyak 3 kali dengan tartil, maka ia sama dengan membaca seluruh Al-Quran. 

Adziim dan ‘A’laa

Ketika rukuk bacaannya adalah : “Subhaana Rabbiyal adziimi wa bihamdih”. Ketika sujud membaca : “Subhaana Rabbiyal a’laa wa bihamdih”. Beda tipis saja, tapi mengapa mesti diributkan?

Justru karena ini sangat esensial (paling tidak bagi saya sendiri).Mari kita lihat. Adziim berarti besar, sangat besar, super besar atau bisa juga dikatakan begitu hebat. Contoh kalimat adalah : Wallaahu dzuu fadhlin ‘adziim (QS.Al-Imran 174) artinya : Dan Allah mempunyai karunia yang begitu besar  

 

 Salam,

Penulis